Oleh: Seni

Mediaoposisi.com-Saat ini kesadaran umat akan pentingnya pergerakan menuju kebangkitan Islam semakin tinggi. Umat Islam, khususnya di Indonesia saat ini semakin sadar bahwa mereka berada dalam posisi serba tidak menguntungkan dan penuh tekanan. 

“Mayoritas rasa minoritas”. Mereka  sadar bahwa jalan menuju kebangkitan umat adalah dengan diterapkannya syariat Islam secara kaffah. Hal ini dapat kita lihat dari fakta bahwa saat ini kata khilafah tak lagi menjadi kata yang menakutkan. 

Tetapi sudah kembali menjadi milik umat Islam seluruhnya. Begitupun bendera tauhid yang semula identik dengan salah satu partai, namun kini ia juga telah kembali menjadi milik umat islam seluruhnya. Tentu ini adalah kemajuan yang sangat membahagiakan.

Di sisi lain kesadaran politik di tengah tengah umat semakin tumbuh. Terbukti dengan adanya aksi 212 dan juga ijtima ulama, di mana terlihat people power itu nyata adanya. Terlepas dari benar atau tidak jalan yang di tempuh, hal ini membuktikan bahwa sebenarnya umat islam itu memiliki daya untuk bangkit. 

Hanya saja jalan menuju kebangkitan itu tidak cukup hanya bermodalkan semangat dan kegigihan saja, tetapi juga harus benar fikrohnya, benar thariqahnya, benar ikatannya, dan benar pula pemahaman orang orang yang memperjuangkannya.

Umat Islam saat ini masih memiliki thariqah yang kabur. Mereka masih percaya bahwa demokrasi adalah satu satunya jalan logis saat ini menuju kebangkitan. Padahal tak sedikit dari mereka adalah orang orang yang tulus dan benar. 

Mereka memberikan berbagai pengorbanan untuk mendukung capres dan cawapres pilihan Ulama pada pemilu presiden 2019 lalu. Dimana pemilu tersebut merupakan pemilu yang paling banyak memakan korban sepanjang sejarah penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Dugaan kecurangan yang masif dan sistemik pun semakin menguat. 

Walau demikian umat masih berharap. Walau akhirnya umat harus menelan pil pahit ketika calon presiden yang mereka dukung, atas saran para ulama tersebut berkhianat dengan melakukan rekonsiliasi dengan pihak 01. Lalu dianggap apakah pengorbanan umat selama ini. Jerih payah mereka disia siakan begitu saja.

Dari sini, harusnya umat sadar bahwa demokrasi bukan jalan yang dapat mengantarkan pada kebangkitan islam yang hakiki. Karena bukankah yang kita semua inginkan adalah diterapkannya islam secara kaffah, bukan hanya sekedar memilih pemimpin mana yang lebih baik sikapnya terhadap islam. Cara ini hanya akan mengokohkan sistem demokrasi yang ada.

Tapi masalahnya bukan terletak pada ketidaktahuan umat terhadap bagaimana jalan kebangkitan yang telah Rasul SAW contohkan. Umat Islam kebanyakan berfikir bahwa situasi kondisi ini sangatlah berbeda dengan situasi kondisi saat di zaman Rasul SAW. 

Sehingga timbul keraguan dan lahirlah logika bahwa yang paling logis dilakukan saat ini hanyalah lewat demokrasi. Hal ini diperkuat dengan sikap para ulama yang meskipun mereka tahu betul bahwa demokrasi bertentangan dengan islam, tetapi masih menggantungkan harapan pada demokrasi. Tak peduli berapa kali demokrasi berkhianat. Ketika ulamanya masih berharap pada demokrasi, maka umat akan mengikuti jalan mereka.

Saya percaya bahwa para ulama ini adalah ulama yang lurus dan tsiqah. Mereka  melakukan ini semata mata karena rasa tanggung jawabnya yang tinggi terhadap umat dan agama ini. Saya tak meragukan sedikitpun akan luasnya ilmu mereka, Loyalitasnya terhadap Islam, Dan banyaknya pengorbanan yang mereka lakukan untuk Islam. 

Akan tetapi, seringkali jika seseorang melihat kondisi yang sangat chaos dan darurat, ia bisa saja mengambil keputusan yang salah, karena didorong kekhawatirannya yang besar terhadap nasib umat dan islam. Sedang para ulama juga manusia biasa, yang tidak terbebas dari kesalahan. Bisa saja ia melakukan tindakan yang salah meskipun didorong oleh niat yang tulus.

Ya benar, ulama juga manusia, bahkan sekaliber Umar bun Khatthab pun pernah melakukan kesalahan. Yakni ketika diawal awal kepemimpinan khalifah Abu Bakar ra. 

Yaitu setelah Rasul SAW wafat dan umat islam dilanda kesedihan yang mendalam. Pada saat itu terjadilah riddah, pemberontakan dari orang orang munafik. Banyak umat islam yang masih lemah keimanannya pada saat itu keluar dari Islam.

 Manakala bangsa Arab mendengar berita wafatnya Rasulullah saw, banyak dari mereka yang murtad. Gelombang orang-orang yang murtad ini menimbulkan ancaman besar di Jazirah Arab. Muncul juga orang-orang yang mengaku sebagai nabi. Bahkan mereka memobilisasi pasukan untuk memerangi umat Islam. Selain itu, juga ada gelombang mereka yang enggan mengeluarkan zakat.

Aisyah, Ummul Mukminin menggambarkan keadaan saat itu dengan ungkapan, “Tatkala Rasulullah saw wafat, orang-orang Arab kembali murtad secara besar-besaran dan kemunafikan pun merajalela. Demi Allah! Aku mendapat beban yang berat, seandainya ia menimpa gunung yang kokoh niscaya ia akan hancur lebur. 

Para sahabat Muhammad ibarat domba yang diguyur hujan lebat pada malam hari di suatu kebun yang berada di tengah-tengah padang yang dipenuhi binatang buas.”

Sebelum wafatnya Rasulullah saw  telah mengirimkan satuan perang untuk memerangi Romawi di daerah Balqa’ dan Palestina. Sebagian anggota pasukan itu adalah para senior orang-orang Muhajirin dan Anshar yang dikomandani oleh Usamah bin Zaid.

Mobilisasi pasukan Usamah bin Zaid ini terhitung sebagai satuan perang ketiga yang dipersiapkan Rasulullah saw dalam menghadapi Romawi setelah Mu’tah (8 Hijriah) dan Tabuk (9 Hijriah).

Ketika sakit Rasulullah saw semakin parah, pasukan Usamah bin Zaid masih berjaga-jaga di Jurf, suatu tempat berjarak tiga mil dari Madinah ke arah Syam. Mereka kembali ke Madinah ketika Rasulullah saw wafat, lalu kembali lagi ke Jurf.

Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq menjabat khalifah, ia memerintahkan salah seorang pada hari ketiga wafatnya Rasulullah untuk mengumumkan di tengah-tengah manusia, “Pengiriman pasukan Usamah harus segera dilaksanakan, dan ingatlah bahwa tidak seorang pun anggota pasukan Usamah yang boleh tinggal di Madinah. Mereka harus pergi ke markas pasukan Usamah di Jurf.”

Sebagian sahabat mengusulkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq agar membatalkan pemberangkatan pasukan Usamah bin Zaid. 

Mereka beralasan bahwa orang-orang Arab sedang bersiap-siap menyerang Madinah, sementara yang ikut bersama Usamah bin Zaid adalah mayoritas kaum muslimin. Mereka khawatir terhadap keselamatan khalifah, kehormatan Rasulullah, dan serta seluruh kota dan penduduk Madinah.

Usamah bin Zaid pun yang saat itu sedang berada di Jurf mengutus Umar bin Khaththab kepada Abu Bakar agar diizinkan kembali ke Madinah dengan alasan yang sama. Akan tetapi Abu Bakar tidak menyetujuinya dan tetap pada pendiriannya untuk memberangkatkan pasukan Usamah.

Bahkan ia berkata, “Demi Zat yang jiwa Abu Bakar berada di tangan-Nya! Sekiranya aku yakin ada binatang buas yang akan menerkamku, sungguh aku akan tetap melaksanakan pengiriman pasukan Usamah seperti yang diperintahkan Rasulullah saw. Seandainya tidak tersisa di negeri ini selain diriku, sungguh aku tetap akan melaksanakan perintah itu.”

Sementara itu, orang-orang Anshar menuntut agar pasukan tersebut dipimpin orang yang lebih tua dari Usamah yang disampaikan Umar bin Khaththab kepada Abu Bakar.

Menanggapi usulan itu, Abu Bakar lantas berkata kepada Umar, “Celakalah engkau wahai putra Khaththab! Rasulullah telah mengangkat Usamah (sebagai komandan pasukan), tetapi mengapa engkau menyuruhku membatalkannya.”

Secara logika tentu pendapat Umar ra dan para sahabatlah yang benar. Bukankah lebih baik menjaga keamanan dalam negeri dahulu,  lalu setelah kondisi dalam negeri aman, baru mengirim pasukan ke luar Jazirah Arab. 

Menurut logika  juga tentu pendapat Umar ra lah yang lebih masuk akal, dengan mengganti Usamah bin Zaid sebagai komandan pasukan, bahkan Usamah sendiri pun sependapat dengan Umar ra. Bukankah masih banyak sahabat lain yang lebih tua usianya dan tebtu lebih banyak pengalamannya?

Tetapi tidak dengan logika Abu Bakar. Logika Abu Bakar adalah ketika Rasul saw telah memutuskan, maka tak ada kata kompromi, itulah yang harus dilaksanakan. Tapi tentu kita tidak akan menyalahkan Umar dan para shahabat, karena mereka melakukannya atas dasar tanggung jawab mereka yang tinggi terhadap nasib Islam yang baru saja berdiri. 

Di dorong kekhawatiran yang besar melihat kondisi yang darurat. Abu Bakar pun membuat keputusan bukan semata mata karena ia merasa ia adalah pemimpin. Ia memutuskannya karena ini adalah perkara yang sudah sangat jelas, yaitu perintah Rasul SAW yang harus dilaksanakan. Lalu bagaimanakah kisah selanjutnya.

Maka pemberangkatan pasukanpun tetap dilakukan, Abu Bakar sendiri yang mengantar Usamah hingga ia berada di atas pelana kudanya. Pasukan kaum muslimpun mendapat kemenangan. Lalu para pemberontak, ketakutan dan keraguan meliputi mereka. 

Menurut mereka, tak mungkin daulah islam itu sedang lemah, kalau lah memang sedang lemah tidak mungkin daulah mengirim pasukan perang ke Romawi. Maka untuk sementara mereka pun mengurungkan niatnya untuk melakukan pemberontakan.

Ada banyak ibroh yang bisa kita ambil dari kisah diatas. Terkadang secara logika ada pilihan yang lebih baik untuk saat ini, dari pada tetap berada pada thariqah yang telah digariskan oleh Rasul saw. Secara logika tak sampai pemahaman kita bagaimana cara mencapai kemenangan tanpa melalui jalan demokrasi. 

Secara logika tak mungkin terwujud kemenangan, karena kondisi saat ini berbeda dengan zaman Rasul saw. Tapi tugas kita sebagai hamba adalah bergerak di jalan yang telah Allah tetapkan.
Sedangkan yang harus kita yakini adalah Allah yang akan menghantarkan umat ini pada kemenangan dengan jalan yang mungkin tak ada seorangpun yang menyangka. 

Seperti ketika kebangkitan itu dimulai di Madinah, dengan tegaknya daulah islam pertama di sana. Dan kemenangan itu tidak mungkin dicapai kecuali caranya harus benar. Masalah hasil adalah urusan Allah semata. Allah tak akan mempertanyakan hasil, tetapi yang akan ditanya adalah apa saja yang telah dilakukan hambanya untuk islam. 

Mungkin jalan yang ditempuh oleh Rasul saw terlihat sulit atau malah tidak mungkin, maka butuh kesabaran yang besar. Jalan inilah yang akan menyeleksi siapa siapa saja yang berjuang tulus karena Allah, atau berjuang untuk kekuasaan. Karena orang yang hanya ingin kekuasaan tak akan sabar meniti jalan ini.

Kemudian, melihat kisah diatas, kita semakin yakin bahwa khalifah adalah penghilang semua perselisihan di antara umat. Perbedaan pendapat tak dilarang di dalam islam asal tidak keluar dari koridor syara. Tetapi pada akhirnya khalifahlah yang memutuskan semua perkara. Hal ini meredam segala perselisihan, mempersatukan umat. [MO/vp]

Posting Komentar