Oleh : Dina Evalina
Aktivis Dakwah

Mediaoposisi.com-Hidup di Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah, tersemat harapan yang bergelora dalam dada rakyatnya untuk merasakan hidup yang makmur dan sejahtera. Kebutuhan hidup terjangkau, lapangan pekerjaan tersedia dimana-mana, pelayanan kesehatan dijamin oleh negara, pendidikan gratis bagaimana seluruh warga, keamanan selalu menghiasi suasana dan keadilan ditegakkan dengan bijaksana.

Faktanya, harapan tinggal lah angan-angan hampa yang tak kunjung terwujud nyata. Kekayaan Alam yang dimiliki Indonesia nyatanya dikuasai oleh pihak luar sana. Dengan ambisi yang buas mencengkeram ke berbagai pelosok Nusantara. Tak puas hanya merampok Sumber Daya Alam Indonesia, namun juga menanamkan ideologi mereka sebagai strategi untuk terus berkuasa.

Sehingga begitu miris kondisi Indonesia saat ini. Tujuh Puluh Empat Tahun Indonesia merdeka namun belum dapat keluar dari jurang nestapa. Keterpurukan bahkan telah hampir merasuk ke seluruh aspek kehidupan negeri ini. 

Tercatat dalam liputan6.com, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir triwulan II 2019 tercatat sebesar USD 391,8 miliar atau Rp 5.601 triliun (Rp 14.296 per Dolar AS), yang terdiri dari utang pemerintah dan Bank sentral sebesar USD 195,5 miliar, serta utang swasta (termasuk BUMN) sebesar USD 196,3 miliar. ULN Indonesia tersebut tumbuh 10,1 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 8,1 persen (yoy).

Ditambah dengan terjadinya defisit APBN yang mencapai Rp127,5 triliun atau setara dengan 0,79 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir Mei 2019. Neraca perdagangan melengkapi defisit yang terjadi pada perekonomian Indonesia akhir-akhir ini. 

Selain ini, permasaalg seperti kemiskinan yang telah lama bersarang pada kehidupan masyarakat Indonesia belum dapat diatasi. Angka kemiskinan Indonesia per Maret 2019 tercatat sebesar 9,41%. Angka tersebut setara dengan 25,14 juta orang. Angka pengangguran pun masih tergolong tinggi, sementara Tenaga Kerja Asing leluasa bekerja di negeri ini.

Selain itu, pergaulan bebas semakin marak pada tahun 2018 Komnas Perlindungan Anak (KPAI) berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan melakukan survei di berbagai kota besar di Indonesia menyatakan sebuah data, "62,7% remaja di Indonesia melakukan hubungan seks di luar nikah. Maa dapat dikatakan Indonesia saat ini darurat seks bebas.

Dan berita yang tak kalah mengejutkan terjadinya Kerusuhan di kota Manokwari, Papua Barat, pada Senin 19 Agustus 2019. Sejumlah ruas jalan diblokir, pembakaran ban dilakukan oleh massa. Diduga kerusuhan ini buntut dari kejadian yang terjadi di Surabaya, Malang dan Semarang.

Rentetan permasalahan yang setia menghiasi kondisi negeri ini. Merupakan hasil dari diterapkannya Sistem rusak yang diimpor dari barat. Sistem Sekuler Kapitalis yang menjauhkan peran Tuhan dalam membuat berbagai kebijakan sehingga menjadikan akal manusia yang lemah dan hawa nafsunya sebagai sandaran dalam membuat kebijakan. 

Kebijakan diambil dari suara mayoritas dari para wakil rakyat tanpa mempedulikan benar atau salahnya suatu keputusan. Sistem ini meniadakan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan, karena kepentingan para Kapitalislah yang akan diutamakan.

Sistem yang diemban dan dijajakan oleh negara adidaya di dunia ini akan senantiasa mencengkeram serta menghancurkan secara perlahan negara-negara jajahannya. 

Mengikat negara jajahan dengan menjerat aspek ekonomi dan politiknya, mengeruk kekayaan Alamnya, menghancurkan pemikiran manusia agar tidak menyadari penjajahan yang terus negara adidaya lakukan. Sehingga menjadi hal yang wajar, rezim yang menjadi antek penjajah akan memuluskan langkah para penjajah mencengkeram negeri ini.

Rezim antek penjajah akan bersikap represif terhadap masyarakat yang menyuarakan kebenaran, represif kepada masyarakat yang menawarkan solusi Islam atas seluruh permasalahan karena memang tabiatnya Sistem Sekuler yakni tidak akan memberi ruang kepada Agama untuk mengatur sendi kehidupan. 

Musuh sejati Sistem Sekuler adalah Sistem Islam. Sistem Islam yang memiliki aturan-aturan sempurna yang sangat bertentangan dengan Sistem Sekuler. 

Jika Islam melandaskan segala aturan kepada Hukum-hukum Allah sementara Siatem sekuler justru meniadakan peran Allah.

Berbagai macam cara dilakukan dimana hal tersebut direalisasikan oleh rezim antek penjajah dalam membendung opini Islam tersebar luas di masyarakat. 

Dengan kekuasaan yang dimiliki, rezim membuat peraturan yang menyudutkan ajaran-ajaran Islam sebagai penentang ideologi bangsa. Sebut saja Khilafah, beberapa tahun terkahir Kata Khilafah menjadi perbincangan panas, hampir di seluruh lapisan masyarakat.

Sebagian besar masyarakat membuka diri dengan ide khilafah, bahkan mendukung dan berjuang untuk tegaknya, namun berbanding terbalik dengan sikap yang ditampilkan rezim  yang begitu represifnya melemparkan opini-opini keji tentang Khilafah kepada masyarakat. 

Khilafah disebut sebagai pemecah belah negara, mengancam persatuan masyarakat Indonesia dan sebagainya. Tuduhan tak beralasan begitu gencar rezim jajakan yang sejatinya untuk menjaga Sistem Sekuler kapitalis tetap hidup di negeri ini. 

Menjadi penjaga eksistensi Sistem Sekuler Kapitalis memberikan mereka keuntungan berupa kekayaan dan kekuasaan meskipun kesejahteraan rakyat harus dikorbankan.

Khilafah yang merupakan ajaran Islam, sedangkan Islam berasal dari Allah SWT yang menciptakan seluruh munusia di muka bumi, yang Maha Mengetahui seluk beluk manusia, mengetahui baik buruknya kondisi manusia, mengetahui yang telah lalu dan yang akan terjadi di masa depan, sehingga menjadi satu-satunya yang berhak dalam membuat peraturan-peraturan hidup manusia. 

Islam telah Allah turunkan secara sempurna melalui Rasulullah SAW, berisi seperangkat aturan yang mampu menjadi solusi atas seluruh kehidupan manusia. Menjadi hal yang tidak logis ketika menerapkan Islam sebagai jalan hidup manusia akan menghancurkan manusia itu sendiri.

Penegakan Khilafah adalah kewajiban dari Allah SWT, karena dengan adanya Khilafah seluruh syariat Allah akan mampu diterapkan secara sempurna dan menyeluruh. 

Dengan diterapkannya syariat Islam akan mampu menjaga kemuliaan, menjaga harta, aqidah, memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis, mewujudkan kesejahteraan rakyat, memberikan keamanan dan keadilan. Semua itu diperuntukkan tak hanya bagi kaum Muslimin namun juga bagi orang-orang kafir dzimmi.

Dengan adanya khilafah akan menyatukan negeri Islam yang telah terpecah belah akibat nasionalisme, akan mengusir para penjajah beserta antek-anteknya, merebut kembali kekayaan Alam negeri dari tangan para kapital untuk dikelola negara secara maksimal dan profesional kemudian dikembalikan kepada rakyat seluruh hasilnya. Hal ini lah yang menjadi ancaman besar bagi negara adidaya serta para anteknya. [MO/vp]

Posting Komentar