Oleh: Mochamad Efendi 
(Pengamat dari el-Harokah Research Center)

Mediaoposisi.com-Sekali lagi HTI dijadikan kambing hitam atas penyebab kualitas pendidikan di Indonesia yang masih jalan di tempat. Imdadun Rahmat, DIREKTUR Said Aqil Siraj Institut, manyatakan bahwa masih adanya ideologi HTI yang membawa paham khilafah membuat beberapa mahasiswa menyelami paham tersebut dan tidak mempelajari ilmu sesuai pendidikan yang ia tempuh di perguruan tinggi. (https://m.mediaindonesia.com/read/detail/254881-kualitas-pendidikan-mandek-gara-gara-terpapar-radikalisme)

Jelas pernyataannya ini tidak berdasarkan fakta empiris tapi hanya asumsi karena kebenciannya yang mendalam pada HTI. Dia mengkaitkan kegagalan mahasiwa dalam memahami ilmu yang sedang dipelajari dengan ajaran Islam. Tidak masuk akal seorang mahasiswa kehilangan fokus dalam mempelajari bidang ilmunya, hanya karena dia mempelajari khilafah. 

Islam dan Ilmu pangetahuan tidak bertentangan. Bahkan Islam mendukung setiap muslim untuk mendalami satu bidang Ilmu sampai pada taraf ahli. Jadi tuduhan yang tidak berdasar bahwa mempelajari ajaran Islam akan menurunkan semangat belajar terutama pada mahasiswa di perguruan tinggi.

Mahasiswa memiliki kemampuan lebih dalam mengkaji dan menganalisis sesuatu secara mendalam. Kemampuan ini akan terasah tajam jika diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan hasil pemikirannya. Diskusi terbuka akan lebih mengasah ketajaman pemikiran mereka. 

Mereka jangan ditakuti dan diancam terpapar radikalisme karena ketakutan hanya akan menumpulkan pemikiran mereka. Sebaliknya, pemikiran mereka akan tajam dan berkembang jika mereka diberi ruang dan kesempatan untuk menyampaikan buah pikirannya.

Ancaman dan doktrin serta persekusi yang terjadi di kampus hanya akan membunuh kreatifitas mahasiswa. Biarkan mahasiswa berkreasi tanpa ada ancaman dan ketakutan yang  seharusnya dihindari pada pendidikan di perguruan tinggi

Tapi yang terjadi, rezime saat ini, sering mengintervensi kampus. Bagaimana kampus menjadi cerdas jika pemikiran mereka dikebiri sehingga tidak berani menyampaikan yang benar berdasarkan kepakarannya. Tentu kita ingat apa yang menimpa prof. DR. Suteki yang merupakan pakar Pancasila dianggap tidak pancasilais hanya karena dia berani menyampaikan yang benar saat menjadi saksi ahli pada sidang pencabutan BHP HTI.

Apakah jika seorang yang mendalami ilmu kimia tidak boleh mempelajari ajaran Islam? Jelas ini bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya. 

Untuk mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya, agama tidak boleh ditinggalkan dalam proses pendidikan. Manusia seutuhnya tidak hanya ahli dibidang Ilmu yang dipelajari, tetapi dia unggul dalam kepribadiannya. Islam telah menghasilkan Ilmuwan yang luar biasa bahkan dijadikan rujukan sampai sekarang bukan karena dia meninggalkan agamanya.

Contohnya, satu ilmuwan muslim besar yang dikenal sebagai “the father of modern chemistry”. Jabir Ibn Hayyan, merupakan seorang muslim yang ahli dibidang kimia, farmasi, fisika, filosofi dan astronomi. 

Jabir Ibn Hayyan (yang hidup di abad ke-7) telah mampu mengubah persepsi tentang berbagai kejadian alam yang pada saat itu dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat diprediksi, menjadi suatu ilmu sains yang dapat dimengerti dan dipelajari oleh manusia.


Penemuan-penemuannya di bidang kimia telah menjadi landasan dasar untuk berkembangnya ilmu kimia dan tehnik kimia modern saat ini. Jabir Ibn Hayyan-lah yang menemukan asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat, tehnik distilasi dan tehnik kristalisasi. Dia juga yang menemukan larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas. ((https://biografiku.com)

Jadi salah besar jika ingin profesinal di satu bidang ilmu harus menanggalkan identitasnya sebagai seorang Muslim. Kewajiban setiap Muslim untuk mempelajari Islam dan mendakwahkannya pada yang lain. Dan malah bahaya jika seorang aristokrat dan teknokrat yang tidak memiliki dasar agama yang kuat. 

Ilmu yang dimiliki tidak akan bermanfaat bahkan negara akan dirugikan oleh orang-orang yang meninggalkan agama saat mengambil keputusan besar. Banyak korupsi dilakukan bukan oleh orang-orang bodoh, tapi orang-orang pintar tapi tidak mau diatur dengan syariatNya dalam kehidupan. Banyak pula kebijakan diambil bukan oleh orang-orang bodoh tapi mereka menggunakan kepintarannya untuk membodohi rakyatnya.

Jadi salah besar jika negara akan dirugikan oleh orang-orang yang mengkaitkan setiap pemikiran dan perbuatannya dengan ajaran Islam. Ajaran Islam yang terinternalisasi dalam diri seseorang akan menjadi satu pribadi khas yakni sosok dengan kepribadian Islam. 

Dia akan amanah dalam menjalankan tugasnya. Dia tidak mungkin melakukan kecurangan dan korupsi hanya menumpuk kekayaan untuk dirinya sendiri.

Jadi jelas bahwa negara dirugikan bukan oleh orang-orang bodoh, tapi mereka yang meninggalkan agama saat menjalani kehidupan. Pemahaman sekularisme yang telah membuat kwalitas pendidikan di Indonesia Mandek, jalan ditempat bukan karena HTI yang selalu menyeru hanya pada ajaran Islam tanpa ragu. HTI yakin bahwa Islam adalah satu-satunya solusi fundamental. Sebaliknya demokrasi adalah sumber dari segala masalah yang ada di negeri Indonesia ini. [MO/vp]



Posting Komentar