Oleh : Jannah Ummu Farha
( Member Pena Muslimah, Bogor )
Mediaoposisi.com-Masih ingat dengan kasus Munirman, Kades asal Aceh yang mendekam di penjara akibat penemuannya yang menuai manfaat bagi petani Aceh, yakni, pengembangan bibit padi IF8? Atau, kilas balik beberapa tahun silam, 2015, Muhammad Kursin, sang perakit Tv lokal, yang sama-sama mendekam di penjara akibat penemuannya, meski telah mengajukan ijin 'pembuatan' kepada Pemerintah? Alasan Pemerintah menahan mereka sederhana, masalah ijin hak paten produk yang ditemukan.
Demikian pula penemuan fenomenal di tahun 2008, Blue Energy atau Bahan Bakar Air yang dibiayai secara mandiri oleh sang penemu, Joko Suprapto. Ia pernah dikabarkan diculik akibat penemuannya itu, meski pada akhirnya dibantah oleh Joko sendiri, namun penemuannya setelah itu menjadi 'hening' dari hiruk pikuk pemberitaan, bahkan tenggelam begitu saja tanpa ada ketindak lanjutan.
Padahal, niat beliau menemukan energi alternatif itu demi kemaslahatan manusia di tengah kondisi 'krisis energi' yang membuat harga BBM terus meroket tanpa kendali. Juga Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN, gegara mobil listrik yang diuji cobakannya mengalami kegagalan, ia lantas dijerat KPK dengan dalih merugikan negara.
Begitu juga penemu bahan bakar dari sampah plastik, mulai dari kalangan Mahasiswa hingga orang biasa, yang tak mendapat apresiasi apapun dari Pemerintah, di tengah kondisi buruknya penanganan sampah plastik yang kian merusak lingkungan.
Sebut saja Hamidi, di tahun 2014 berhasil menyempurnakan riset mandirinya, mengubah sampah plastik di TPA Rawa Kucing Tangerang menjadi BBM sejenis solar dan premium, tiba-tiba harus berhenti mengembangkan risetnya, menunggu apresiasi dari Pemerintah, semisal untuk mematenkan temuannya.
Realita di negeri ini tak kekurangan kreatifitas anak negeri, namun sayangnya hasil dari kreatifitas mereka itu tak dapat dinikmati khalayak umum. Memperhatikan sebabnya, dari sekian kasus di atas, mereka berbenturan dengan regulasi hak paten dari Pemerintah itu sendiri.
Alih-alih, Pemerintah sebagai pelayan rakyat, memudahkan bahkan membimbing mereka untuk mendapatkan hak paten itu, beberapa diantaranya malah dibekuk kepolisian dan mendekam di penjara. Ironisnya, yang menyuruh pelaporan ke polisi itu ada yang datang dari Pemerintah itu sendiri.
Munirman misalnya, usut demi usut, Menteri Pertanian lah yang berperan utama dalam proses penangkapannya, sebagaimana yang dirilis oleh Bisnis.com. A. Hanan, Ketua Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, yang memulai pelaporannya berdalih bahwa hal itu dilatarkan oleh perintah sang Menteri Pertanian. 
Yang menjadi alasan Pemerintah enggan mengayomi para penemu menuju hak paten atas temuan mereka tentunya menjadi tanda tanya besar. Padahal penemuan itu sangat memberi manfaat untuk masyarakat.  Pemerintah seolah tutup mata dari manfaat yang disemai, yang ada malah membuat jera para penemu dan memborgol tangan kreatif mereka.
Begitulah karakteristik pemerintahan yang neolib kapitalistik. Kebijakannya disandarkan pada keuntungan bisnis belaka. Pemerintah neolib kapitalistik yang menyukai impor beras gila-gilaan, tentunya akan kebingungan dengan hadirnya pesaing cantik dari Aceh, benih IF8 hasil pengembangan Munirman.
Konon benih ini mampu menghasilkan gabah hingga 12 ton per hektar, jumlah yang hingga 2x lipat dari benih lainnya. Ditambah lagi, benih ini tidak disukai burung dan tikus, serta rasanya yang pulen.
Wajar jika si pesaing cantik ini menjadi sasaran 'borgol', sebab bisa bahkan sangat bisa membahayakan posisi korporasi Pemerintah dengan importir beras asing yang tahun lalu, sempat memasukkan 500 ribu ton beras dengan dalih petani lokal gagal panen.
Lalu, dengan contoh keberhasilan gilang gemilang para petani Aceh yang mampu menggoyang korporasi itu, maka wajarlah jika ada yang kebakaran jenggot karenanya.
Seyangnya, Sang Pelayan Rakyat itu membimbing dan mengayomi bahkan mengapresiasi setinggi-tingginya setiap tangan kreatif yang mampu memberi maslahat bagi khalayak. Bukan malah memborgolnya, mematikan kreatifitas dan membekukan inovasi.
Pada akhirnya hanya ada stagnasi peradaban atau mungkin kemunduran. Inikah yang diinginkan oleh Pemerintah neolib kapitalistik? Bagi mereka, yang penting adalah korporasi bersama kaum kapitalis raksasa yang menghasilkan keuntungan secara pribadi, bukan kemaslahatan masyarakat.
Dari sini, faham lah kita teramat jauh perbedaan antara negara yang mengemban Kapitalisme dengan Khilafah yang mengemban sistem Islam. Adapun dalam negara Khilafah, Khalifah adalah Pelayan rakyatnya, bukan kaki tangan kaum kapitalis. 
Dari Ibn Umar ra. Dari Nabi saw, beliau bersabda: “ Kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian. Seorang penguasa adalah pemimpin, seorang suami adalah seorang pemimpin seluruh keluarganya, demikian pula seorang isteri adalah pemimpin atas rumah suami dan anaknya.Kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungtawaban atas kepemimpinan kalian”.(HR. Bukhari dan Muslim)
Kholifah wajib mengapresiasi setiap kreatifitas warga negaranya sebagai salah satu bentuk pemeliharaannya terhadap kemaslahatan rakyat. Apresiasi ini telah termaktub dengan jelas dalam hadis Rasulullah SAW. " Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain ". (HR. Ahmad, Thabrani)
Adapun contoh riil pada Kekhilafahan masa lalu, adalah dengan menjamurnya hasil karya ilmuwan hebat yang hingga kini temuannya terus memberi maslahat. Katakanlah, Ibnu Sina, karyanya menjadi panduan kedokteran modern.
Di bidang matematika, konsep aljabar  dan algoritma ternyata berasal dari ilmuwan Al Khawarizmi. Sementara itu, ahli kimia pertama yang menemukan asam sulfat dan alkali adalah Ibnu Hayyan, dan masih banyak lagi deretan nama ilmuwan muslim yang lahir dan besar di era Kekhilafahan Islam, yang karyanya telah memajukan peradaban manusia dan maslahatnya terus disemai hingga saat ini.
Jadi, setelah anda tahu bedanya negara yang menganut sistem Kapitalisme dengan negara Khilafah yang menganut sistem Islam, dimana Kapitalisme justru mengungkung inovasi, berseberangan dengan Khilafah Islamiyyah yang justru melejitkan inovasi, sistem dan negara manakah yang anda pilih?
Wallahu A'lam bi as showwab. [MO/sg]

Posting Komentar