Oleh: Irohima

Mediaoposisi.com-Bersiaplah dalam menghadapi  investor asing, karena tak lama lagi para investor asing akan semakin ramai membanjiri Indonesia.Terkait dengan pernyataan Presiden Jokowi dalam pidatonya di Sentul International Convention Center Bogor, Jawa Barat ,14 juli 2019 yang menyatakan akan membuka lebar pintu masuk bagi investor asing dalam rangka membangun perekonomian negara dan membuka lapangan pekerjaan seluas - luasnya. Sehingga masyarakat dihimbau agar tak anti dan alergi terhadap investasi asing.

Menurut catatan Badan Koordinasi Penanaman  Modal ( BKPM) realisasi investasi triwulan l tahun 2015 mencapai 195,1 trilyun, Naik 5,3%  dibanding periode yang sama tahun 2018 yaitu 185,3 trilyun. 

Dengan rincian investasi dalam negeri sebesar 87,2 trilyun, dan Penanaman Modal asing 107,9 trilyun dengan melihat bahwa investasi luar akan mendatangkan keuntungan maka,

Presiden Jokowi pun akan memangkas segala jalan yang bisa menghambat investasi asing seperti perizinan yang lambat hingga adanya pungutan liar, serta memastikan jika ada pejabat yang tidak bisa  berkoordinasi akan turut dipangkas juga. Intinya seluruh birokrasi dan prosedur bagi investor asing akan semakin di permudah.

Hadirnya investasi dalam bentuk penanaman modal asing di sebuah negara pada dasarnya memiliki dampak negatif yang besar dan beresiko ketimbang dampak positifnya, meski banyak pihak yang menganggap Penanaman Modal asing dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi, namun penguasaan asing terhadap sumber daya alam milik suatu negara akan berbahaya bagi kemandirian Dan kedaulatan suatu negeri.

Dalih yang dikemukakan pemerintah akan manfaat investasi yang bisa menyehatkan perekonomian dan membuat lapangan kerja seluas - luasnya, pada faktanya saat ini, ditengah ramainya investor asing berebut menanam modal namun  disisi lain  justru jumlah  pengangguran semakin meningkat. PHK terhadap ribuan pekerja kerap terjadi diberbagai perusahaan. Adanya investasi yang bisa menyerap tenaga kerja sebanyak - banyaknya hanya jadi sebuah  wacana.

Investasi besar - besaran yang terjadi di Indonesia tak terlepas dari adanya magnet penarik berupa potensi sumber daya alam Indonesia yang begitu besar hingga menarik siapapun untuk mengeruk keuntungan.

Investasi asing mulai masuk ke Indonesia pada era order baru, perkembangan arus Penanaman Modal asing begitu pesat terjadi antara periode 80-an dan mengalami akselerasi sejak tahun 1994. 

Saat itu di era suharto Penanaman Modal asing adalah salah satu faktor yang dianggap penting dalam pembangunan negara saat krisis ekonomi tahun 1997 melanda. Indonesia menjadi salah satu tujuan utama dan penerima arus Penanaman Modal asing terbesar di dunia.

Saat krisis tahun 1997 dan jatuhnya rezim order baru , investasi yang masuk ke Indonesia turun secara drastis. Salah satu penyebabnya karena situasi Politik yang tidak kondusif saat itu. Namun dalam kondisi  nilai tukar rupiah anjlok serta angka kemiskinan dan pengangguran naik tetap saja tak menurunkan minat para investor asing datang ke Indonesia. 

Dalam laporan World Investment Report 2015, menunjukkan bahwa Asia bagian timur ( Asia timur Dan Tenggara) adalah salah satu wilayah tujuan investor asing terbesar di dunia. Beberapa negara asal Penanaman modal asing adalah.

1.China dengan porsi 17%
2.jepang dengan pors 15%
3.thailand 12%
4.korea selatan 12%
5.Singapore 10%
6.Amerika Serikat 10%

Tak mengherankan jika investor asing tetap bersikukuh menanamkan modalnya di Indonesia, meski dilanda krisis namun naluri para kapitalis begitu tajam melihat potensi SDA yang berlimpah serta banyaknya peluang meraih keuntungan yang membuat Indonesia bernilai jual tinggi.

Investasi asing berarti mendorong pemilik bisnis asing dari luar negeri datang dan mendirikan bisnis di negeri ini namun tanpa menyiapkan investasi dalam negeri serta memperhatikan kepentingan rakyat banyak tentu akan mematikan perekonomian rakyat secara perlahan. 

Tanah, air dan manusia dinegeri ini hanya akan memperoleh upah dan sewa serta dimanfaatkan secara signifikan oleh business owner asing. 

Apalsgi jika industri sektor primer seperti pangan, energi dan air disodorkan pada pihak asing maka rakyatlah yang akan kena imbasnya. Rakyat hanya akan jadi budak di negeri sendiri karena investasi sejatinya adalah kedok, juga merupakan bentuk lain dari penjajahan. 

Karena kebijakan investasi asing membuat para pemilik modal menguasai segenap aset sumber daya alam Indonesia.

Seperti fakta yang bisa Kita lihat,    Freeport yang merupakan perusahaan asing pertama yang masuk ke Indonesia mempunyai saham yang dikuasai Oleh Freeport Mc.Moran Cooper & Gold Inc Sebesar 81,28%.

Sisanya dikuasai Oleh PT.Indocopper Investment Corporation sebanyak 9,36%, Indonesia 9,36% . Freeport menguasai hampir 178.000 ha area  di gunung Tembaga pura di Timika Papua. Sejak tahun 1995, sudah 2 milyar ton emas  diambil dan diangkut ke AS dan keuntungan mereka mencapai US$6,255 milyar, setelah Tembaga dan emas habis, menyusul uranium yang mereka tv yanh punya harga lebih mahal dari emas. 

Gunung salak dan gunung ceremai di jawa barat pun dikuasai PT . Chevron,gunung pongkur dikuasai PT.Antam , belum lagi Danone , sebuah perusahaan multinational raksasa yang menguasai sebagian besar saham aqua yang menyebabkan kekeringan sejumlah mata air di Indonesia seperti sukabumi dan klaten, akibatnya masyarakat sekitar sulit mendapat akses air bersih. 

Itu adalah contoh betapa investasi asing hanya menguntungkan negara pemilik modal, SDA Indonesia di ekploitasi hanya untuk memenuhi kebutuhan industri negara maju seperti Amerika, Inggris, Australia, Jepang dan Cina.

Data BPK mencatat dominasi asing di sektor migas sebanyak 70%, batubara, bauksit, Nikel Dan Timah 75%, Tembaga Dan emas 85%, perkebunan sawit 50%. Ini menunjukkan bahwa lemahnya posisi Indonesia dalam melindungi aset penting negara. Sistem kapitalisme telah membuat negara tak berdaya.

Dalam Islam, segala macam bentuk investasi yang membahayakan negara akan dilarang. Syariah Islam telah memiliki aturan yang pasti. Alquran Dan Sunnah telah memberikan koridor bahwa kepemilikan dalam pandangan ekonomi Islam dibagi menjadi 3, yaitu kepemilikan individu, umum Dan negara. 

Khusus kepemilikan umum yang meliputi pertambangan besar seperti minyak, batubara, gas Dan wajib dikelola oleh negara untuk didistribusikan kepada pemilik nya yang hakiki yaitu rakyat secara adil dan merata, langsung atau tidak langsung. Kepemilikan umum tdak boleh berpindah kepemilikan kepada negara , swasta atau asing. 

Islam sangat jelas melarang adanya intervensi asing dalam pengelolaan sumber daya alam, karena bisa mengancam ketahanan, kestabilan dan kedaulatan negara. sumber daya alam yang merupakan sumber pendapatan negara untuk urusan kemaslahatan umat tentu akan dijaga dan diatur pengelolaan nya sesuai syariah Islam yang terbukti mampu menjadikan negara mempunyai ketahanan serta kestabilan perekonomian tanpa ada intervensi asing. Wallahualam bishawab [MO/vp]

Posting Komentar