Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
(Member Komunitas Menulis Revowriter)
Mediaoposisi.com-Kembali Pemerintah memastikan kenaikan iuran kepesertaan BPJS Kesehatan. Kenaikan iuran tersebut  akan berbeda-beda di setiap kelas. Perbedaan nominal kenaikan untuk masing-masing kelas akan ditentukan sesuai hasil hitung-hitungan pemerintah beserta evaluasinya.
Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo menegaskan kenaikan iuran berlaku untuk seluruh kelas, termasuk peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) atau mereka yang ditanggung negara. Namun, persentase atau nominal kenaikan iuran akan mengacu, antara lain jumlah peserta di masing-masing kelas, dan status peserta, misalnya PNS atau karyawan swasta (CNN Indonesia, 7/8/2019).
Kemudian, persentase dan nominal final tarif iuran juga akan ditentukan oleh hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang dikeluarkan pada akhir Agustus. 
Audit BPKP, sambung dia, akan berisi soal perubahan kelas rumah sakit, posisi defisit keuangan BPJS Kesehatan per semester I 2019, proyeksi defisit sampai akhir tahun, hingga sumber dana yang bisa didapat dari berbagai bauran kebijakan dalam rangka menutup defisit. 
Bila defisit mengapa harus rakyat yang sakit? pertanyaan ini seakan hanya menampar tembok kokoh angkuhnya penguasa. Mereka telah lupa apa yang sebelumnya mereka janjikan kepada rakyat. Perbaikan kehidupan. Peningkatan kesejahteraan dan sebagainya.
Namun jika begini faktanya, manalah mungkin akan tercapai? untuk hidup sehari-hari saja tidak semua rakyat individu per individu mampu memenuhinya. Disaat beban hidup semakin tinggi, ternyata tetesan kasih sayang penguasa hanyalah racun yang semakin membuat rakyat sakit.
Jaminan kesehatan berikut penyelenggaraannya adalah tugas dan kewajiban negara. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW ketika mendapatkan hadiah dokter, beliau tidak menggunakannya untuk diri pribadi, namun menjadikannya milik negara yang berarti dokter itu akan melayani rakyat banyak. 
Pun demikian dengan pemimpin sesudah Rasulullah, terus menerus mengupayakan kemajuan di bidang kesehatan dan kedokteran dengan mendorong para ilmuwan, ahli kesehatan, terapis, tabib dan semua yang berkompeten dalam kesehatan untuk berinovasi menemukan berbagai obat dan teknik penyembuhan. Negara menyediakan laboratorium serta perpustakaan untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut.
Tak terbilang karya yang bermunculan ketika itu. Salah satunya adalah Ar Razi , seorang  ilmuwan dibidang kimia kedokteran dan sastra, dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad. Karyanya bahkan dijadikan sebagai dasar ilmu kedokteran hingga kini.
Darimana negara  mampu membiayai itu semua? Jelas bukan dari memeras rakyatnya. Namun dari pengelolaan Sumber Daya Alam yang menjadi kepemilikan umum. Sama sekali tidak mendzalimi rakyat. Sungguh berbanding terbalik dengan hari ini. 
Bangsa yang maju tentu adalah yang memiliki generasi sehat dan kuat. Maka dari itu kesehatan sangat penting. Artian penting itu adalah benar-benar fokus menangani masalah kesehatan dan tidak menyerahkan penanganannya kepada rakyat atau malah pihak swasta yang akhirnya muncul bisnis kesehatan. Semua dihitung untung rugi. Naudzubillah..
Hai penguasa, sekiranya takutlah pada peringatan Allah berikut ini sehingga benar-benar ada sebagai pelayan umat bukan para kapitalis yang hanya pandai mendikte: 
Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ
“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. Tirmidzi). Wallahu a'lam Biashowab. [MO/sg]

Posting Komentar