Oleh : Latifatussalimah
(Aktivis Dakwah Muslimah)

Mediaoposisi.com-‘Siapapun orangnya, khilafah pembicaraannya’, Kata khilafah saat ini sedang naik daun. Bagaimana tidak? Hampir disetiap level masyarakat, baik dikalangan pemerintahan, politisi, ulama, bahkan rakyat biasa pun juga ikut bicara khilafah. Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam dan janji Allah SWT yang pasti ditepati.
Namun, pembicaraan tentang khilafah seakan memiliki perspektif yang bermacam-macam. Ada kalangan yang mengatakan khilafah sebagai ancaman, teror, dan bahkan digambarkan seperti monster yang menakutkan namun tak sedikit pula yang berpandangan bahwa khilafah sebagai solusi atas berbagai permasalahan.  
Khilafah merupakan sistem pemerintahan Islam yang mewajibkan adanya satu kepemimpinan global untuk menerapkan hukum-hukum Islam. Sehingga keberadaannya akan menyingkirkan kekuasaan global yang ada dan melenyapkan hegemoni yang sedang berlangsung pada dunia yaitu Barat dan antek-anteknya.
Inilah yang membuat mereka takut dan anti terhadap khilafah. Maka mereka akan terus berusaha menghadang munculnya khilafah dan para pengusungnya dengan segala kekuatannya, termasuk membangun strategi Islamophobia. Dan mengekspornya ke seluruh dunia khususnya negri-negri Islam baik melalui jalur politik, kerjasama bilateral dan multilateral maupun lembaga dunia. 
Pembahasan Khilafah memang tiada dua. Setelah dimonsterisasi sebagai ajaran radikal, ternyata tak membuatnya padam. Khilafah kian menggema.
Jika ada yang fobia Khilafah, maka kemungkinan ia terdiagnosa Islamofobia. Bagaimana tidak, saking takutnya istilah Khilafah ini makin dikenal, mereka melakukan berbagai upaya untuk menyembunyikan sebuah kebenaran. Ya, kebenaran bahwa Khilafah itu ajaran Islam.
Disebutkan dalam kitab-kitab ulama mu'tabar. Diyakini Imam empat madzhab tentang kewajiban menegakkannya. Sebegitunya alergi dengan Khilafah. Seolah anak muda Islam tak boleh tahu bahwa Khilafah adalah bentuk pemerintahan Islam yang pernah diterapkan oleh Khulafaur Rasyidin. Diteruskan Khalifah setelah mereka. 
Sangat wajar bila dalam bab pemerintahan Islam disinggung masalah Khilafah. Karena Khilafah memang tak bisa dilepaskan dari syariat Islam. Khilafah itu bukan barang baru. Bukan ide yang 'diperdagangkan' kelompok tertentu. Ia murni ajaran Islam.
Jujurlah dalam menilai itu. Jangan terlalu fobia. Sebagaimana orang-orang Barat yang berhasil memfobiakan Khilafah dengan dikaitkan ISIS dan isu teroris. Diskusi Khilafah dianggap radikal. Sementara diskusi marxisme hingga kapitalisme dibolehkan.
Islamophobia Menjangkiti Penguasa
Islamophobia lahir dari ketidak warasan tingkat tinggi penguasa skala nasional hingga internasional,  yang mana mereka tidak menemukan kecacatan pada Islam tapi disisi lain Islam tidak memberikan jalan pada ambisi mereka untuk menguasai dunia atau sekedar melanggengkan intervensinya.
Sebagai bukti rezim ini mengadopsi Islamophobia ala barat, nampak pada komitmen pemerintah untuk mengejar para pejuang khilafah baik organisasinya juga para individunya. S
ebagaimana pernyataan Menko Polhukam Wiranto “Organisasi itu dibubarkan karena pahamnya. Ideologinya, visi-misinya sudah jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila dan NKRI. Kalau individual atau mantan-mantan anggotanya beraktivitas tetapi aktivitasnya masih melanjutkan paham-paham yang anti-Pancasila, anti-NKRI, ya masuk ke ranah hukum. Harus kita hukum,” detik.com, Jumat (19/7/2019). 
Faktanya kebijakan ini sudah berlaku. Sebagaimana yang terjadi pada organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mengusung dan memperjuangkan tegaknya syariah dan khilafah telah dicabut badan hukumnya, termasuk FPI yang ditengarai menyebarkan ide khilafah sehingga dipersulit perpanjangan SKTnya.
Contoh pada individu yaitu para aktivis HTI dipersekusi diantaranya Ustadz Felix Siauw, bahkan sampai level simpatisan seperti Prof. Suteki. Intinya siapapun yang menyebarkan khilafah akan berhadapan dengan hukum (negara).
Islam pernah berjaya lebih dari 13 abad lamanya dan menguasai hampir 2/3 dunia. Sampai saat ini belum pernah ada peradaban yang mampu bertahan melebihi kejayaan islam. Termasuk Amerika yang baru beberapa tahun saja menjadi negara adidaya, dan kini juga telah terlihat tanda-tanda keruntuhan Amerika.
Bukan hanya itu saja peradaban islam sampai keseluruh penjuru negeri bangunan-bangunan juga para ilmuwan yang dilahirkan pada masa itu. Oleh karena itu, istiqomah memperjuangkan tegaknya Islam dalam bingkai khilafah, dengan khilafah segala kemungkaran yang sekarang ini diperbolehkan bahkan dilindungi negara bisa dicegah seperti LGBT, riba, pergaulan bebas, pornografi.
Jika kita selamat dari kemungkaran tersebut, bentengnya hanya pribadi bukan negara, kenyataanya negara abai dalam permasalahan ini bahkan menjerumuskan rakyatnya dalam kemungkaran.
Maka dalam hal ini pentingnya terus mendakwahkan Islam dan khilafah ajaran Islam ditengah hadangan rezim represif anti Islam, karena sesungguhnya Allah telah membeli jiwa-jiwa para pejuang agama-Nya dengan surga yang tinggi (surat at-taubah : 111).
Wallahu’alam bis Showab. [MO/sg]

Posting Komentar