Oleh : Siti Masliha, S.Pd,
(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Mediaoposisi.com-  Berita tentang pemberian grasi terhadap predator anak membuat “marah” orang tua di seluruh Indonesia. Bagaimana tidak marah, kejahatan yang jelas-jelas didepan mata malah diberi ampunan oleh orang nomor satu di negeri kita ini. Pemberian grasi tersebut akan memberikan dampak negatif baik bagi pelaku maupun bagi predator lainnya. 

Bagi pelaku grasi ini tidak akan memberikan efek jera atas sanksi yang dijatuhkan kepadanya. Selain itu grasi ini juga akan memberikan contoh kepada predator lain untuk berbuat kasus yang sama, karena sanksinya sangat ringan.

Belakangan, publik di Tanah Air sedang dihebohkan dengan kasus child grooming, yang merupakan modus baru penculikan anak lewat jejaring media sosial. Sebuah laporan dari National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), sebuah lembaga yang berupaya mencegah kekerasan terhadap anak-anak mengatakan bahwa platform Instagram jadi medsos favorit bagi predator anak.

Mengutip laman Engineering and Technology (E&T), kasus child grooming alias membangun hubungan emosional dengan seorang anak untuk tujuan pelecehan seksual meningkat tiga kali lipat di Instagram selama 18 bulan terakhir. 

Hasil penelitian tersebut mencatat, Instagram sebagai platform yang paling banyak dipakai untuk menghubungi anak-anak (sebesar 32 persen), diikuti dengan Facebook (23 persen), dan Snapchat (14 persen). (Liputan6.com)

Kondisi ini sangat menyesakkan dada, ketika Indonesi masih hangat memperingati Hari Anak Nasional tanggal 23 juli 2019 yang lalu. Anak sebagai asset bangsa yang sangat penting. Anak seharusnya tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan kondusif. Kekerasan seksual pada anak telah merenggut hak anak untuk bebas bermain dan berkreasi. Mereka telah memikul trauma yang cukup panjang.

Kasus kekerasan seksual pada anak di Indonesia angkanya cukup tinggi. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mencatat ada peningkatan kasus kekerasan seksual pada anak yang terjadi sejak 2016 sejumlah 25 kasus, lalu meningkat pada 2017 menjadi 81 kasus, dan puncaknya pada 2018 menjadi 206 kasus. 

“Hampir tiap Minggu, setidaknya ada 4 kasus kekerasan seksual yang kami putuskan (tangani), angkanya dari 2016-2019 terus meningkat secara signifikan berdasarkan jumlah pemohon LPSK. Kami yakin angka-angka itu hanya puncak gunung es, belum angka dan jumlah riil korban kekerasan seksual, kami mengkhawatirkan fakta di lapangan jauh lebih besar yang tidak sampai ke LPSK." kata Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu saat konferensi pers di gedung LPSK, Jakarta Timur, Rabu (24/7/2019). (detiknews.com)

Harus ada upaya dari semua pihak terutama pemerintah agar anak punya lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembangnya. Anak-anak mempunyai hak untuk dapat hidup dalam kondisi yang aman. Kekerasan seksual pada anak disebabkan oleh:

Pertama, pertembangan akal dan mental anak yang belum sempurna. Berdasarkan UU Peradilan Anak, anak dalam UU No.3 tahun 1997 tercantum dalam pasal 1 ayat (2) yang berbunyi: “ Anak adalah orang dalam perkara anak nakal yang telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 tahun (delapan belas) tahun dan belum pernah menikah. 

Walaupun begitu istilah ini juga sering merujuk pada perkembangan mental seseorang, walaupun usianya secara biologis dan kronologis seseorang sudah termasuk dewasa namun apabila perkembangan mentalnya ataukah urutan umurnya maka seseorang dapat saja diasosiasikan dengan istilah "anak". (Wikipedia)

Belum berkembangnya akal dan pertumbuhan fisik ini membuat anak-anak menjadi sasaran kekerasan seksual. Iming-iming hadiah atau permen membuat hati anak luluh. Pada saat itu anak akan menjadi korban kekerasan seksual dari sang predator.

Kedua, tidak ada lingkungan yang aman bagi anak. Rata-rata pelaku kekerasan seksual pada anak adalah orang-orang terdekat. Hubungan keluarga, guru, pembina pramuka dan lain-lain. Anak-anak merasa dekat dengan orang-orang tersebut namun faktanya orang-orang itulah yang melakukan kekerasan seksual.

Anak merasa sudah tidak ada lagi tempat yang aman untuk dia bermain, untuk berkeluh kesah. Lingkungan sekitar mereka sudah menjadi “neraka” bagi mereka sendiri. Lingkungan di luar rumah pun sama dengan lingkungan disekitar rumahnya sudah tidak aman lagi bagi mereka.

Ketiga, Pornografi. Banyak melihat tanyangan pornografi otak seseorang pecandu pornografi menjadi kesulitan untuk mengontrol hasrat seksualitasnya. Akibatnya ia menjadi agresif pada lawan jenis. Celakanya agrefitas ini jadi semakin sulit dikontrol. Sehingga bisa melampiaskan seksualitasnya kepada siapa saja tidak terkecuali anak-anak, dimana saja dan kapan saja.

Keempat, tidak ada sanksi yang tegas dari negara untuk menindak pelaku kekerasan sekssual. Negara tidak berdaya untuk membendung tingganya kekerasan sekssual pada anak. Pemberian sanksi yang ringan kepada predator anak membuat predator anak tidak jera dan bisa mengulanginya lagi.

Kekerasan seksual pada anak di Indonesia kondisinya cukup meprihatinkan. Butuh ada upaya serius dari pemerintah sehingga kasus ini tidak berulang. Pemerintah perlu mangkaji ulang atas sanksi yang sudah dijatuhkan agar mampu memberikan efek jera bagi pelaku.

Solusi Tuntas Darurat Seksual pada Anak

Penyimpangan seksual bukanlah fitrah dari seorang manusia. Maka penyimpangan ini sebenarnya bisa dicegah dan diatasi. Caranya bisa melalui tiga pendekatan, yaitu secara individu, masyarakat dan negara.

Secara individu masing-masing dengan fitrahnya laki-laki dan perempuan jelas mempunyai perbedaan. Dalam islam sejak kecil harus didik dan dibiasakan sesuai dengan kodratnya. Misalnya laki-laki dibiasakan dengan menggunakan baju laki-laki, tidak boleh laki-laki memakai baju perempuan. 

Islam juga menetapkan laki-laki tidur sekamar dengan perempuan. Tempat tidur mereka juga harus terpisah tidak hanya untuk perempuan dan laki-laki, juga untuk laki-laki dan laki. Selain itu laki-laki dengan laki-laki tidak boleh tidur dengan satu selimut.

Pada tataran masyarakat, masyarakat mempunyai andil yang besar dalam mempengaruhi dan membentuk perilaku individu. Sikap masyarakat yang peduli dengan kondisi sekitar ditunjukkan dengan cara amar ma’ruf nahi munkar (mengajak yang baik dan mencegah dari kejahatan). Dari prinsip inilah ketika ada individu yang melakukan kemaksiaran dimasyarakat maka masyarakat akan mencegahnya.

Sanksi tegas dari negara yang membuat predator anak menjadi jera. Jika pelaku melakukan tindakan sodomi (liwath) maka hukumannya seperti yang dijelaskan dalam hadits: “Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaumnya Nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan yang diajak melakukannya. (HR. Khamsah, kecuali an-Nasa’i). 

Begitulah cari Islam mengatasi masalah penyimpangan seksual. Dengan cara seperti ini maka penyimpangan tersebut bukan saja bisa dibatasi, tetapi juga dicegah sejak dini. Karena itu kasus-kasus seperti ini sangat langka dalam sejarah di negara Islam. Kondisi ini berbeda dengan sistem sekuler saat ini. Wallahu a’lam. [MO.IP]

Posting Komentar