Oleh: Mochamad Efendi
Mediaoposisi.com-Kampus adalah tempatnya orang-orang cerdas dan kritis karena keilmuannya yang mendalam pada satu bidang  tertentu sehingga kampus sering dijadikan rujukan. Gerakan reformasi juga berawal dari kampus yang dimotori oleh mahasiswa. Tuntutan perubahan terjadi pada masa orde baru.
Tapi sayang, perubahan yang terjadi hanya pada suksesi kepemimpinan saja, bukan pada perubahan sistem. Namun saat ini semangat perubahan dari kampus seolah hilang berganti dengan pemikiran pragmatis yang takut dengan ancaman dari penguasa rezim.  
Pada masa Pak Jokowi ada usaha yang dilakukan rezim untuk mengintervensi kampus. Warga kampus tidak lagi bebas menyampaikan pendapatnya menurut kepakarannya karena jika kebenaran yang disampaikan tidak  sesuai dengan keinginan penguasa, mereka akan dapat ancaman, persekusi bahkan sampai dengan tindakan nyata pencopotan jabatan atau pemecatan.
Sebagai contoh adalah apa yang terjadi pada Prof. Dr. Suteki yang mendapatkan tekanan dari rektor karena berani menjadi saksi ahli dalam kasus pencabutan BHP HTI. Bahkan berlanjut pada pencopotan jabatan secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.
Hanya di rezim Jokowi, kampus tidak lagi netral dalam menyampaikan kebenaran karena ancaman dan intervensi rezim benar-benar nyata. Harusnya kampus tidak bergeming dan berpihak pada kebenaran.
Namun, faktanya tidak demikian. Banyak warga kampus yang memilih zona aman, meskipun ada wacana impor rektor dari asing yang akan menjadi bentuk penjajahan terhadap kampus. Apakah kampus berani menolak ide konyol ini atau terpaksa menerima setelah dapat tekanan dan  ancaman dari penguasa rezim?
Memang beberapa kampus besar seperti UI, UGM atau ITB akan menolak wacana impor rektor asing yang digulirkan oleh menristekdikti atas arahan penguasa rezim dengan alasan ingin memperbaiki kualitas kampus agar bisa bersaing di dunia internasional. Alasan yang dibuat-buat mengingat negeri ini mempunyai banyak pakar dan orang-orang hebat.
Jadi mendatangkan rektor dari asing adalah bentuk kedzaliman yang nyata terhadap kaum intelektual di negeri ini yang sudah banyak menghasilkan orang-orang bergelar Profesor Doktor. Dengan kata lain, pemimpin kita tidak percaya dengan kualitas pendidikan negeri sendiri sampai harus mendatangkan rektor asing.
Inikah efek dari kolonialisme penjajahan Belanda selama 350 tahun yang tidak hanya hukumnya saja yang diadopsi tapi juga mental sebagai negeri terjajah terinternalisasi pada sebagian anak negeri.
Jika mental minder dengan kemampuan sendiri yang merupakan hasil pendidikan penjajah tidak dibuang, negeri ini tidak akan maju dan terus terjajah meskipun penjajahnya sudah hengkang. Tetapi, pengaruh kolonialisme masih terus dirasakan dan menghambat perubahan ke arah yang lebih baik  
Bukankah ini sikap yang tidak NKRI dengan membiarkan asing mengintervensi kampus bahkan mengundang penjajah asing untuk menguasai kampus.
Aneh memang pemikiran mereka yang dengan keras menyuarakan nasionalisme disisi lain suka dan bangga dengan produk asing termasuk rektor asing. Sementara, menganggap rendah kemampuan sendiri dengan mengatakan sumber daya manusia kita kurang berkualitas dan tidak mampu bersaing di dunia internasional  sehingga harus mendatangkan rektor asing 
Apakah dengan mendatangkan rektor asing akan memperbaiki kualitas kampus?  Tentu tidak demikian malah akan membawa pengaruh buruk asing pada pendidikan di negeri ini. Rektor asing adalah orang nomor satu di kampus yang akan membawa kebijakan asing untuk diterapkan di negeri yang mayoritas penduduknya muslim. 
Bukan peningkatan kualitas yang didapat, tapi suara kritis kaum akademisi di kampus akan dibungkam  dengan rektor asing yang akan menjadi corong penguasa untuk menghadang gerakan kampus.
Belajar dari pengalaman sejarah pada masa reformasi, rezim ketakutan akan munculnya gerakan mahasiswa yang berasal dari kampus yang menuntut perubahan. Saat ini memang rezim nampaknya berhasil mematikan semangat perubahan dari kampus. Namun semakin ditekan warga kampus akan menggeliat bangun dari kematian surinya dan akan bangkit untuk menyuarakan perubahan.
Saat kebangkitan umat didukung kaum intelektual dari kampus, penguasa rezime tidak akan mampu membendungnya meskipun dia akan minta bantuan asing untuk melawan rakyatnya sendiri. Umat yang bersatu akan lebih kuat dari kekuatan asing yang selalu dibanggakan oleh penguasa rezim. [MO/sg]

Posting Komentar