Oleh: Suryani Izzabitah
(Dosen dan Pemerhati Generasi)

Mediaoposisi.com-Belum tuntas wacana impor guru beberapa waktu yang lalu, kini dunia pendidikan kembali  resah oleh pernyataan Kemenristekdikti, Bapak Muhammad Nasir, tentang rekrutmen rektor luar negeri (asing). Beliau menjelaskan langkah ini dilakukan guna meningkatkan ranking perguruan tinggi Indonesia masuk dalam 100 universitas terbaik dunia (KOMPAS.com, 30/7/2019).

Menanggapi pernyataan Kemenristekdikti, para guru besar dari sejumlah PTN angkat bicara mengenai hal tersebut. Guru Besar Hukum Internasional (UI), Hikmahanto Juwana menyatakan bahwa rektor hanya 1 komponen dari seluruh proses pengajaran yang ada di universitas. 

Sementara komponen lain seperti dosen dan mahasiswa juga berperan mendorong peningkatan ranking di dunia. Lebih lanjut, Hikmahanto mengatakan bahwa perpustakaan yang baik dan laboratorium yang bagus harusnya menjadi concern, bukan sekadar mendatangkan rektor (CNN Indonesia, 1/8/2019).

Hal Senada juga dikatakan Guru Besar Teknik Lingkugan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Joni Hermana bahwa wacana rektor dan dosen asing perlu pertimbangan matang dari sisi anggaran. Sebab selama ini, anggaran PTN di Indonesia terbilang masih kecil. Sebagai perbandingan, Mantan Rektor ITS ini menjabarkan total anggaran untuk PTNBH kurang lebih Rp 1 Triliun. 

Untuk alokasi penelitian yang hanya 10%, jadi sekitar Rp 100 Miliar. Anggaran itu dinilai tak cukup untuk standar rektor dan dosen asing, jika dibandingkan anggaran dari negara tetangga Malaysia yang anggarannya sudah mencapai Rp 1 Triliun sendiri. Kalau di Indonesia anggaran senilai itu sudah termasuk penelitian, pengajaran, gaji, dan pengembangan (Medcom.id, 24/7/2019).

Pengamat pendidikan, Itje Chodidjah juga berpandangan sama bahwa rencana Kemenristekdikti untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi dengan mendatangkan rektor asing tidak tepat. Hal ini tidak melihat masalah yang dihadapi pendidikan tinggi secara komprehensif.

Seolah-olah memandang rendah praktisi pendidikan tinggi dalam negeri. Itje mengatakan bahwa ketika ingin mengejar ranking dunia, pemerintah mestinya menganalisa super cermat apa yang menjadi penyebanya. Tidak secara instan mengambil rektor dari negara lain (JawaPos.com, 3/8/2019).

Kapitalisasi Dunia Pendidikan

Rencana pemerintah untuk merekrut rektor asing sangat kental dengan nuansa politik. Di beberapa media diperhalus dengan sebutan kata “undang” rektor luar negeri. Padahal sejatinya adalah impor rektor asing. Suara penolakan terhadap program rektor asing semakin kencang. 

Mulai mantan rektor, guru besar, hingga pengamat pendidikan terang-terangan menolak, namun rencana pemerintah ini masih saja terus berjalan. Inilah bukti bahwa Indonesia dalam cengkeraman kapitalisme. Tidak bisa dipungkiri, kapitalisme yang diadopsi negeri ini sudah masuk dalam semua lini kehidupan tak terkecuali pada sistem pendidikan. 

Sangat disayangkan, di saat para akademisi sedang giat-giatnya menaikkan ranking dunia, pemerintah malah berencana merekrut rektor asing. Pemerintah harusnya angkat topi atas kerja keras para akademisi dalam 3 tahun terakhir ini. Terbukti total publikasi jurnal dan prosiding internasional berbasis Scopus Indonesia per Januari 2019 adalah 17.593 di tengah keterbatasan dana.

Sistem Pendidikan Islam adalah Contoh Terbaik

Sistem pendidikan Islam punya cara yang unik dalam melahirkan generasi cerdas secara iptek dan imtak, karena asasnya adalah akidah Islam bukan sekularisme (paham yang memisahkan agama dari kehidupan). Lihatlah dalam sistem pendidikan Islam terlahir ilmuan-ilmuan yang pakar di bidangnya dan juga seorang ulama. 

Al-Khawarizmi atau Imam Ar-Razi adalah seorang tabib dan juga filsuf. Ilmuan lainnya adalah Hasan bin Haitsam, salah seorang ahli matematika, insinyur, dokter, dan hakim. Ibnu Nafis, orang yang paling hebat di masanya dalam bidang kedokteran, dan masih banyak lagi ilmuan-ilmuan pada masa kegemilangan peradaban Islam yang ilmunya hingga saat ini masih dirasakan manfaatnya.

Sejarah mencatat betapa besar dan hebatnya peran khalifah-khalifah kaum Muslimin dan para penguasa dalam memelihara para ilmuan dan penuntut ilmu. Di antara khalifah yang mengutamakan perhatian itu adalah khalifah Harun Ar-Rasyid. 

Beliau memberikan infak yang banyak kepada para ilmuan, kepeduliannya dengan ilmu dan para ilmuan serta menjadi penuntut ilmu sejak kecil. Syaikh Najamuddin Al-Habusyani yang diangkat oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayubi untuk mengajar di sekolah Ash-Shalahiyah diberi gaji setiap bulannya 40 dinar karena sebagai pengajar, 10 dinar sebagai penanggungjawab wakaf sekolah, dan enam puluh liter roti setiap harinya serta aliran air sungai Nil setiap hari.

Dalam akidah Islam, dunia ini bukan tanpa penguasa, bahkan ada penguasa tunggal. Dialah yang menciptakannya, membuatnya, menentukan dan mengaturnya. Bagi-Nya terletak penciptaan dan seluruh urusan serta menentukan hukum, sebagaimana firman Allah SWT, 

“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah.” (Al-A’raf:40). Dan dalam QS. Ali Imran:83, “Kepada-Nya lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi.” [MO/vp]

Posting Komentar