Oleh :Nuning Kamal 
(IRT, Muslimah Peduli Generasi Bima)

Mediaoposisi.com- Kemeriahan  menyambut hari ulang tahun RI (Republik Indonesia) sejak beberapa minggu terakhir ini begitu semarak di hampir seluruh daerah se-Indonesia. Mulai dari yang paling barat hingga timur, hingga pelosok-pelosok pun tak ada yang luput dari euforia perayaannya.

Lomba baris berbaris, karnaval, paskibraka, panjat pinang, lomba balap karung, lomba makan kerupuk, dan segudang aktivitas lainnya begitu beragam. Kegiatan-kegiatan ini banyak melibatkan generasi muda, terutama mereka yang menempuh pendidikan di bangku sekolah, mulao TK/PAUD, SD, SMP hingga SMA.

Suatu hal yang miris dan justru kontradiktif ketika konon para generasi muda dilibatkan dalam rangkaian kegiatan memperingati hari bersejarah ini dengan tujuan untuk merayakan 74 tahun kemerdekaan Indonesia, namun justru fakta di lapangan berbicara lain. 

Bersamaan dengan semarak 17-an tersebut di berbagai media diberitakan tentang tanah Papua yang kembali memanas gejolaknya. Belum lagi dai kondang jutaan umat, yakni ustadz Abdul Somad yang diperkarakan oleh seorang Nasrani karena dianggap menistakan agamanya dalam ceramah beliau. Bila kita melihat di daerah, maka di Kota Bima saat ini sedang hangat dalam perbincangan masyarakat mengenai kasus inses di terus bergulir dari satu wilayah ke wilayah lain. 

Ditambah kasus pembacokan maupun pembunuhan yang didalangi dendam maupun sebagai imbas menenggak minuman keras. Hal ini tentu membuat kita bertanya, benar kah Indonesia sudah merdeka? Benar kah seluruh rakyat Indonesia sudah benar-benar terbebas dari penjajahan & belenggu asing dalam diri mereka?

Menurut sebagian pihak, generasi muda perlu dikenalkan dengan agenda-agenda nasional macam ini untuk menanamkan nilai-nilai pancasila, nasionalis dan cinta tanah air di jiwa raga dalam diri mereka. 

Konon hal ini lah yang akan menjadi solusi atas berbagai masalah negeri, mencegah perpecahan, pun membuat Indonesia menjadi bangsa yang kuat. Namun fakta-fakta menyedihkan di atas sudah cukup mampu menjawab, bahwa euforia kemerdekaan yang dilakukan setiap tahun ini, tak akan pernah we mampu membuat generasi benar-benar cinta dengan negerinya, dan baik moralnya. 

Jiwa pancasila dan teriakan NKRI harga mati tidak benar-benar terpatri. Hanya cinta palsu yang justru terus merusak sesuatu yang dicintai, atau membiarkan kerusakan-kerusakan yang ada makin masif di berbagai lini kehidupan.

Mengapa generasi muda bisa terjebak pada slogan kosong cinta tanah air, namun menjadi pelaku utama yang menpertontonkan rusaknya peradaban masa kini? Itulah liberalisme, yang meneriakkan kebebasan tanpa batas. Sehingga tak heran kasus-kasus yang diperankan mereka ibarat bola salju yang terus menggelinding dan membesar. 

Kian tahun mereka makin tersungkur tunduk dan terjebak dalam arus liberalisme tersebut, dengan ekspresi kebebasan sesuka hati, tanpa memandang bagaimana agama menghukuminya. Salah dan benar tak menjadi soal, selama itu disukai dan tidak merugikan orang lain. 

Seperti  Itulah slogan kebebasan yang diagungkan di negeri mayoritas muslim ini. Pacaran, khalwat, hura-hura, kriminal, gaul bebas bahkan seks bebas begitu gamangnya dilakoni. Tanpa berpikir bahwa semua akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta'ala. Sehingga lahirlah generasi yang miskin iman, minim tanggung jawab dan rusak moralnya.

Inilah sekularisme. Aqidah mendasar dari ideologi kapitalisme, yang meniscayakan pemisahan antara agama dan kehidupan. Ia berhasil mematikan peran agama Islam dalam diri generasi kaum muslimin. Sulit menemukan pribadi yang unggul dan bertaqwa, karena keimanan dan ketakwaan yang terus terkikis. 

Pun generasi hedonis, yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Seperti bersenang-senang dan berpesta pora. Tak peduli untuk meraih kenikmatan itu, tak jarang harus menempuh jalan yang diharamkan Allah.

Begitupun dengan pelajaran agama dalam pendidikan, yang sedikit demi sedikit dipangkas dengan alasan teroris dan fanatik. Padahal tujuannya agar Islam semakin tersingkirkan dari jiwa para generasi penerus bangsa. Hingga lahirlah generasi berprestasi akademik namun miskin taqwa dan minim moral. Dan pribadi yang kering jiwanya, keras mentalnya.

Apa yang bisa diharapkan dari generasi macam ini? Rasanya tak berlebihan jika dikatakan bahwa kemerdekaan Indonesia dan seluruh rakyatnya adalah hoax. 

Pemikiran & tingkah laku generasi yang masih disetir oleh pemahaman Barat, membuat mereka tak leluasa mengekspresikan cintanya pada tanah air, cintanya pada agamanya sendiri, cintanya pada Rabb-nya Yang Maha Pengasih.

Islam memandang generasi adalah aset berharga yang tak boleh dibiarkan rusak oleh pemikiran & budaya bathil. Di pundak merekalah ditentukan baik buruknya peradaban masa depan. Sehingga memastikan remaja memiliki kepribadian Islam adalah sesuatu yang harus diprioritaskan. 

Menyiapkan generasi hebat membutuhkan kesatuan pandangan. Hebat tidak cukup hanya diukur dari prestasi akademik yang diraih, sebab prestasi akademik tanpa dukungan pemahaman Islam masih berpeluang menghasilkan generasi amoral. 

Dalam Islam, penghebatan generasi yang lengkap dari sisi prestasi maupun adab itu dimiliki oleh pendidikan berbasis Islam, maka generasi hebat adalah generasi berkepribadian Islam.

Kemudian, rasa cinta terhadap tanah air harusnya diekspresikan dengan menerapkan Islam dalam seluruh kehidupan. Sebab Islam adalah agama sekaligus mabda yang mampu menyelesaikan seluruh problematika manusia.

Dengan menerapkan Islam secara kaffah, maka lahirlah individu, masyarakat, dan negara yang memiliki satu perasaan, satu aturan dan satu pemikiran. 

Generasi bangsa akan tercipta dengan ketaqwaan yang tidak padam. Merealisasikan hal ini merupakan tanggung jawab bersama, tak bisa hanya mengandalkan lembaga pendidikan formal, semua elemen harus hadir dengan perhatian optimal. 

Negara melalui struktur-struktur terkait menelurkan kebijakan-kebijakan yang akan memberi ruang kepada elemen masyarakat untuk peduli dan nerkontribusi pada nasib generasi. Tentunya berbagai kebijakan tersebut berpijak pada syariat Islam, satu-satunya syariat yang akan menghantarkan seluruh semesta pada rahmat-Nya.

Walhasil, kemerdekaan hakiki hanya akan terwujud melalui kemerdekaan menghamba pada Allah Rabbul 'alamin. Tak lagi dijajah oleh pemikiran-pemikiran asing yang justru menjauhkan ridho Allah darinya. Menjadi pribadi beriman dengan ketakwaan tinggi akan menghantarkan seorang manusia, anak generasi, pada fitrah dan tujuan penciptannya.[MO/vp]

Posting Komentar