Oleh Chusnatul Jannah
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)
Mediaoposisi.com-Khilafah kembali lagi. Dibahas lagi dan lagi. Mungkin inilah cara Allah menjadikan ide Khilafah tak pernah mati. Disinggung sendiri oleh pembencinya. Baik penguasa, pejabat negara, bahkan kepala sekolah berbasis agama. Buku digital mata pelajaran Fiqih untuk kelas XII Madrasah Aliyah di Jombang berisi materi tentang khilafah atau pemerintahan Islam. Guru ingin materi tentang khilafah tersebut direvisi.
Buku digital tersebut salah satunya digunakan MA Terpadu Al-Aqobah 4, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. File buku yang sudah didownload pihak sekolah, bagian sampulnya bertuliskan Buku Siswa Fikih Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013.
Kepala MA Terpadu Al-Aqobah 4 Fahrurrozi mengaku menggunakan buku digital tersebut untuk mengajar para siswa kelas XII. Penggunaan buku digital yang diunduh dari internet digunakan di sekolahnya mulai tahun ajaran 2019-2020. (Detik.com, 30/7/2019)
Fahurrozi berharap buku digital itu segera direvisi agar anak-anak tak menggunakan istilah Khilafah. "Namun kata khilafah kami bahasakan pemerintahan saat mengajar ke anak-anak. Pada intinya ajaran pemerintahan kita sudah sesuai ruh di Alquran dan hadist, pemerintahan di negara kita sudah sesuai Alquran dan hadis," ujarnya sebagaimana dilansir detik.com, 30/7/19.
Pembahasan Khilafah memang tiada dua. Setelah dimonsterisasi sebagai ajaran radikal, ternyata tak membuatnya padam. Khilafah kian menggema. Jika ada yang fobia Khilafah, maka kemungkinan ia terdiagnosa Islamofobia. Bagaimana tidak, saking takutnya istilah Khilafah ini makin dikenal, mereka melakukan berbagai upaya untuk menyembunyikan sebuah kebenaran.
Ya, kebenaran bahwa Khilafah itu ajaran Islam. Disebutkan dalam kitab-kitab ulama mu'tabar. Diyakini Imam empat madzhab tentang kewajiban menegakkannya. Sebegitunya alergi dengan Khilafah. Seolah anak muda Islam tak boleh tahu bahwa Khilafah adalah bentuk pemerintahan Islam yang pernah diterapkan oleh Khulafaur Rasyidin. Diteruskan Khalifah setelah mereka. 
Sangat wajar bila dalam bab pemerintahan Islam disinggung masalah Khilafah. Karena Khilafah memang tak bisa dilepaskan dari syariat Islam. Khilafah itu bukan barang baru. Bukan ide yang 'diperdagangkan' kelompok tertentu. Ia murni ajaran Islam.
Jujurlah dalam menilai itu. Jangan terlalu fobia. Sebagaimana orang-orang Barat yang berhasil memfobiakan Khilafah dengan dikaitkan ISIS dan isu teroris. Diskusi Khilafah dianggap radikal. Sementara diskusi marxisme hingga kapitalisme dibolehkan. 
Perlu diketahui, label-label  moderat dan radikal adalah strategi Barat untuk melemahkan kekuatan Islam. Memecah belah umat agar kebangkitan Islam tak terjadi. Bagi kalangan muslim yang menerima nilai-nilai Barat, mereka menyebutnya moderat.
Bagi kelompok muslim yang menolak nilai-nilai Barat seperti demokrasi, sekulerisme, kapitalisme, dan isme lainnya, mereka menyebutnya radikal. Sudah jamak diketahui, istilah serupa seperti terorisme dan radikalisme juga bagian strategi Barat menjauhkan umat dari Islam. Harusnya itu dipahami agar kita tak terjebak dengan istilah ciptaan mereka.



Apa masalahnya dengan Khilafah? Sebagai muslim, harusnya bangga dengan istilah itu. Bukan malah fobia. Kalau sudah fobia, maka waspadalah! Virus Islamofobia tengah menggerogoti Anda. Bisa melemahkan iman hingga menimbulkan keraguan tentang Islam dan ajarannya. 
Mari bangga bicara Khilafah. Jangan termakan fitnah yang diluncurkan musuh Islam. Jangan tertipu framing yang diciptakan para pembenci Islam. Dan jangan terjebak dengan narasi radikal. Daripada generasi muda kita terpapar virus liberal dan sekuler, lebih baik mereka belajar Islam dan ajarannya secara kaffah.
Dengan belajar Islam mereka tak akan mudah terjebak dengan pergaulan ala sekuler dan pemahaman ala liberal. Menjadi generasi radikal. Rajin, Terdidik, dan Berakal. [MO/sg]

Posting Komentar