Oleh : Mariana, S.Sos

( Guru SMPS Antam Pomalaa )

Mediaoposisi.com-Mengutip dari  tirto.id, 11 Agustus 2019, Kekalahan Indonesia oleh Brasil di World Trade Organization (WTO) menambah daftar panjang serbuan barang impor yang masuk ke dalam negeri. Terlepas dampak impor daging bagi peternak ayam, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan keputusan ini harus dijalankan apapun konsekuensinya karena dapat memancing respons negara tetangga. 

“Tidak ada pilihan lain untuk kita menyesuaikan sesuai rekomendasi dari WTO,” ucap Enggar, Rabu (7/8/2019) seperti dikutip dari Antara. Hingga Agustus ini, impor beberapa komoditas lain yang dilakukan pemerintah juga sempat menjadi sorotan. Salah satunya impor beras yang diberikan saat petani sedang panen raya. 

Bahkan impor sempat dipaksakan saat kapasitas Gudang Bulog sudah berlebih. Kemudian ada juga kritik pada impor gula yang sempat meroket hingga Indonesia menjadi importir terbesar di dunia per tahun 2017-2018. Impor jagung sebanyak 60 ribu ton per Maret 2019 juga menjadi polemik karena diberikan saat kesalahan data belum dibenahi.

Lalu impor baja yang masuk ke Indonesia sempat berimbas pada produsen baja lokal akibat Permendag Nomor 22 Tahun 2018 membuka celah masuknya penjualan baja karbon yang lebih murah dari pasar domestik. Tak hanya itu, masuknya produk semen asing ke Indonesia juga menuai persoalan. Sebab, produksi semen Indonesia masih surplus 35 juta ton per tahun. 

Belum lagi, dari sejumlah kebijakan impor yang dikeluarkan juga kerap bersinggungan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pada 9 Agustus 2019 lalu, KPK menangkap 11 orang terkait suap impor bawang putih. Nama Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita bahkan terseret dalam kasus dugaan gratifikasi impor pupuk oleh anggota DPR RI nonaktif, Bowo Sidik Pangarso.

Jika mau jujur sepertinya negeri ini terlalu lelah untuk mengejar target menjadi negeri populer dan mendapat pengakuan dunia, namun pada akhirnya justru terjerumus dalam jebakan permainan ekonomi global dan semakin menjadikan negeri ini tergantung pada produk impor. 

Padahal, produk dan kualitas barang lokal maupun sumber daya manusia penggeraknya sangatlah potensial dan tentu secara kualitas dan kuantitas tidak kalah jauh dari apa yang dimiliki oleh produk luar. Karena itu impor sebenarnya tidaklah penting, mengingat produk dalam negeri sangatlah melimpah dan tenaga penggeraknya juga sangat banyak.

Selain itu produk impor membebani keuangan Negara dan sasaran pengeluarannya tidak tepat. sebab itu dari pada menyejahterakan Negara asing dengan membeli produk impor, akan lebih baik penguasa negeri ini memikirkan bagaimana menyejahterakan rakyatnya, tentu dengan membuat produk lokal dapat laku sehingga menguntungkan bagi produsen lokal. 

Alih-alih mencanangkan gerakan cinta produk-produk lokal, ini malah pemerintah sendiri yang membuka peluang serbuan produk-produk asing dengan dibukanya keran impor seluas-seluasnya. 

Padahal bisa jadi dengan masuknya produk impor, produk lokal akan kalah saing, akibatnya para pengusaha lokal akan merugi dan dapat dipastikan mereka akan gulung tikar, sehingga berefek pada hancurnya produk lokal dan membanjirnya produk luar. 

Kalau sudah begini, maka jangan heran jika anak negeri ini akan terdidik dengan produk impor, mereka akan lebih paham dan lebih menyukai produk impor dibandingkan produk dalam negerinya.

Para penguasa dan elit pejabat jangan terlalu sibuk membuat regulasi tapi pada akhirnya yang membuatnya sendiri justru banyak melakukan pelanggaran, sangat tegas ketika memerintah dan menyuruh rakyat untuk patuh, giliran para elit penguasa  maupun penjabat negaranya justru banyak yang tidak patuh dan sering melanggar aturan. 

Lalu apa pentingnya hukum dibuat, apakah hanya untuk mengikat rakyat sedang para elit pejabatnya Justru bebas berbuat semaunya. Inilah ironi jika suatu negeri berasaskan pada sekularisme yakni pemisahan agama dari kehidupan, maka rasa takut pada Pencipta itu sudah tidak ada lagi, siapapun boleh bertindak berdasarkan keingainan dan kepentingannya, asalkan memiliki kekuasaan dan uang.

Makin komplet ketika negeri itu dibawah bayang-bayang sistem kapitalis yang liberal dan materialistis. Jadinya nilai benar dan salah itu tergantung dari pemilik modal, sebab nilai tertinggi adalah materi. 

Maka hal ini juga akan memunculkan beragam kebebasan termasuk kebebasan memiliki dan kebebasan berpendapat. Jadi individu bebas  bersuara yang menguntungkan kaum pemilik modal meskipun pendapat yang kemudian menjadi kebijakan melukai nurani rakyat

Lebih pentingnya lagi, sekeras apapun usaha yang dilakukan negeri berkembang yang mayoritas penduduknya muslim untuk berusaha mengungguli ekonomi Negara maju yang merupakan ikon ideologi kapitalis, maka itu hanyalah sebuah angan-angan dan khayalan yang tak akan pernah jadi nyata.

Ini hanyalah sebuah jebakan yang terus menerus mengumpan negeri-negeri muslim agar berlepas tangan dari pengelolaan negerinya. 

Yang terjadi adalah liberalisasi makin menggila, Negara makin lepas tangan dan menyerahkan bagi siapapun untuk mengelola dan bermain dalam setiap aspek, maka negeri muslim hanya menjadi permainan para kapitalis global, yang terus menerus menancapkan hegemoninya termasuk dalam bidang ekonomi salah satunya adalah kebebasan impor.

Karena itu kebijakan egois dengan membuka keran impor seluas-luasnya mungkin akan menguntungkan tapi bagi para elit pejabat yang kecipratan persenan dari nilai hasil impor, sedangan bagi produsen lokal maka mereka harus bekerja keras atau bahkan berderai air mata Karena produk mereka akan bersaing dengan produk impor dan kalau tidak mampu bersaing maka konsekuensinya harus menerima kekalahan, bangkrut dan menderita karena produknya tidak laku dipasaran.

Sekali lagi ini adalah tentang nilai, dalam sistem kapitalis nilai tertinggi adalah materi dan penguasa tertinggi adalah para pemilik modal. 

Karena itu sangat mustahil berharap kepada para penguasa dan pejabat yang berwatak kapitalis dapat menyejahterakan rakyat. yang terjadi justru sebaliknya, melawan rakyat dan mengutamakan kepentingan pribadi demi mencapai target tertinggi yakni modal, tentunya terkait dengan materi, uang dan kekayaan.

Olehnya itu penerapan sistem kapitalis di negeri-negeri muslim bukanlah takdir, tapi sebuah pilihan. Karena itu jika telah tampak banyak borok dan kerusakannya lalu kenapa harus di pertahankan. Padahal manusia yang cerdas adalah ketika pilihannya itu tidak tepat maka dia segera bertobat dan mengambil pilhan lain yang lebih baik. 

Bertahan dengan sistem yang salah adalah sebuah kedunguan. Sebab masih ada pilihan yang lain, Islam memberikan solusi yang menyeluruh terhadap persoalan hidup manusia termasuk dalam ekonomi dan pemerintahannya.

Lalu kenapa tidak memberi kesempatan pada Islam untuk mengatur negeri-negeri muslim? padahal islam pernah Berjaya dan menjadi Negara adidaya memimpin dunia hingga 1300 tahun kemudian runtuh 3 Maret 1924 oleh penghianat Mustafa Kemal agen penjajah Inggris yang menyusupkan pemikiran dari ideologi barat. 

Memberi kesempatan pada Islam adalah sebuah keniscayaan selain karena Islam dan penegakan syariat beserta institusinya adalah kewajiban atas kaum muslim. Wallahu ‘alam(MO/vp)             

Posting Komentar