Oleh : Rizkya Amaroddini

Mediaoposisi.com-  Berita kali ini membuat kita sungguh miris melihat keadaan Negeri ini. Bulan agustus yang menjadi perayan besar Negeri ini ternodai dengan peristiwa aksi damai Mahasiswa yang berujung bentrok dengan warga.

Bukan hanya sebelum aksi berlangsung tetapi di Monokwari dan Jayapura melakukan aksi yang mengindikasikan ketidak terimaan akibat ujaran ‘Mahasiswa Papua Monyet’ dan beberapa Mahasiswa yang di tangkap pihak pemerintaha.  Hingga berita tentang pembakaran bendera merah putih. Persoalannya kenapa semua itu bisa terjadi ?

 Fakta banyak terjadi bentrok bukan hanya di Monokwari dan Jayapura saja. Di mana banyak kerusuhan terjadi di beberapa titik di Indonesia. Problematika yang kian banyak tidak mendapatkan solusi yang menuntaskan persoalan di masyarakat. Ada apa di balik semua ini?

Kenapa masyarakat papua menginginkan kemerdekaan di hari perayaan kemerdekaaan Indonesia ke-74 ? Sungguh ironis. Hal ini di dukung oleh beberapa Negara seperti Filipina.

Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) sering melakukan aksi damai mengecam keras New York Agreement dan menuntut Amerika Serikat sebagai biang kerok dari perjanjian yang menurut mereka illegal ini.

Kenapa demikian ?

Jika merujuk kepada sejarah, tanah Papua adalah tanah yang menjadi incaran Negara-negara besar seperti Amerika dan Uni soviet karena kekayaan alam yang terkandung di dalamnya berupa gunung-gunung emas.

Untuk mencapai ambisinya, 15 Agustus 1962 dalam Agenda Majelis Umum PBB, Amerika Serikat berperan sebagai mediator dalam penyerahan Nugini Belanda kepada Indonesia yang dikenal sebagai New York Agreement.
Menurut orang Papua Barat, New York Agreement adalah perjanjian ilegal yang dilakukan oleh Indonesia dan Belanda serta Amerika sebagai mediator. Pasalnya, tidak ada satu orang Papua Barat pun yang ikut serta atau mengetahui perjanjian tersebut.
Apakah layak jika orang-orang Papua di anggap sebelah mata dan di anak tirikan oleh Negeri ini ? Bukankah sebuah perjanjian wilayah setidaknya harus ada perwakilan dari rakyat yang memberikan suara. Namun kenapa Negara-negara lain pun ikut campur tangan dalam perpolitikan Indonesia. Hinngga saat ini coba di amati bahwa Indonesia di setir oleh Asing dan Aseng.
Justru adanya daya kritis para Mahasiswa bukan di jadikan sebagai bahan olok-olokkan. Mereka pun punya perasaan layaknya dirimu yang tak suka jika perasaan di kecewakan. Akar pokok masalah yang ada di Papua adalah karena penerapan sistem kapitalis sehingga akan muncul berbagai konflik yang berujung pada ketidakadilan.
Seharusnya Negeri ini mengayomi keseluruhan, bukan bertindak jika akan ada ancaman saja baru akan berduyun-duyun menyelesaikan persoalan. Ikatan yang harus terjalin haruslah kuat bukan hanya sebatas ikatan yang semu. Di mana ikatan itu akan kuat jika ada ancaman saja dan akan lemah jika tidak ada ancaman. Ikatan itulah yang di sebut dengan ikatan kebangsaan dan ikatan Nasionalisme.
Jadi wajar jika banyak tindakan Papua yang menginginkan kemerdekaan. Ini bukan untuk Papua saja, bisa jadi wilayah-wilayah lain pun juga akan menginginkan kemerdekaan. Ironisnya, fakta saat ini mendapatkan penyelesaian yang tidak maksimal. Lantas jika Papua merdeka apakah masalah akan terselesaikan ? Justru tidak, karena akan memberikan bukti bahwa Papua masuk dalam cengkraman Amerika Serikat.
Siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan Negeri ini ?
Kemanakah Negara ?
Kemanakah pemimpin Negeri ini ? Di sisi lain masalah Politik, Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan, Keamanan dan lain sebagainya belum tertuntaskan.  Kini masih banyak masalah yang tertinggal dan belum terselesaikan hingga detik ini. [MO/ra]

Posting Komentar