Oleh Nadhifah Zahra 
(Ibu Rumah Tangga)
Mediaoposisi.com-Di beritakan oleh beritajarim.com Warga di perumahan Grisimai, kelurahan Mangunsuman, kecamatan Siman, Ponorogo, pada Minggu (30/6/2019) dikejutkan dengan penggeledahan rumah salah satu warganya. Penggeledahan dilakukan oleh puluhan tim Densus 88 Anti-teror yang berpakaian preman. 
Yang sebelumnya, tim Spesialisasi Pemburu Teroris berhasil menangkap sang pemilik rumah berinisial BT di jalan perbatasan Ponorogo-Wonogiri, Jawa Tengah. Tepatnya di desa Poh ijo, kecamatan Sampung, Ponorogo.

Zainuddin, Ketua RT setempat (1/7/2019) masih merasa tidak percaya dengan penangkapan warganya BT terkait jaringan teroris di Indonesia. Pasalnya BT selama ini interaksi sosial dengan masyarakat di perumahan Grisimai baik-baik saja. 

Aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan, seperti menjadi imam sholat, mengisi kultum di masjid dekat rumahnya. Zainuddin juga mengungkapkan BT juga aktif dalam kegiatan masyarakat seperti kerja bakti maupun arisan.

Selain itu selama tinggal kurang lebih 3 tahun itu, tidak pernah ada kegiatan BT yang mencurigakan warga. Dimana BT tinggal bersama dengan istri dan keempat anaknya. 
Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari penangkapan orang-orang yang diduga sebagai pelaku teroris selalu dilakukan dengan mendadak dengan jumlah petugas yang banyak. Dengan tujuan agar warga di sekitar memberi perhatian dan memberikan efek mengejutkan agar tidak mudah dilupakan.

Pelajaran berikutnya adalah orang-orang yang diduga menjadi pelaku teroris adalah sosok yang rajin ke masjid dan rajin beribadah. Seakan ingin memberikan kesan bahwa orang-orang yang rajin ke masjid dan rajin beribadah adalah orang-orang yang layak dicurigai atau diwaspadai. Padahal belum tentu orang yang ditangkap itu benar-benar terkait kasus terorisme atau salah tangkap.

Hal ini dikuatkan dengan pernyataan Kapolres Ponorogo AKBP Radiant, tidak tahu pasti kelanjutan dari penangkapan tersebut. Diapun tidak berwenang memberi penjelasan lebih lanjut. "Karena mungkin masih pengembangan, Densus 88 hanya menyampaikan ijin masuk wilayah supaya tidak gaduh, ibarat operasi sayap". Ungkapnya (
radarmadiun.co.id)

Maka masyarakat harus mewaspadai adanya upaya-upaya deradikalisasi yang yang ditujukan kepada umat Islam. Sehingga kita tidak boleh memberikan label Islam Radikal kepada orang-orang atau kelompok yang memiliki perhatian lebih terhadap Islam dan memperjuangkan Islam. 
Karena memberikan label Islam radikal pada orang-orang dan kelompok yang memperjuangkan Islam berarti kita telah berhasil diadu-domba oleh musuh-musuh Islam, sehingga kita mencurigai bahkan memata-matai saudara sesama muslim akan yang menguntungkan musuh-musuh Islam. Wallahu a'lam bishowab.[MO/vp]

Posting Komentar