Oleh: Westi Annita Sari

Mediaoposisi.com-Minggu (30/6/2019) Setara Institute memaparkan hasil survei mereka yang bertajuk 'Tipologi Keberagamaan Mahasiswa di 10 Perguruan Tinggi Negeri'. Acara yang digelar di Hotel Ibis Jakarta Pusat ini dipaparkan oleh Noryamin Aini selaku peneliti yang juga merupakan dosen di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Dalam press release-nya, Setara Institue menyatakan bahwa survei tentang Model Beragama Mahasiswa di 10 Perguruan Tinggi Negeri dilakukan sebagai upaya untuk mengenali secara presisi kuantitas problem yang menuntut penyikapan pemerintah dan kalangan perguruan tinggi. 

 Sebelumnya, Setara Institute telah melakukan kajian yang  menggambarkan bagaimana wacana dan gerakan keagamaan tumbuh subur di lingkungan perguruan tinggi dan menurut mereka berpotensi bertransformasi menjadi intoleran, radikal dan bahkan terorisme yang secara langsung mengancam ideologi Pancasila.

Menanggapi temuan mereka mengenai tumbuhnya wacana dan gerakan keagamaan di 10 perguruan tinggi tersebut, butuh baseline yang presisi, sehingga kalangan kampus memiliki baseline dan intervensi yang terukur dalam kerangka demokratik dengan mengadopsi paradigma inclusive governance. Sehingga arus balik indoktrinasi Pancasila dan pilihan penanganan yang represif dapat dihindari.

Penelitian ini sendiri dilakukan di 10 PTN (8 PTN umum dan 2 PTN berbasis Islam) yaitu Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Universitas Mataram, UIN Syarif Hidayatullah, dan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, serta responden penelitian adalah mahasiswa aktif.

Tema utama survei tersebut adalah model beragama di kalangan mahasiswa perguruan tinggi negeri dengan dititikberatkan pada dua masalah utama, yaitu:

1.      Bagaimana kondisi objektif tipologi keagamaan di kalangan para mahasiswa perguruan tinggi negeri?
2.      Apa saja figur/faktor yang mempengaruhi pola keberagamaan mereka?

Setara mendeskripsikan profil responden dalam penelitian tersebut, dengan sampel survei berjumlah 1000 orang dan alokasi sebaran merata masing-masing 100 responden untuk setiap perguruan tinggi. Dari segi usia, lebih dari 3/4 responden umumnya  berusia antara 19 - 21 tahun dan 58% responden berjenis kelamin perempuan. 

Dari segi bidang studi, mayoritas responden (46.2%) berlatar bidang studi ilmu alam, dan (18%) berlatar keilmuan humaniora. Mayoritas (80%) responden mengenyam pendidikan sekolah umum, dan hanya 14% berlatar sekolah agama (madrasah-pesantren). 43% responden mengaku pernah mengenyam pendidikan formal (berijazah) di sekolah agama (madrasah) baik di level sekolah dasar atau menengah. Dari data ini, Setara menyimpulkan bahwa mayoritas respondennya tidak mengenyam pendidikan yang dominan agama di sekolah.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa responden umumnya (99%) masih berstatus mahasiswa aktif kuliah. sedangkan sisanya memasuki semester non aktif (semester 8 atau lebih). 

Ruang interaksi di ranah sosial-keagamaan responden masih sangat terbatas di lingkungan kehidupan kampus, kehidupan keluarga, dan pergaulan di lingkaran teman-teman kuliah. Dari sini, Setara mengisyaratkan bahwa hasil temuan ini sebagai fenomena tipologi keberagamaan generasi muda yang ruang gerak sosial-keagamaan sangat akrab dengan kehidupan kampus. 

Dari segi tipologi keberagamaan mahasiswa. Setara mengungkapkan survei ini menunjukkan bahwa keberagamaan mahasiswa secara umum dapat diklasifikasi ke dalam 6 tipe yang dapat dibagi ke dalam 3 lapis, yaitu lapis pertama adalah lapis keagamaan di ranah publik-kenegaraan, lapis kedua ada di ranah sosial kemasyarakatan, dan dan lapis ketiga di ranah individual.




Pada lapis pertama, formalis artinya responden mengambil sikap bahwa nilai-nilai agama harus diwujudkan dalam instrumen dan kelembagaan formal negara, sedangkan substansialis artinya nilai-nilai agama sudah secara hakiki diakomodasi dalam dasar negara (Pancasila), konstitusi negara, serta institusi dan instrumen turunannya.

Di lapis kedua, eksklusif artinya paham keagamaan mereka tertutup dengan interaksi keagamaan dan sumber-sumber keagamaan yang homogen, sedangkan inklusif artinya paham dan interaksi keagamaan mereka bersifat terbuka dengan akses pada sumber-sumber keagamaan yang heterogen.

Di lapis ketiga, konservatif artinya secara individual mereka memiliki identitas keagamaan yang kuat dengan praktek keagamaan yang kaku sesuai dengan ajaran agama yang mereka yakini, sedangkan sekuler artinya mereka memandang agama sebagai urusan privat sehingga kuat tidaknya identitas dan ekspresi keagamaan benar-benar urusan individual setiap orang.

Dari data tersebut Setara menyimpulkan bahwa di lapis keagamaan pada ranah instrumen dan kelembagaan formal negara walaupun persentase mahasiswa yang sangat formalis adalah sangat kecil, namun diperlukan kewaspadaan tinggi sebab terdapat 24% lainnya yang formalis. 

Sehingga jika tidak ada intervensi yang presisi, hal ini berpotensi untuk bergeser menjadi kelompok sangat formalis, yang dianggap berpotensi menjadi ancaman serius bagi dasar negara Pancasila, UUD 1945, dan sistem demokrasi. Di lapis keagamaan pada ranah sosial-kemasyarakatan, mereka menyatakan perlu mendapatkan perhatian lebih, karena total kelompok moderat dan inklusif hanya sebesar 45,8%, sedangkan 53% lainnya bertipe eksklusif dan sangat eksklusif. 

Tiga isu utama yang harus menjadi perhatian menurut mereka yaitu,  

Pertama, pada lapis pertama kelompok sangat formalis di lingkungan mahasiswa sebenarnya tidak terlalu besar, namun mereka yang bertipe formalis cukup besar, yaitu 24%. Kalau situasi ini tidak ditangani dengan presisi, akan terjadi potensi peningkatan ancaman terhadap negara Pancasila dengan semakin menguatnya kelompok yang menginginkan formalisasi nilai-nilai agama dalam kelembagaan negara dan positivisasinya dalam kebijakan negara. 

Kedua, kecilnya kelompok moderat pada seluruh lapis keagamaan menjadi tantangan tersendiri bagi pegiat demokrasi dan kebangsaan. Ketiga, pada lapis sosial-kemasyarakatan, kekhawatiran terhadap menguatnya eksklusivisme harus semakin besar, mengingat tingginya persentase responden pada kontinum eksklusif dan sangat eksklusif.

Setara menarik kesimpulan bahwa mahasiswa dari kampus agama yang diwakili oleh dua Universitas Islam Negeri memperlihatkan tipe keberagamaan yang cenderung formalis, yang dalam kerangka hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dapat mengganggu ritme kebhinekaan agama dan orientasi paham keagamaan.

Menurut Setara, simpulan di atas harus dicermati dalam bingkai yang lebih luas, yaitu bingkai latar belakang mahasiswa dari kampus-kampus agama tersebut. Hal ini penting mengingat mahasiswa dari kedua kampus tersebut berasal dari segmen siswa yang memiliki watak sosial-ekonomi dan keagamaan yang agak tipikal; yaitu mereka banyak yang berasal dari lingkungan sekolah agama, dari kelompok sosial-ekonomi yang lebih rendah dari rata-rata kualitas sosial-ekonomi kampus lain yang menjadi sampel survei. 

Perihal faktor/figur yang mempengaruhi tipologi keberagamaan mahasiswa, responden menilai bahwa figur/faktor berikut adalah yang mempengaruhi keagamaan mereka, sebagaimana pada Tabel di bawah.



Merujuk data yang disajikan pada di atas Setara menyimpulkan bahwa keberagamaan responden lebih dominan dipengaruhi oleh figur tradisional yaitu orangtua dan guru agama. Di lihat dari rata-ratanya, responden mengaku orangtua merupakan figur/faktor yang paling berpengaruh terhadap keagamaannya disusul oleh pengaruh guru agama menempati tempat kedua. Berikutnya, yang mempengaruhi mereka adalah literatur keagamaan, dosen agama, kemudian sebaya/teman kuliah (peer group) dan media sosial.

Dari data tersebut, mereka menyimpulkan bahwa ruang intervensi kebijakan kampus atas faktor ini sangatlah sempit. Selain keluarga, guru agama mempengaruhi pola keagamaan mahasiswa, karena itu pemetaan latar belakang dan asal sekolah mahasiswa baru akan memudahkan jenis intervensi yang akan dilakukan oleh pihak kampus terhadap pola keagamaan mahasiswa. Di luar itu, kampus tetap memiliki potensi besar untuk menjadi enabling environments bagi bertumbuhnya paham keagamaan yang mengancam toleransi, keberagaman, dan Pancasila sebagai ideologi bhineka dan terbuka, terutama karena dosen agama, literatur agama, dan peer group berpengaruh terhadap tipologi keagamaan mahasiswa.


Peringkat Kampus Berdasarkan Beberapa Kategori Keberagamaan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Fundamentalisme Pendirian Beragama
UIN Bdg
UIN Jkt
UNRAM
IPB
UNY
UGM
UNBRAW
ITB
UNAIR
UI
Konservatisme Beragama
UIN Jkt
UIN Bdg
UNY
IPB
ITB
UGM
UI
UNRAM
UNBRAW
UNAIR
Inklusivisme Internal Umat Beragama
UI
UNAIR
UNBRAW
UGM
ITB
IPB
UNRAM
UNY
UIN Bdg
UIN Jkt
Dukungan terhadap Instrumen Kekerasan Agama
UIN Bdg
UIN Jkt
UNAIR
UNRAM
UNY
IPB
UI
UNBRAW
ITB
UGM
Dukungan terhadap Privatisasi Agama dalam Ranah Publik
UI
UNAIR
UNBRAW
ITB
UNY
UGM
UNRAM
IPB
UIN Jkt
UIN Bdg
Beragama dalam Konteks Bernegara (Prioritas Kepentingan Negara)
UIN Jkt
UIN Bdg
UNY
UNRAM
IPB
UNBRAW
UGM
ITB
UNAIR
UI

*semakin tinggi peringkat berarti semakin setuju dengan kategori yang diteliti

Menurut Noryamin, bila semua tabel di atas digabungkan, maka akan nampak pola rata-ratanya, yaitu mahasiswa dari kelompok UIN Jakarta dan UIN Bandung, UNY, IPB, dan UNRAM memperlihatkan kecenderungan fundamentalisme dan konservatisme yang relatif kuat. Sedangkan kampus yang lainnya cenderung berada di bawah rata-rata.

Peneliti menerima anggapan umum, bahwa mahasiswa ilmu eksakta cenderung lebih konservatif-fundamentalis ketimbang mahasiswa ilmu sosial yang lebih kasual dalam beragama. Namun menurut Noryamin, anggapan umum tersebut belum tentu benar. 

Noryamin melihat mahasiswa yang dididik di pesantren cenderung bisa memahami agama secara lebih menyeluruh (holistik) dan menyadari soal keragaman, namun pengalaman riil mereka berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda agama cenderung kurang. Namun ada pula mahasiswa yang berlatar belakang SMA non-pesantren malah cenderung lebih fundamentalis. Selain itu, faktor orang tua dinilainya punya peran penting. 

Dari hasil survey tersebut, Setara menyimpulkan bahwa:

1.      Kelompok moderat sangat potensial tergerus ke arah pendulum negatif (yaitu konservatif, eksklusif, dan formalis), jika tidak tersedia agenda dan intervensi untuk mencegahnya. Pengaruh terbesar tipologi keagamaan mahasiswa berasal dari orang tua/keluarga. 

     Meskipun demikian, guru agama juga memberikan pengaruh, sehingga pemetaan asal sekolah juga intervensi di tingkat persekolahan akan sangat mempengaruhi tipologi keagamaan mahasiswa di perguruan tinggi. 

   Di samping itu, kampus dapat mempersempit lingkungan yang memungkinkan (enabling environment) konservatisme, eksklusivisme, dan formalism tipologi keagamaan mahasiswa dengan menangani isu-isu pendidikan agama, dan organisasi (keagamaan) mahasiswa yang memberikan ruang bagi eksklusivisme literatur keagamaan dan peer group yang eksklusif dan radikal. Mengambil kebijakan dan mengagendakan program tata kelola pendidikan agama (kurikuler dan ko-kurikuler) dan fungsionalisasi dosen agama untuk memajukan pengetahuan dan sikap keagamaan yang moderat dan inklusif.

2.      Pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, hendaknya mengambil kebijakan dan mengagendakan program untuk memitigasi dan mencegah berkembangnya paham keagamaan yang eksklusif di persekolahan, khususnya di SMA/sederajat, sebab sekolah merupakan pintu masuk awal berkembangnya paham keagamaan eksklusif sebelum berinkubasi di perguruan tinggi.

3.      Pemerintah daerah hendaknya mengambil iniasitif untuk mengintervensi lembaga persekolahan yang berada dalam kewenangan yurisdiksionalnya berdasarkan Otonomi Daerah agar persekolahan menjadi medium bagi pemajuan toleransi, penyebaran moderasi keagamaan, serta penguatan kebinekaan dan ideologi kebangsaan.

Penegakkan syariat; konsekuensi iman seorang muslim

Pemaparan Setara terhadap hasil survey yang dilakukannya, perlu diwaspadai. Penarikan kesimpulan yang mereka buat, mencoba mengaitkan bahwa mahasiswa yang setuju syariat adalah yang berasal dari latar belakang sekolah agama dan kondisi sosial ekonomi lebih rendah dibanding kampus lain serta merupakan mahasiswa ilmu eksakta, mereka pun menambahkan bahwa mahasiswa yang dididik di pesantren cenderung bisa memahami agama secara lebih menyeluruh dan menyadari soal keragaman. 

Hal ini seolah menyatakan bahwa sikap taat terhadap syariat lahir karena kurangnya pengetahuan terhadap agama, sempitnya pemahaman agama yang didapatkan serta kurangnya wawasan terhadap wacana-wacana sosial, juga umumnya dianut oleh orang-orang dengan kondisi social ekonomi rendah.

Ditambah lagi, rekomendasi yang mereka ajukan mengantarkan pada kebijakan politik perguruan tinggi  yang menjauhkan dari ketaatan dan kepatuhan beragama. Ketakutan mereka akan semakin banyaknya mahasiswa yang meyakini kewajiban penerapan syariat islam membuat mereka menghimbau pemerintah pusat maupun daerah untuk mengintervensi sekolah dalam mencegah paham keagamaan.

Hal ini sungguh bertentangan dengan nilai-nilai islam yang sesungguhnya. Islam sebagai solusi akhir bagi problematika pokok manusia, telah memberikan pedoman menyeluruh bagi umat manusia dalam menjalankan kehidupan. Allah telah memberikan peraturan hidup yang wajib dijalankan oleh hamba-hamba Nya. 

Jika manusia tidak menerapkan pedoman ini maka ketika ia mengatur kehidupannya ia akan terjerumus ke dalam kubangan hawa nafsu akibat keterbatasan akal dan kemampuannya. Terutama bagi kalangan mahasiswa yang nantinya akan menjadi penerus bangsa dan calon pemimpin bangsa, maka seharusnyalah memahami islam sebagai pedoman hidup bukan malah sebaliknya.

Berhukum dengan hukum Allah merupakan salah satu konsekuensi keimanan seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka demi Rabbmu, mereka tidak akan beriman sehingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusanmu dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (TQS. An-Nisa: 65)
Islam datang dengan membawa seperangkat hukum yang komprehensif untuk menjawab setiap persoalan yang terjadi pada manusia, kapanpun dan di manapun. Tentang kesempurnaan syariah Islam ini, ditegaskan sendiri oleh Zat Yang Maha sempurna. Karena itu, sekecil apapun mustahil ada kekurangan di sana-sini. Allah SWT berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Kucukupkan untuk kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam menjadi agama kalian.” (QS al-Maidah [5]: 3).

Oleh karena itu, Allah SWT menegaskan bahwa setiap aspek kehidupan manusia, baik yang terkait hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, maupun dengan sesamanya, semuanya telah dijelaskan dalil-dalilnya di dalam al-Quran (QS an-Nahl [16]: 89).

Kesempurnaan syariah itu tidak akan berarti apa-apa bagi manusia tanpa adanya keterikatan dengannya. Karenanya, Allah memerintahkan setiap Muslim agar dalam menjalankan semua aktivitasnya senantiasa sejalan dengan hukum syariah. Bahkan Allah menafikan keimanan mereka yang tidak terikat dengan syariah yang dibawa oleh Rasulullah saw.

Peniadaan keimanan dari mereka yang tidak terikat syariah dipertegas oleh Rasulullah saw dengan sabdanya:

“Tidaklah beriman seseorang di antara kalian hingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (HR Abu Hatim dalam Shahih-nya).

Bagi umat muslim, penegakkan syariat adalah upaya menaati perintah Allah SWT semata, penerapan Islam secara kaffah merupakan kewajiban bagi tiap muslim. Sedangkan sekulerisme dan paham-paham yang lahir darinya, sangat bertentangan dengan islam dan tidak boleh dan tidak layak untuk diambil sedikit pun. Pemahaman inilah yang seharusnya diberikan bagi tiap muslim bukan malah sebaliknya.

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?“ (TQS. Al Maidah: 50)

Wallahu alam bish shawab [MO/vp]

Posting Komentar