oleh: Dara Tri Maulidra, A.md




x
Mediaoposisi.com-Menonton film tak hanya sekedar untuk hiburan semata tetapi didalamnya  tersirat juga pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh penulis dan sutradara. Namun apa jadinya jika film yang dipublikasikan pada khalayak, secara nyata dapat menimbulkan kontradiksi.
Dilansir dari cnnindonesia.com film bertajuk Dua Garis Biru yang sempat memicu kontroversi dan petisi sebelum penayangannya, dalam enam hari film tayang perdana telah meraih lebih dari satu juta penonton. Film tersebut menjadi film Indonesia keenam yang berhasil masuk daftar box office pada tahun 2019.
Film yang berceritakan tentang kisah cinta sepasang anak remaja yang berpacaran melampaui batas menyebabkan anak perempuan di film tersebut hamil. Sejumlah pihak menilai film ini dapat menimbulkan polemik karena dianggap melegalkan kebebasan dalam berpacaran.
Beberapa scene di trailer menunjukkan proses pacaran sepasang remaja yang melampaui batas, terlebih ketika menunjukkan adegan berduaan di dalam kamar yang menjadi rutinitas mereka. Scene tersebut tentu tidak layak dipertontonkan pada generasi muda, penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa tontonan dapat mempengaruhi manusia untuk meniru dari apa yang telah ditonton (sumber: detik.com).
Meskipun film ini dinilai kontroversi tetapi malah menjadikan daya tarik warganet untuk menonton film tersebut. Film ini diangkat oleh sang penulis Gina  S. Noer karena film ini memiliki pesan pentingnya edukasi seks sedini mungkin kepada anak-anak. Dua Garis Biru juga menjadi wadah untuk berdiskusi tentang pernikahan dini yang masih dianggap tabu di Indonesia (cnnindonesia.com).
Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dwi Lisyawardani juga memberikan komentar positif terhadap film ini.
Pernyataan itu tertulis lewat akun Instagram, "Dua Garis Biru bisa menjadi pembelajaran bagi orang tua dalam pola pengasuhan anak dan pentingnya menjaga komunikasi dengan anak agar tidak terjerumus pada perkawinan usia dini," ujar Dwi (sumber: katadata.co.id).
Sebenarnya memang benar film ini representatif dari keadaan pergaulan remaja di Indonesia sekarang,  sebab married by accident atau hamil diluar nikah berada dalam status darurat. Kasus pernikahan di usia muda seringkali terjadi dikarenakan kehamilan yang tidak diinginkan, hal itu tidak hanya terjadi pada kalangan remaja saja tetapi terjadi juga disemua kalangan.
Namun apakah seks edukasi itu sudah tepat sasaran? Dilihat dari pemain film tersebut adalah aktor dan aktris yang masih remaja dimana Fans dari para pemain utamanya adalah sebagian besar dari kalangan anak-anak dan remaja.
Jika anak-anak yang belum baligh menonton sang idola dengan film yang dikemas seperti itu, apakah makna dan pesan implisit film tersebut bisa sampai kepada mereka? Sebab remaja cenderung labil belum bisa menentukan baik atau buruknya apa yang mereka lihat, sehingga perlu kewaspadaan dalam menyuguhkan segala sesuatu yang mengandung kontradiksi didalamnya.
Jika film adalah visualisasi yang tepat namun bila adegan-adegan yang disuguhkan dibumbui dengan adegan jauh dari nilai-nilai keislaman, maka itu perlu menjadi pertimbangan dalam memberikan edukasi terhadap remaja melalui film.
Sebab jika tidak didasarkan pada nilai-nilai agama maka kekhawatiran anak-anak akan meniru apa yang dilihat dan menganggap hal itu wajar terjadi akan menimbulkan masalah. Bukan hanya untuk film dua garis biru tapi untuk semua tontonan yang dapat menjerumuskan generasi kepada perilaku bebas kebablasan dan perbuatan amoral lainnya ini perlu perhatian khusus dari negara.
Namun rezim saat ini tidak berdaya dalam mengendalikan arus liberalisme yang sangat mengagung-agungkan kebebasan. Terbukti film kontroversi atau film-film yang dipetisi tetap tayang selama film tersebut bernilai bisnis menguntungkan dengan trailer dan judul yang menjual.
Sebab jika viral di dunia maya maka akan semakin banyak warganet yang tertarik dengan film tersebut, tentu saja ini bernilai bisnis menguntungkan. Inilah bukti nyata dari perspektif liberalisme dan kapitalisme, kemungkaran dibiarkan tetap berjalan selama  ada nilai keuntungan dan mengabaikan dampak negatifnya.
Selain itu akibat arus liberalisme terlihat dengan terbentuknya opini publik yang mendukung film tersebut karena dinilai film tersebut memberikan sejumlah pelajaran penting, tetapi sangat disayangkan mereka mengabaikan kelayakan tontonan tersebut tepat atau tidak disuguhkan kepada anak-anak dan remaja.
Apabila remaja  sering disuguhkan dengan tontonan ambigu, hal tersebut dapat memunculkan opini dikalangan mereka, contohnya bahwa pacaran itu boleh tetapi jangan sampai hamil. Na'uzubillah.  Opini kebebasan inilah yang dapat menghancurkan generasi muda.
Berbeda dengan perspektif film dalam Islam, bahwa film menjadi sarana dakwah dan edukasi rakyat, bukan keuntungan materi yang menjadi tujuan utama dalam pembuatan film. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam produksi film agar sesuai dengan syariat Islam tentunya.
Seperti halnya edukasi tentang hamil diluar nikah perlu dipertajam bagaimana masalah tersebut dalam perspektif Islam, sebab masih banyak umat muslim yang belum mengetahui hukumnya menurut Islam. Edukasi bahwa hukumnya menikah dalam keadaaan hamil sah atau tidak. 
Itulah pentingnya mengedukasi anak-anak bahwa Islam melarang setiap muslim mendekati perbuatan zina. Demikian juga pesan implisit film harus dapat tersampaikan secara tepat sasaran dan tidak menimbulkan polemik didalamnya, rujukannya pun harus  jelas yaitu bersandar pada Al Qur'an dan As Sunnah.
Jangan sampai film yang disuguhkan itu menjadi bumerang. Islam memandang bahwa negara berperan utama dalam mengendalikan produksi film agar berada dalam batas-batasan hukum syara. [MO/sg]

Posting Komentar