Oleh: Nurul Rachmadhani 

Mediaoposisi.com-Lagi dan lagi, kasus narkoba di negeri ini seolah tak pernah usai. Mulai dari pendistribusiannya yang semakin marak dan berbagai macam cara hingga ke penggunanya dari berbagai kalangan dan usia. 

Masih hangat kasus narkoba yang menjadi perbincangan publik, saat Nunung Srimulat (56) beserta suami digerebek oleh polisi kedapatan narkoba jenis sabu di kediamannya pada Jumat, 20/7/'19 lalu.

Bahkan Nunung yang kini sudah ditetapkan menjadi tersangka mengakui bahwa dirinya sudah 20 tahun mengkonsumsi barang haram ini, dengan alasan untuk menjaga stamina di tengah sibuknya jadwal pekerjaan sebagai artis lawak di televisi (liputan6.com,20/7/'19).

Kini, tak berselang lama kasus serupa terulang kembali. Kali ini yang tertangkap adalah seorang aktor muda yang membintangi banyak film remaja juga menjadi idola remaja.

Jefri Nichol (20), dirinya tertangkap karena kasus kepemilikan dan penyalahgunaan narkoba jenis ganja pada Selasa, 23/7/'19. Dalam penggeledahan polisi menemukan barang bukti berupa ganja sebanyak 6,01 gram (detikcom, 23/7/'19).

Kasus narkoba yang menjerat artis saat ini bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya banyak artis yang sudah terjerat kasus yang sama, bahkan kasus serupa pun tak hanya menimpa artis, tapi pejabat, anggota dewan, bahkan aparat pun ada. Apalagi rakyat biasa yang tak terekspos oleh berita, banyak menyeruak. Miris. 

Benang Merah dari Sumber Masalah

Sungguh prihatin, narkoba seolah tak pernah usai di negeri ini, bukan berkurang tapi bertambah. Merajalela. Tak pernah selesai permasalahannya, karena tak ada keseriusan hukum dalam membasmi barang haram ini. Pengedarnya tak diberi hukuman jera, penggunanya hanya direhabilitasi dan bayar denda. 

Masalah narkoba bukanlah masalah baru, sudah lama terjadi dan masih menghantui hingga kini. Padahal penanganan masalah narkoba seharusnya bisa serius ditindak, karena keberadaanya sudah mengancam setiap generasi negeri. 

Walaupun sebenarnya, narkoba tak mengenal usia. Tua muda bisa menjadi sasarannya. Namun, mau jadi apa negara ini ketika yang tua saja menjadi contoh buruk, apalagi yang muda? Bisa rusak  generasi dan negeri ini. 

Tidak bisa dipungkiri sumber masalah makin maraknya kasus narkoba adalah sistem sekuler yang sedang diemban negara ini. Sehingga kita dapat menarik benang merahnya mana yang harus diperbaiki agar masalah serupa tak terulang kembali. 

Benar, benang merah itu adalah sistemnya yang harus berubah. Karena bukan hanya individu dan masyarakat saja yang harus memiliki kontrol terhadap tatanan kehidupan, tapi negara juga ikut berperan mengontrol kehidupan masyarakat di dalamnya.

Karena sistem sekuler yang memisahkan kehidupan dari agama, membuat setiap individu bebas melakukan apapun  tanpa melihat apakah perbuatannya diridhai Allah atau tidak. 

Selain itu, seharusnya negara dan aparat hukum bisa bekerja sama dalam menangani kasus narkoba. Serius, tegas, dalam menyikapi masalah ini. Memberikan hukuman yang menimbulkan efek jera pada siapa saja yang telah menyalahgunakan keberadaan narkoba. Karena narkoba bukan hanya mengancam jiwa tapi juga dapat merusak negara. 

Efek Jera dalam Sistem Mulia 

Maka sudah seharusnya, negara bisa menyelesaikan kasus serupa dengan tuntas, karena negeri ini sudah darurat narkoba. Hanya saja masalah tak akan tuntas bila masih berada dalam sistem yang sama. Yang ada masalah serupa akan kembali tanpa ujung yang tak pasti. 

Padahal sudah terlihat, benang merah dari sumber masalah adalah karena kebobrokan sistem saat ini yang menyuburkan perkembangan narkoba di negeri ini.

Bila saja sistem yang digunakan berlandaskan Islam, yang mana setiap perbuatannya selalu berkaitan dengan agama, maka manusia akan berpikir seribu kali dalam melakukan hal yang diharamkan. 

Belum lagi, saat negara menggunakan hukum dengan sistem Islam, itu juga akan memberikan efek jera pada yang bersangkutan. Sehingga tak mudah bagi mereka untuk mengedarkan, memiliki, menggunakan barang haram tersebut, sekalipun hanya coba-coba, karena sadar akan mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. 

Jelas, hukuman yang dapat menghasilkan efek jera hanya bisa dilaksanakan ketika sistem Islam yang digunakan. Bukan kejam tapi justru mulia, karena dengan begitu tidak ada lagi yang tertimpa kasus serupa. 

Wallahu’alam bishowab.[MO/sg]

Posting Komentar