Oleh: Wulandari Muhajir
(Mahasiswi FKIP Unismuh Makassar)

Mediaoposisi.com- "Tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang abadi" ungkapan dari salah seorang pendukung 02. Ungkapan yang menunjukkan dalam hatinya yang kacau, ada luka besar yang menganga atas tragedi MRT Lebak Bulus.

MRT Lebak Bulus yang menjadi TKP atas pembantain kepercayaan rakyat pendukung 02. Rekonsiliasi antara Prabowo dan Jokowi menyisakan kekecewaan masyarakat yang sedari awal telah berjuang bersama Pak Prabowo dalam menguliti keganjilan dan kecurangan pilpres. 

Emak-emak yang turun jalan, korban kerusuhan 21-22 Mei, ulama yang ditangkap dan dikriminalisasi, pembubaran ormas yang berusaha menegakkan keadilan dengan syariah Allah. Perjuangan itu seolah sirna beriringan tawa antara Pak Prabowo  dan Pak Jokowi dalam laju kereta. 

Apakah Pak Prabowo yang dari awal telah berkomitmen dibarisan rakyat untuk menegakkan kebenaran, justru berbelok dan meninggalkan pasukannya?.

Tragedi MRT Lebak Bulus itu pun menuai pro dan kotra. Dari pihak pro berpendapat bahwa duduknya antara petahana dan oposisi dalam satu meja menandakan kembalinya kedamaian di Negeri Indonesia. Duduk santainya  dua belah pihak yang sempat bersitegang ini berujung pada sebutan 'cebong' dan 'kampret' menjadi almarhum.

Lain lagi pada pihak kontra yang justru mengangap ini adalah langkah awal perjuangan. Pasalnya mereka (para oposisi) tidak lagi bernaung di belakang nama Prabowo. Tragedi MRT menandakan Prabowo telah membiarkan Jokowi berhadapan langsung dengan rakyat.  

Rakyat yang sedari awal telah kenyang janji-janji kampanye yang tak pernah terealisasi. Janji yang harusnya memakmurkan rakyat tapi justru menyerang rakyat hingga terkapar.

Benarkah Pak Prabowo Telah Berpaling?

“Sepertinya pengumuman hasil pilpres oleh KPU dan pengumuman sidang MK telah berhasil menumbangkan Pak Prabowo” ungkapan para pendukung yang kecewa. Tapi sepertinya tak perlu banyak berspekulasi, tragedi MRT suatu hal yang lumrah di negeri dengan sistem kapitalis.

Negeri yang berasas pada manfaat semata, yang ikatannya berasas pada kepentingan. Yang mana ikatannya berupa ikatan yang  temporal, anggotanya hanya diikat pada kemaslahatan (kepentingan) semata. Jika tujuannya (kepentingannya) sudah tercapai maka ikatan itu akan melemah dan bisa jadi hilang.

Koalisi yang terbentuk diawal perjuangan, untuk memenangkan Pak Prabowo nyatanya berakhir pilu, ikatan demi ikatan mulai melemah dan hilang. Kekecewaan dari pendukung dan pengusung, serta emak-emak milenial. 

Bahkan hastag #unfollowprabowo mewarnai jagad media sosial. Benarlah ucapan Khalifah Ali Bin Abu Thalib "Tidak lah aku merasakan kepahitan hidup selain berharap kepada manusia". Karena demikianlah tabiat manusia. Mereka dengan mudahnya dibutakan oleh harta dan tahta.

Solusi Islam atas Tragedi MRT

Tragedi MRT adalah buah dari sistem sekuler, sistem yang hanya berdasar pada manfaat, tanpa memperhitungkan mudharatnya. Sistem sekuler yang melahirkan liberalisme, maka kebenaran bukan lagi menjadi standar yang terpenting adalah kepuasan. 

Sedangkan dalam sistem islam yang dijunjung tinggi adalah kebenaran yang mutlak dari Allah, Sang Pencipta yang tahu seluk beluk akan ciptaan-Nya. Sehingga kemaslahantan rakyat bukan lagi janji kampanye belaka.

Teladan kemaslahatan rakyat ketika aturan Allah diterapkan ada pada saat negara khilafah masih tegak. Negara Khilafah dalam mencari pemimpin bukan dengan menumbalkan rakyatnya. 

Pemimpin yang dicari bukan pemimpin yang haus kekuasaan, akan tetapi pemimpin yang amanah, yang siap berada digarda terdepan untuk menegakkan kebenaran. Seorang pemimpin memimpin karena ketakutannya kepada Allah.

Kisah teladan ketika islam memimpin peradaban datang dari Umar bin Abdul Aziz dibai'at menjadi pemimpin (khalifah). Namun  Umar bin Abdul Aziz justru menagis lantaran membayangkan betapa beratnya pertanggungjawaban ketika duduk di tampuk kekuasaan. Pertanggungjawaban dalam mengurus umat, dan lebih lagi pertanggungjawaban di pengadilan Allah kelak. 

Hasilnya kegemilangan dan kemakmuran pun mewarnai masa pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dan juga negara khilafah islamiyah ikatannya bukan ikatan kepentingan belaka, tapi ikatan yang mengikat rakyat adalah ikatan ideologi islam. 

Ikatan terkuat diantara ikatan yang lainnya yang ada dimuka bumi. Ikatannya tidak terikat waktu, emosional, dan kepentingan seperti koalisi partai yang dibentuk untuk memenangkan kandidat. Ikatan ini menguat ketika mempromosikan kandidatnya, namun ketika kandidatnya berhasil merebut tahta kekuasaan, maka mereka yang awalnya berloalisi akan saling sikut untuk berebut kursi.

Maka hanya ikatan ideologi islam yang  mengikat masyarakat secara mendasar dan mengakar. Dalil al-Quran yang menerangkan ikatan yang hakiki yaitu:

إِنَّمَا الْمًؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ  وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Sungguh orang-orang Mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian dirahmati (TQS al-Hujurat [49]: 10).

Ayat ini menghendaki ukhuwah kaum Mukmin harus benar-benar kuat, bahkan lebih kuat daripada persaudaraan karena nasab (Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, VIII/212).

Karena bersaudara, normal dan alaminya kehidupan mereka diliputi kecintaan, perdamaian dan persatuan. Jika terjadi sengketa dan peperangan di antara mereka, itu adalah penyimpangan yang harus dikembalikan lagi ke keadaan normal dengan meng-ishlâh-kan mereka yang bersengketa, yakni mengajak mereka untuk mencari solusinya pada hukum Allah SWT dan Rasul-Nya (Al-Qasimi, Mahâsin at-Ta’wîl, VIII/529).

Selanjutnya berdasarkan ayat di atas, takwa harus dijadikan panduan dalam melakukan ishlâh dalam semua perkara. Dalam melakukan ishlâh itu, kaum Mukmin harus terikat dengan kebenaran dan keadilan; tidak berbuat zalim dan tidak condong pada salah satu pihak (Wahbah az-Zuhayli, Tafsîr al-Munîr, XXV/239).

Artinya, sengketa itu harus diselesaikan sesuai dengan ketentuan hukum-hukum Allah SWT, yakni ber-tahkîm pada syariah. Dengan begitu mereka akan mendapat rahmat-Nya.
Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا

Berpeganglah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai (TQS Ali Imran [3]: 103).

Imam Ibnu Katsir (Tafsîr al-Qur'ân al-'Azhîm, I/477) menyatakan bahwa tali Allah (habl Allâh) adalah al-Quran. Siapapun yang berpegang teguh pada al-Quran berarti berjalan di atas jalan lurus. Ayat tersebut merupakan perintah Allah SWT kepada mereka untuk berpegang pada al-jamâ‘ah dan melarang mereka dari tafarruq (bercerai-berai).

Dalil tersebut mengindikasikan betapa Allah tidak suka dengan yang namanya bercerai-berai. Sehingga umat muslim harusnya mempunyai ikatan yang kuat yang berupa ideologi islam sebagai satu-satunya ikatan yang benar dan kuat. Bukan ikatan yang dibangun diatas kepentingan apalagi atas emosional semata.

Khilafah Selamatkan Negeri

Jadi khilafah bukan lagi sesuatu yang membuat umat islam takut terhadap ajarannya sendiri (islamofhobia), apa lagi sampai memusuhinya. Karena khilafah adalah solusi dari problem umat atau penyakit umat yang sudah komplikasi saat ini. Khilafah adalah negara yang tujuannya untuk meri'ayah umat, melakukan kepengurusan terhadap umat.

Hanya khilafah yang bisa melahirkan pemimpin yang takut kepada Allah (amanah). Dan hanya khilafah yang mampu mengikat masyarakat dengan ikatan yang kuat dan benar, sehingga tidak ada perpecahan dalam negara.

Negara Khilafah beda kasta dengan negara demokrasi yang bernaung di bawah sistem sekuler kapitalis. Negara dengan sistem sekuler kapitalis hanya menzhalimi rakyat. Hanya karena ambisi ingin melanggengkan kekuasaan, maka kepercayaan rakyat ditumbalkan dan darah-darah rakyatnya pun ditumpahkan.

Pembantaian kepercayaan masyarakat akan terus berkelanjutan, ketika demokrasi masih menggurita dari sabang sampai merauke. Maka masyarakat harus cuci tangan dari demokrasi dan beralih pada solusi yang hakiki, yaitu khilafah islamiyah.

Negara yang menerapkan aturan Allah Azza wa Jalla secara Kaffah. Negara yang menjadikan islam sebagai sistem yang pengatur kehidupan untuk kemaslahatan manusia. Karena islam adalah rahmatan lil alamin, islam adalah solusi untuk segala problem. 

Khilafah bukanlah ancaman, maka dari itu seluruh umat harusnya saling merangkul untuk menegakkan kembali mahkota kewajiban menuju kebangkitan.
Wallahu'alam bish shawab. [MO.IP]

Posting Komentar