Oleh : Reni Rosmawati
Member Akademi Menulis Kreatif
Regional Bandung



Mediaoposisi.com-"Kasihan sekali manusia"
"Ia tak mengetahui kapan ajal tiba"
"Tubuhnya adalah tempat penyakit"
"Segala perbuatannya selalu dicatat"
"Kutu kecil pun bisa menyakitinya"
"Ia bisa mati hanya dengan tersedak"
"Dan baunya busuk hanya karena keringat". (Sayyidina Ali bin Abi Thalib).

Itulah sebait kata-kata mutiara dari salah satu sahabat Rasulullah SAW yang juga merupakan menantu beliau, Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Kata-kata mutiara tersebut cukup menggambarkan betapa lemahnya manusia. Mulai dari awal manusia dilahirkan dalam keadaan lemah hingga sepanjang kehidupannya. Ia tak memiliki kekuatan sedikit pun selain kekuatan yang diberikan oleh Allah SWT. Lantas apa yang hendak disombongkan manusia dari semua kelemahan ini? 

Dibalik kelemahannya, sebagian manusia terkadang sombong dan berani bersikap lancang. Merasa tahu hakikat baik dan buruk bagi dirinya. Tak jarang mereka merasa lebih tahu dari Allah SWT dan kemudian berani menyingkirkan petunjuk Allah SWT (Islam). Bahkan mengajak manusia lain untuk menyingkirkan Islam dari kehidupan mereka.

Segala cara ditempuh manusia untuk menjauhkan diri dari petunjuk (Islam). Seperti salah satunya yang terjadi baru-baru ini agama (Islam) yang merupakan pondasi kokoh kehidupan bagi umat muslim kini diusik dengan wacana dihapuskannya dari kurikulum sekolah. 

Dikutip oleh fajar.co.id (04/072019), Praktisi pendidikan, Setyono Djuandi Darmono, baru-baru ini membuat statemen yang cukup mengusik ketenangan berbagai elemen masyarakat di negeri ini. Lewat usulannya ini, Darmono telah sukses mencuri perhatian khalayak ramai. Banyak pihak yang menyayangkan usulan praktisi pendidikan ini karena dianggap bertentangan dengan pancasila. Tak sedikit pula warga yang merasa resah dengan wacana ini, terutama keresahan ini datang dari umat muslim yang bingung memikirkan nasib anak mereka kedepannya. 

Sebagaimana kita ketahui sebelumnya, praktisi pendidikan Setyono Djuandi Darmono mengusulkan   agar pendidikan agama Islam tidak perlu diajarkan di sekolah. Menurutnya, agama cukup diajarkan orang tua masing-masing atau lewat guru agama diluar sekolah. Lebih lanjut, Darmono menilai bahwa jika agama dijadikan identitas justru akan memicu radikalisme yang menjadi biang kehancuran di negeri ini. 

Ketika bangsa Indonesia hancur oleh radikalisme, belum tentu negara tetangga yang seagama bisa menerima. Alasan lainnya adalah jika agama diajarkan di sekolah maka siswa akan dibedakan ketika pelajaran agama. Dengan itu sekolah tanpa sadar telah menciptakan perpecahan. 

Sontak saja ide yang digagas Praktisi Pendidikan, Setyono Djuandi Darmono ini mendapat banyak penolakan. Salah satu penolakan muncul dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Melalui ketua fraksi PKS, Jazuli Juwaini, PKS dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id menyatakan menolak secara tegas ide penghapusan pendidikan agama di sekolah. PKS menganggap wacana itu merupakan bagian dari upaya sekularisasi yang bertentangan dengan pancasila UU 1945 dan tujuan pendidikan nasional yang menekankan nilai-nilai pendidikan agama di sekolah. 

Jazuli pun menyayangkan wacana ini muncul seiring dengan konsentrasi bersama untuk memperkuat dan mengefektifkan materi muatan pendidikan agama di sekolah. Sehingga membentuk siswa yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. 

Sebenarnya wacana penghapusan pendidikan agama (Islam) di sekolah ini, bukan pertama kalinya terjadi. Sebab, tahun 2017 lalu, telah heboh perihal kabar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang menyatakan akan meniadakan pelajaran agama di kelas dan akan menggantinya dengan pendidikan (agama) di Madrasah Diniyah, atau di Masjid. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy berdalih, rencana itu terkait pemberlakuan waktu kegiatan belajar 5 hari sekolah. Namun ide ini mendapat penolakan keras dari masyarakat tak terkecuali dari ormas Islam, MUI dan anggota DPR yang menanggapi dingin dan menyarankan agar Muhadjir mengurungkan niatnya tersebut. (Tribunnews.com).

Menilik fakta diatas, dimana gagasan dihapuskannya pendidikan agama (Islam) di sekolah terjadi beberapa kali atau lontaran gagasan itu bukanlah hal yang baru. Maka kita bisa menyimpulkan bahwa substansi dari gagasan itu tidak lain adalah sekularisme dan sekularisasi khususnya. Seruan itu berusaha menempatkan agama sebagai urusan pribadi (privat dan personal). Seruan itu juga mengajak agar agama tidak diikutsertakan dalam kehidupan publik, termasuk harus disingkirkan dari kehidupan politik. 

Padahal jika kita melihat dekadensi moral di negeri ini, dimana kasus korupsi, suap yang dilakukan pejabat negara, tindak kejahatan dan asusila yang bahkan dilakukan oleh para remaja sungguh memprihatinkan setiap hari mewarnai media berita. Tentu hal ini salah satunya dikarenakan minimnya pendidikan agama dan merebaknya pemikiran sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan yang telah menjangkiti manusia. 

Salah satu akibat dari pemikiran sekuler ini adalah betapa banyaknya orang pintar tapi tak bermoral karena tak mengenal agama. Sehingga menggunakan ilmunya untuk membuat kerusakan dan merugikan orang lain. Jika pendidikan agama di sekolah dihapus maka bisa dipastikan sekolah hanya akan mencetak generasi yang hanya paham ilmu dunia namun buta ilmu akhirat.  

Dalam Islam, menerapkan ilmu (agama) bukan hanya di lingkungan keluarga, melainkan agama dijadikan aturan dan acuan dalam semua lini kehidupan. Baik dilingkungan sekolah masyarakat maupun negara. Apalagi jika dilihat dari kacamata Islam, agama adalah pedoman hidup, pondasi, landasan, serta standar dalam menentukan baik dan buruk. Jika pendidikan agama di sekolah dihapuskan maka tak dapat dibayangkan bagaimana kekacauan dan kerusakan yang akan terjadi menimpa masa depan generasi kita. 

Seruan untuk menghapus pelajaran agama (Islam) dari sekolah jelaslah bertentangan dengan Islam. Pasalnya, kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh). Hal ini sebagaimana firman Allah SWT;

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS. al-Baqarah [2]:208). 

Ayat diatas menjelaskan kepada kita, bahwa kita harus masuk ke dalam Islam secara total tidak setengah-setengah. Maka jika kita mengikuti seruan untuk menghapus pelajaran agama (Islam) dari sekolah berarti jelas kita telah mengikuti langkah-langkah setan. Sayangnya, seruan untuk menghapuskan pelajaran agama (Islam) ini datang dari umat muslim sendiri. Seolah mereka  phobia terhadap agama mereka sendiri. Berbagai upaya mereka lakukan untuk menjegal dan memadamkan agama Allah. Kasus seruan untuk memadamkan agama Allah ini, hanyalah salah satu kasus yang muncul ke permukaan.  

Dari sini, bisa disimpulkan bahwa gagasan agar agama (Islam) tidak diajarkan di sekolah tiada lain adalah upaya mereka melakukan deislamisasi. Tujuannya jelas untuk memadamkan ghirah kaum muslimin dan menjauhkan mereka dari Islam. Mengingat sejauh ini, berpuluh-puluh tahun lamanya tak ada persoalan dengan agama di negeri ini khususnya Islam sebagai agama dengan pemeluk mayoritas. Baru beberapa tahun belakangan ini dimunculkan isu seolah-olah agama (Islam), seruan dan kajian keIslaman menjadi pemicu radikalisme, perpecahan, dsb. 

Isu atau tuduhan radikalisme lebih merupakan framing dari pihak luar untuk menyudutkan Islam dan menghalangi geliat kebangkitan umat Islam. Tuduhan Islam menjadi penyebab kekisruhan dan perpecahan hanya sekedar tuduhan tanpa bukti. Karena pada faktanya Demokrasilah biang dari segala kekisruhan, kecurangan serta persaingan dalam memperebutkan tampuk kekuasaan. Bahkan maraknya korupsi di negeri ini juga sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam.

Sudah banyak sekali ahli yang mengatakan, maraknya korupsi di antara faktor utamanya adalah proses demokrasi yang mahal. Selain itu, adanya segudang problem ekonomi pun tidak bisa dipisahkan dari sistem ekonomi kapitalis-liberal yang merupakan anak turunan dari sistem demokrasi yang diadopsi di negeri ini. 

Maka jelaslah, berbagai kerusakan yang terjadi di negeri ini akibat diterapkannya sistem yang salah. Sistem yang bertentangan dengan Islam. Segala kerusakan yang timbul tiada lain karena manusia berpaling dari Islam dan ajarannya. Gagasan menghapuskan pelajaran (Islam) dari kurikulum sekolah bukanlah solusi tapi hanya akan menambah rentetan masalah baru dan akan memperparah kerusakan di muka bumi ini. 

Untuk menyelesaikan aneka problem dan memperbaiki kehidupan masyarakat, yang harus dilakukan justru kembali kepada Islam yaitu dengan menerapkan Islam secara kaffah. Karena hanya Islam lah satu-satunya solusi bukan yang lain. Maka dari itu bersegera kembali kepada Islam dan mewujudkannya dalam kehidupan dengan penerapan secara kaffah dalam bingkai khilafah merupakan kewajiban dan tanggung jawab setiap umat muslim. 

Wallahu a' lam bi ash-shawab.[MO/sg]

Posting Komentar