Oleh : Siti Masliha, S.Pd
(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Mediaoposisi.com-Pembunuhan adalah suatu perbuatan yang disengaja untuk menghilangkan nyawa seseorang. Pembunuhan biasanya dilatarbelakangi oleh bermacam-macam motif, misalnya politik, kecemburuan dendam, membela diri, dan sebagainya. 

Pembunuhan dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara. Pada  zaman sekarang ini yang paling umum cara yang digunakan adalah dengan menggunakan senjata api atau senjata tajam ataupun dengan racun.

Peristiwa berdarah terjadi di Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polsek Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Kamis (25/7/2019). Pada pukul 20.50, tujuh tembakan kenai Bripka Rahmat Efendy. Dia ditembak rekannya sesama anggota polisi, Brigadir Rangga Tianto hingga tewas.

Brigadir Rangga menembak Bripka Rahmat pada bagian dada, leher, paha, dan perut menggunakan senjata api jenis HS 9.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, peristiwa penembakan di Polsek Cimanggis diduga disebabkan oleh seorang anggota polisi yang terpancing emosi. Anggota polisi berpangkat Brigadir dengan inisial RT emosi lantaran rekannya, Bripka RE menolak permintaannya dengan nada kasar. Keduanya tengah menangani kasus tawuran. Awalnya, Bripka RE mengamankan seorang pelaku berinisial FZ dengan barang bukti senjata tajam. (kompas.com)

Kasus pembunuhan di Indonesia angkanya cukup tinggi. Menurut Markas Besar Polri mencatat ada 625 kasus pembunuhan yang terjadi di seluruh wilayah di Indonesia dalam kurun waktu Januari-Oktober 2018. 

Dari 625, polisi berhasil mengungkap 574 kasus pembunuhan. "Sekitar 92 persen berhasil kami ungkap," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan pada Kamis, 22 November 2018. 

Dari keseluruhan jumlah kasus yang terungkap, Dedi mengatakan 80 persen pelaku dan korban pernah berinteraksi atau memiliki hubungan. Sementara, kata Dedi, 20 persen lainnya merupakan pembunuhan di mana korban dan pelaku tidak saling kenal.

Sakit hati atau tersinggung menjadi salah satu penyebab pembunuhan. Sebagaimana contoh kasus yang pembunuhan polisi yang baru saja terjadi di Cimanggis Depok. 

Selain itu alasan ekonomi juga sebagai salah satu pemicu terjadinya pembunuhan. Kondisi negara yang semakin hari semakin terpuruk, jumlah pengangguran yang semakin meningkat. Hal ini yang membuat orang untuk berfikir “instan” untuk tetap menyambung hidup. 

Himpitan ekonomi membuat banyak orang yang gelap mata akhirnya melakukan aksi pembunuhan. Kasus perampokan yang menghilangkan nyawa korban, kasus bajing loncat yang korbannya juga dibunuh dan masih banyak lagi.  Masalah cek-cok suami istri karena keterpurukan ekomoni juga banyak yang berakhir dengan pembunuhan.

Penyalahgunaan senjata api jg menjadi salah satu pemicu pembunuhan. Aparat negara yang yang dibekali senjata api untuk mengamankan negara justru disalah gunakan untuk melakukan pembunuhan. 

Seperti kasus yang baru terjadi di Depok aparat menyalahgunakan senjata api yang diamanatkan kepadanya sehingga mengakibatkan nyawa melayang. Selain kasus ini, banyak kasus penyalahgunaan senjata api oleh aparat yang mengakibatkan nyawa seseorang melayang.

Selain itu negara juga abai dalam mengurusi kasus-kasus pembunuhan yang terjadi di Indonesia. Negara lupa bahwa kasus ini sudah pada tahap yang memprihatinkan. Korbannya dari anak-anak hingga orang tua. Sanksi yang tidak tegas membuat para pelaku tidak jera. 

Selain ini sanksi yang ringan ini juga bisa memberikan contoh pada orang lain untuk melakukan perbuatan yang sama. Hukuman penjara ternyata tidak bisa menyelesaikan masalah. Belum lapi pemberian remisi dari presiden kepada pelaku pembunuhan membuat sanksi semakin ringan.

Soluli untuk mencegah Terjadinya Pembunuhan  

Dalam islam satu nyawa manusia sangatlah berharga. Sebagaimana didalam hadits:
Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Maka ketika ada kasus pembunuhan negara sebagai institusi penegak hukum akan menegakkan hukum sesuai dengan aturan Allah. Aturan ini berfungsi sebagai jawazir dan jawabir. Jawazir artinya penebus dosa bagi orang yang mekukan pembunuhan. Jawazir artinya hukuman ini sebagai pencegah orang lain untuk berbuat pembunuhan.

Hukuman duniawi terhadap seorang pembunuh dalam Islam sangatlah berat yaitu dibunuh balik sebagai hukuman qishash ke atasnya. 

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (QS. al-Baqarah: 178).

Sementara hukuman ukhrawi-nya adalah dilemparkan dalam neraka oleh Allah SWT suatu masa nanti, sesuai dengan firman-Nya: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. an-Nisa’: 93)

Bagi pembunuh yang sudah dimaafkan oleh keluarga terbunuh sehingga bebas dari hukuman qishash, wajib baginya membayar diyat kepada keluarga terbunuh sebanyak 100 ekor unta. [MO/vp] 

Posting Komentar