Oleh : Nasrudin Joha
Mediaoposisi.com-Gerindra bermain api, mau menyala tapi tanpa asap, mau dapat komitmen 'isitas' dari pertemuan Prabowo - mega, tapi tak mau kehilangan elektabilitas partai dan Prabowo. Mulai beredar, pledoi Gerindra yang meminta semua pihak berprasangka baik, semua ikhtiar demi kebajikan umat, bangsa dan negara, bahkan juga sempat menjual narasi 'pembebasan HRS' dan sejumlah tawanan politik peristiwa 21-22 Mei.

Sudahlah, tak perlu bersilat lidah. Apa yang kami lihat dan rasakan, tak mungkin hilang dengan sejumlah klarifikasi dan tanggapan. Kami juga tidak menyayangkan, silahkan saja berpesta, toh selama ini pesta elit selalu eksklusif.

Kami ini cuma rakyat biasa, yang didatangi saat pemilu, yang disanjung saat kampanye, digelorakan saat sengketa, dan ditinggalkan setelah putusan sengketa. Kami tahu, paham bahkan sangat paham. Kami tidak kecewa kok, hanya kami bisa lebih banyak belajar tentang rusaknya demokrasi.

Pemandangan yang kami saksikan hari ini, foto mesra itu, makan enak itu, senyum hangat itu, tentu tak akan mungkin kami sandingkan dengan tangisan kami. Disana, telah disusun sejumlah rencana untuk berbagi kuasa. Sementara kami, telah terbiasa untuk menanggung beban dan derita. Air mata kami telah kering.

Kami sadar, selama ini berada diantara mulut harimau dan mulut buaya. Kami sadar, diantara buaya dan harimau itu juga belum semua sepakat berbagi mangsa. Kehangatan dengan kubu oposisi, jelas memantik rasa marah dan kejengkelan kubu koalisi. Itu biasa, semua khawatir Ga kebagian jatah kekuasaan.

Bagi saja, ambil semua, bagi diantara kalian secara adil ! Tapi yakin, kalian akan kerah ! Akan saling cakar ! Karena, untuk melawan rakyat kalian akan sependapat, tapi kalian tak akan pernah sepakat perihal bagian kursi kekuasaan.

Semua, akan merasa paling punya andil, hingga partai yang paling buncit sekalipun. Yang baru mendekat dan merapat, akan menjual saham legitimasi. Yang awal berjibaku, akan menagih elektabilitas yang telah disumbangkan. Semua minta kompensasi kekuasan, mustahil cuma kerja bhakti politik.

Gerindra tak usah menyalahkan rakyat menjauhi partai, sebagaimana kami juga tak menyalahkan Prabowo meninggalkan kami. Sudah, saling berbesar hati saja. Kami sudah ridlo kehilangan Prabowo, dan kalian juga harus ridlo kehilangan kami.

Kami, telah mengambil hikmah yang sangat besar dari semua ini. Kami, tidak akan lagi melabuhkan perjuangan pada individu atau tokoh tertentu. Kami, hanya akan mengusung Islam dan mempercayakan sepenuhnya masa depan kami kepada syariat Islam.

Mengidentifikasi dan memisah alamiah sejak dini, itu lebih baik bagi perjuangan kami. Ketimbang kami harus berjuang dan menjadi korban berulang kali.

Kami siap Syahid dan mati berulang kali bagi kemuliaan agama Islam, tapi untuk dikhianati bagi kami cukup satu Kali. Kami, tak akan menuntut lagi, sebagaimana Anda juga tidak bisa mengikat kami lagi.

Kami hanya berpegang teguh pada Islam, akan mengikat damai dengan siapapun yang mentaati Islam dan mengumumkan melawan pada siapapun yang mengkhianati syariat Islam. Bagi kami, ladang 
dakwah ini akan kami cangkul dan kami tebar benih risalah Islam, agar kelak buah politik Islam, tegaknya syariah Islam, dapat kami petik dalam keadaan ranum dan manis buahnya. [MO/vp].

Posting Komentar