Oleh : Kiki Amelia

Mediaoposisi.com- Perempuan dengan segala hal yang diberikan Allah kepadanya berupa kelembutan dan rasa kasih sayang yang. Tugas mulia yang diembannya, penjagaan berharga yang dilakukan untuknya serta perlakuan istimewa yang sudah Allah tentukan terhadapnya. Allah subhanahu wa ta’ala juga memberikan hal istimewa lain berupa daya tarik dan keindahan pada dirinya. Daya tarik dan keindahan inilah yang sering dikejar oleh para lelaki pemuja nafsunya.
Kelemah lembutan dan rasa kasih sayang yang identik pada perempuan membuat banyak perusahaan lebih senang mempekerjakan mereka karena menurutnya perempuan lebih penurut. Hal identik itupun juga begitu sering dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Seperti banyak kasus yang kita temui kekerasan begitu sering saja terhadap perempuan, karena perempuan selalu dianggap lemah.
Perdagangan perempuan juga sudah begitu sering terjadi. Hal ini disebabkan karena faktor ekonomi, gaya hidup yang semakin tinggi dan tingkat pengetahuan agama yang begitu rendah. Seperti yang dilansir pada (voaindonesia.com) 24/06/2019 Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) mencatat ada 29 perempuan jadi korban pengantin pesanan di China selama 2016-2019. Para perempuan ini dibawa ke China, dinikahkan dengan lelaki di negara tersebut, dengan iming-iming diberi nafkah besar. Namun, kata Sekjen SBMI, perempuan ini malah ‘dieksploitasi’ dengan bekerja di pabrik tanpa upah.
“Dia sama-sama kerja dari jam 7 sampai 6 sore. Kemudian ada lagi kerja tambahan merangkai bunga sampai jam 9 malam. Jadi dia kerja. Tapi dari pekerjaan-pekerjaan itu dia nggak dapat apa-apa. Semua upahnya itu ke suami atau ke mertua,” ujarnya dalam konferensi pers di LBH Jakarta, Minggu (23/6/2019) siang. Para perempuan ini berasal dari Jawa Barat (16 orang) dan Kalimantan Barat (13 orang). Mereka dikenalkan dengan lelaki di China lewat mak comblang atau pencari jodoh.
Kata Sekjen SBMI, para perempuan ini tergoda dengan iming-iming uang. “Dari cerita-cerita yang kami dapatkan itu memang mereka butuh duit,” jelasnya. Dari berbagai laporan, SBMI menemukan para perempuan ini dipesan dengan harga 400 juta Rupiah. Dari angka itu, 20 juta diberikan kepada keluarga pengantin perempuan sementara sisanya kepada para perekrut lapangan.
Di China, para korban kerap dianiaya suami dan dipaksa berhubungan seksual, bahkan ketika sedang sakit. Para korban juga dilarang berhubungan dengan keluarga di Indonesia. SBMI menduga, pernikahan ini sebetulnya merupakan praktik perdagangan manusia. “Proses ini sudah ada proses pendaftaran, perekrutan, penampungan, ada pemindahan, ada pemberangkatan keluar negeri. Terus cara-caranya itu ada penipuan, informasi palsu, dan pemalsuan dokumen,” paparnya.
Tidak Pidana Perdagangan Orang telah meluas, baik terorganisasi maupun tidak, juga menggunakan modus yang berbeda-beda dengan lokasi di dalam atau luar negeri. Kegiatan semacam ini makin marak terjadi karena memberikan keuntungan finansial yang besar sehingga menjadi ancaman besar bagi masyarakat. 
Sungguh begitu memilukan kejadian seperti ini menimpa negara yang berlimpah sumber daya alam. Pada nyatanya tidak bisa memberikan kecukupan untuk masyarakatnya sendiri. Ditambah lagi sikap hedonis dan sekulerisme yang dilahirkan oleh sistem sekarang membuat perempuan semakin berupaya bekerja demi memenuhi seluruh keinginannya tanpa memikirkan konsekuensi yang akan diterima.
Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) akan terus terjadi jika negara masih menggunakan kapitalisme sebagai sistem dalam aturannya. Meski Indonesia memiliki hukum,tetapi tidak akan memberikan efek apapun terhadap pelaku. Pelaku hanya dihukum sebentar hingga akhirnya mereka bisa bebas berkeliaran kembali. Hal itu tidak akan bisa menjadikan Indonesia aman dari Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) khususnya perempuan.
Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) tidak bisa dengan penyetaraan gender. Peyetaraan gender saja sudah sangat jelas tidak sesuai dengan fitrah perempuan. Hal ini hanya akan menambah permasalahan negeri. Perempuan tidak bisa dituntut seperti laki-laki,sebab perempuan sudah diberikan fitrah tersendiri yang begitu berbeda dengan fitrah laki-laki.
Serta sudah jelas bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan berpasang-pasangan, seperti dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala : “Dan, Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan).” (TQS Fathir [35]: 11).
Jadi, sangat mustahil jika ingin menyelesaikan permasalahan Tidak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) ini dengan penyetaraan gender, pun jika penyetaraan gender itu terwujud (namun faktanya tidak bisa terwujud) tetap saja tidak akan bisa memberikan solusi tuntas dalam permasalahan ini. Sistem kapitalisme sudah menjerat perekonomian masyarakat sehingga masyarakat khususnya perempuan dituntut untuk bekerja. Padahal, lapangan pekerjaan yang tersedia sangatlah terbatas.
Berbeda dengan solusi yang diberikan oleh islam, syariat islam akan memutus tuntas perdagangan manusia, diantaranya dengan penguatan fungsi keluarga yaitu dengan menanamkan akidah islam kepada anak,serta pengawasan dan pedidikan orang tua terhadap anak hingga bisa terbentuk individu yang taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Kemudian yaitu dengan kontrol masyarakat, dimana sistem islam akan membentuk masyarakat yang islami, sehingga masyarakat memiliki fungsi kontrol perilaku antar masyarakat lainnya. Mereka memahami pentingnya amar ma’ruf nahi munkar. Dan yang terakhir optimalisasi peran negara, negara dalam islam sebagai institusi tertinggi yang harus menghadirkan keamanan dan jaminan bagi masyarakat. Negara juga harus memberikan pendidikan berkualitas serta memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dengan pengelolaan sumber daya alam secara tepat menurut sistem ekonomi islam.
Sistem yang ditawarkan islam menjadi jawaban setiap permasalahan negeri. Penerapan aturan islam secara kaffah dalam kehidupan akan menjadikan pribadi yang bertakwa, masyarakat yang islami dan negara yang menjalankan hukum sesuai syariat sehingga Allah akan memberikan keberkahan kepada negara ini, sesuai dengan janji-Nya :
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96).
Wallahu a’lam bisshowwab [MO/ra]

Posting Komentar