Oleh: Dwi R, S.Si 

Mediaoposisi.com-Sistem pendidikan di Indonesia hinga saat ini masih gonjang ganjing. Pasca diterapkannya sistem pendaftaran siswa baru melalui online yang menuai sejumlah kontroversi kini pemerintah kembali meluncurkan kebijakan baru dalam penerimaan peserta didik baru. 

Untuk mengurangi atau menghindari sistem kastanisasi dalam dunia pendidikan pemerintah mengeluarkan kebijakan sistem zonasi. Tujuan dari sistem ini sebenarnya mulia yaitu untuk mengurangi atau menghilangkan sistem kastanisasi sekolah. Supaya tidak ada istilah sekolah favorit dan sekolah non favorit. Selain itu, pemerintah juga memiliki tujuan supaya ada pemerataan jumlah murid. Selama ini terjadi kesenjangan jumlah siswa dari masing-masing sekolah. 

Bagi sekolah negeri favorit mendapatkan murid sangatlah mudah.  Karena ditunjang oleh fasilitas dan guru yang memadai. Sementara bagi  sekolah-sekolah negeri pinggiran, untuk mendapatkan murid perlu perjuangan. Karena selain fasilitas yang tidak memadai, tempat di pinggiran kota juga kurang menarik. Ditambah lagi kinerja guru yang dianggap kurang profesional. Jelas membuat peserta Didik baru  berpikir dua kali untuk mendaftar di sekolah seperti ini. 

Untung Rugi Sistem Zonasi 
Sistem zonasi membawa sejumlah masalah baru. Selain menuai kontroversial dan kritik dari berbagai pihak kususnya wali murid, sistem zonasi menimbulkan sejumlah masalah. Ditengarai sisem ini rawan kecurangan. Diantaranya kasus penyuapan, pemalsuan SKTM (Surat Keterangan Tidak mampu), dan perubahan data kartu keluarga.   

Adapun jika dilihat dari sisi pemerataan calon peserta didik baru, sistem zonasi tidak cocok jika diterapkan di  Indonesia. Mengingat fasilitas di beberapa sekolah khususnya di daerah terpencil tidak memadai. Hal ini membuat para siswa dan wali murid tidak menginginkan untuk masuk ke sekolah tersebut meskipun jaraknya dekat. Terlebih bagi siswa berprestasi. Masuk ke sekolah favorit menjadi impian.

Namun dengan kebijakan zonasi jelas menghancurkan impian itu. Hal ini juga dapat menurunkan daya saing dan semangat belajar siswa. Karena untuk mendapatkan layanan sekolah terbaik tidak ditentukan dari kecerdasan dan nilai akademik lagi melainkan berdasarkan jarak rumah dengan sekolah. 

Dampak lain dari sistem zonasi menyebabkan beberapa sekolah tidak mendapatkan murid namun di sisi lain terjadi penumpukan pada sekolah-sekolah dianggap favorit. Hal ini jelas bertolak belakang tujuan utama sistem zonasi.

Pemerintah menetapkan sistem zonasi dalam PPDB sebenarnya memiliki tujuan yang baik , yaitu memeratakan siswa didik di setiap sekolah di suatu wilayah ,juga bermaksud untuk menghilangkan kastanisasi di dunia pendidikan. Sayangnya niat baik tersebut tidak diikuti dengan perbaikan sistem pendidikan. 

Maka tujuan tersebut hendaknya diwujudkan dengan memperbaiki semua sekolah , mulai dari sarana prasarana maupun perangkat mengajar, kualitas pengajar, kesejahteraan guru, dan semua yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Jika semuanya sudah diperbaiki maka pemerintah bisa membuat sistem zonasi.

Pendidikan dalam Pandangan Islam
Islam sangat memperhatikan masalah pendidikan. Karena menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Mendapatkan pendidikan yang layak adalah hak bagi seluruh warga negara, tanpa memandang miskin atau kaya. Cerdas atau biasa. Selama menjadi warga negara Daulah, kesempatan untuk mengenyam pendidikan bisa diperoleh secara cuma-cuma.

Konsep pendidikan dalam Islam berbeda dengan sistem pendidikan kapitalis yang hanya berorientasi terhadap materi. Berbasis sekuler yakni pemisahan agama dari kehidupan. Melainkan berbasis aqidah Islam, sehingga menuntut ilmu bukan hanya perkara dunia, namun lebih tinggi untuk meraih bekal akhirat yang kekal. Kurikulumnya berkualitas tinggi karena bersumber dari wahyu Ilahi. 

Dana pendidikan berasal dari pengelolaan kekayaan alam seperti hasil tambang, laut, hutan dan sebagainya yang hakikatnya merupakan kepemilikan umum, milik seluruh rakyat. Mengenai zonasi, murid dalam sistem Islam berhak sekolah dimana saja yang dia inginkan. Karena semua sekolah memiliki standar yang sama. Fasilitas dan kualitas gurunya sama. Kurikulumnya juga sama. Sehingga siswa bebas memilih sekolah yang diinginkan. Jauh atau dekat. 

Pada dasarnya tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah untuk mencetak generasi yang unggul. Memiliki kecerdasan akademik dan menguasai tsaqafah Islam. Berkepribadian Islam, untuk mengimbangi kecerdasan akalnya. Supaya ilmu yang dimiliki bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Dengan demikian, umat Islam benar-benar akan menjadi umat terbaik sebagaimana yang tercantum dalam al-Quran. 

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik". (Q.S. Ali Imran:110)[MO/sg]

Posting Komentar