Oleh : Nonna
Mahasiswi UIN Alauddin Makassar


 “Mulai dari Sexting sampai mengabadikan momen bercinta”

Mediaoposisi.com-Entah mengapa akhir akhir ini pemberitaan media makin melekat dengan topik sex-nya yang semakin kedengaran aneh, hingga keanehannya yang selalu saja muncul di berbagai media pun akhirnya membuat pemberitaan sex sudah terkesan biasa. 

Salah satu kasus yang bisa dikatakan cukup marak saat ini ialah kasus Sexting, kasus yang didalami oleh berbagai kalangan, baik dari kalangan dewasa, remaja sampai pada kalangan anak anak sekalipun. 

Sexting sendiri berasal dari singkatan antara Sex dan Chatting, sehingga dari perihal ini bisa dikatakan bahwa mereka yang mengaku sepasang kekasih dengan saling mengirim konten baik berupa tulisan, video maupun foto yang pastinya selalu mengarah pada seks.

Kita bisa menoleh pada asal muasal sexting itu sendiri yang dikenal sejak adanya laporan Sunday telegraph magazine pada tahun 2005, dan kegiatan menggemparkan Amerika serikat pada 2008 akibat tewasnya dua orang remaja akibat dari Sexting itu sendiri *Kompasiana

Pertama ialah terjadi pada Witsel Hope, seorang gadis berusia 13 tahun yang mati karena gantung diri setelah mendapatkan ejekan dari teman temannya akibat foto telanjangnya yang dikirimkan kepada lelaki yang disukainya, dan pada akhirnya foto tersebut disebarluaskan oleh teman temannya sendiri. 

Sama halnya dengan korban kedua yakni gadis yang bernama Jessica Logan dengan usia 18 tahun yang mati karena gantung diri pula, dan perihal ini terjadi karena cintanya dia rela mengirimkan foto foto telanjang kepada sang pacar. Namun ketika mereka putus, si mantan malah menyebarluaskan foto tersebut.

Mungkin dari sejarah Sexting diatas dapat disimpulkan bahwa rupanya kasus Sexting memang dimotori dari kalangan anak anak. Dan seiring berjalannya waktu kini Sexting tidak hanya meliput kehidupan anak anak namun kalangan dewasa pun seolah tak ingin ketinggalan. 

Mungkin sedikit lucu jika dikatakan bahwa anak anak melakukan perihal tersebut tidak lain dikarenakan pergaulan bebas dan ketiadaan perhatian orang tua. Namun bagaimana jadinya jikalau sexting dilakukan dari kalangan orang dewasa yang kehidupannya sendiri telah berkeluarga? Sehingga mau tidak mau mereka melakukan sexting dengan para selingkuhan, wadduh parah!

Kita bisa menengok kasus yang sempat heboh pada Januari lalu, dimana seorang Polwan yang dipecat dari jabatannya secara tidak terhormat lantaran mengirimkan foto bugilnya kepada sang kekasih yang tau taunya hanyalah seorang tahanan karena kasus pembunuhan terhadap pria yang sama sama menyukai sesama pria. Parahnya, Polwan tersebut telah memiliki seorang suami dan seorang anak.

Bahkan penelitian baru mengungkapkan bahwa Sexting telah menjadi gaya pacaran anak zaman sekarang yang bisa dikatakan amat berisiko, dan ini lagi lagi dikarenakan kebebasan anak dalam menggunakan Gadget kapan dan dimanapun itu, maka tak heran jikalau Sheri Madigan yang merupakan seorang asisten professor di Departemen psikologi the Albarta Children’s Hospital Research Institute di Universitas Calgary, Kanada menuturkan bahwa angka Sexting bakal terus meningkat seiring menjamurnya ponsel pintar.

Dan dari kasus sexting inilah yang lama kelamaan akhirnya membludak pada kasus anak anak yang berpacaran dengan menampilkan gaya seperti merekam bentuk Ekspresi cinta mereka layaknya bintang porno. 

Masa iya? Kita tidak perlu mengkerutkan dahi akan berbagai kasus kasus yang terjadi, karena faktanya? Konten konten yang bisa dikatakan berbaur porno dikalangan anak anak seolah sudah menjadi hal yang amat lumrah terjadi.

Kita bisa saja kembali menyebut satu persatu kasus lama dan kasus yang baru saja didengar telinga atau dibaca mata di berbagai pemberitaan media, seperti kasus di mana seorang guru yang melakukan razia ponsel di sekolahan tepatnya di Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal oktober lalu, AJaibnya ditemukan salah satu android seorang anak yang malah menyimpan video sendiri dengan sang kekasih yang melakukan aksi mesum *TribunStyle.com

Sama halnya dengan kasus dua sejoli yang sempat membeberkan media sosial dengan videonya yang berisikan aksi mesum yang diviralkan dengan judul “Janganko kasih nyala blistnya” Dimana dalam video tersebut jelas menggambarkan kebodohan mereka dengan merekam aksi yang bisa dikatakan tak senonoh tersebut, parahnya mereka melakukan di kelas sekolahan dengan seragama sekolah pula.

Dan dari dua contoh kecil di atas seolah menjadi bukti bahwa merekam aksi Sex dan mengabadikannya lewat ponsel adalah bukti bahwa sex dimata remaja zaman now adalah sesuatu yang sudah amat lumrah. 

Pertanyaannya ialah, mengapa pikiran mereka sampai harus mentok pada aksi mesum yang mesti diabadikan? Jawabannya tidak lain karena tontonan mereka tidak jauh dari video porno yang bisa saja mereka download tiap waktu dan ini lagi lagi karena ketiadaan pengawasan orang tua dalam penggunaan gadget anak.

Berdasarkan data bereskrim Polri, yakni laporan NCMEC (National center of missing and exploited children) menyatakan bahwa jumlah internet protokol indonesia yang mengunggah dan mengunduh konten pornografi anak melalui media sosial pada 2015 sebanyak 299.602 IP dan pada tahun 2016 hingga maret sebanyak 96.824 IP *Tribunnews . 

Sedangkan pada tahun 2018 silam Komisi perlindungan Anak memaparkan bahwa ada 525 kasus pornografi dan kejahatan siber yang melibatkan anak anak dan jelas perihal sangat ini akan berpengaruh pada psikis keduanya.

Bukan hanya itu, orang tua pun patut mengarahkan dan memperkenalkan anak mengenai dunia seksualitas, karena jika tidak? Maka pertanyaan yang bisa saja muncul dalam pikiran mereka mengenai seks akan terjawab dengan menyaksikan tontonan yang tidak sepantasnya. Dan pada akhirnya mereka mempraktekkan hal tersebut dengan lawan jenis yang telah dianggapnya sebagai pasangan hidup semati.

Lantas apa saja dampak yang bakalan melabrak kehidupan anak anak yang melakukan aksi Sexting yang bisa dibilang super hot dan telah menjadi bahan pengkomsumsian publik? Jelas ini sangat berpengaruh pada psikis anak, terlebih jika telah mendapatkan ledekan dan cacian dari teman teman. Dan sebenarnya bukan hanya kasus anak anak yang sempat mengacaukan media pemberitaan dengan aksi panas mereka yang sengaja direkam, namun dari kalangan dewasa pun rupanya ikut memeriahkan media pemberitaan.

Kita bisa tengok kasus seorang dokter dengan Anisial RSW yang malah menemukan Video porno milik suami yang merupakan seorang Perwira Polda bersama dengan wanita muda disalah satu folder milik komputer yang sering mereka gunakan dalam perihal pekerjaan, parahnya sang dokter malah menemukan lima video suami yang melakukan hubungan intim tanpa busana dengan wanita lain. Dan perihal ini dilaporkan pada senin (8/7/2019) *Tribuntimur.com

Masih dari yang sumber yang sama, diceritakan bawa sepasang PNS ketahuan membuat konten video yang berbaur pornografi, video dengan durasi 3 menit 30 detik tersebut jelas mempertontonkan aksi yang amat terbilang tidak terpuji tersebut, dan yang lebih parahnya lagi ialah mereka telah memiliki suami dan istri serta anak masing masing.

Sungguh amat menggelikan jikalau ditanya tentang alasan mereka merekam video mesum dengan para selingkuhan, dan mungkin saja jika hanya berbuat mesum tanpa harus direkam akan membuat keduanya tidak merasa puas akan bentuk ekpresi cinta mereka. Sehingga mau tidak mau mereka harus tampil layaknya bintang porno yang melakukan aksi panas yang diabadikan lewat camera.

Seperti pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh situs kencan untuk orang orang yang ingin berselingkuh, Illicit Encounters mengungkapkan bahwa sepertiga dari pasangan memfilmkan diri mereka saat berhubungan sex, dan tiga perempat peserta menyatakan bahwa mereka menggunakan ponsel mereka untuk meningkatkan kehidupan sex mereka, baik dengan mengambil dengan mengambil foto atau malah menonton vieo erotis.*Suara.com

Jikalau mengabadikan momen dikala sedang bercinta dilakukan oleh sepasang suami istri dengan alasan tertentu, mungkin masih bisa di iyakan. Namun jikalau dilakukan oleh pasangan selingkuhan kemudian diabadikan dan tertangkap basah, dan lebih parahnya lagi jika video tersebut telah tersebar luas, disinilah keanehan yang nampak begitu memprihatinkan.

Aneh tapi nyata, ajaib tapi lucu, Cinta adalah bentuk kasih dan sayang. Jangan rusak nama cinta dengan melakukan sesuatu yang melebihi dari sikap binatang. Mengapa? Karena cinta adalah nama Sakral yang dihadirkan Tuhan untuk mendamaikan kehidupan makhluknya, bukan malah mengatasnamakan dirinya hanya karena nafsu belaka. [Mo/vp]

Posting Komentar