oleh: Ayu Mela Yulianti, SPt.
Mediaoposisi.com-Praktisi Pendidikan Setyono Djuandi Darmono mengatakan, pendidikan agama tidak perlu diajarkan di sekolah. Agama cukup diajarkan orangtua masing-masing atau lewat guru agama di luar sekolah.

Sebagai gantinya, mapel budi pekerti yang diperkuat. Dengan demikian sikap toleransi siswa lebih menonjol dan rasa kebinekaan makin kuat.

Dia menyarankan Presiden Joko Widodo untuk meniadakan pendidikan agama di sekolah. Pendidikan agama harus jadi tanggung jawab orang tua serta guru agama masing-masing (bukan guru di sekolah). Pendidikannya cukup diberikan di luar sekolah, misalnya masjid, gereja, pura, vihara, dan lainnya.(gelora.com, 2019).

Sekilas, pendapat yang dikemukakan diatas sepertinya benar, akan tetapi jika ditelusuri lebih dalam, pendapat semacam ini sangat berbahaya dan sangat membahayakan nilai-nilai kemanusiaan.

Bagaimana mungkin agama tidak perlu diajarkan melalui pendidiikan formal yang diayomi negara?, sedangkan tujuan pendidikan itu sendiri adalah membentuk pribadi-pribadi unggul dan mulia. Berguna dan bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

Pribadi-pribadi unggul dan mulia juga bermanfaat bagi seluruh umat manusia hanya bisa ditempuh melalui pendidikan agama. Kenapa pendidikan agama?, karena  nilai rasa pendidikan agama itu bersifat universal, tersebab agama memiliki nilai baku yang bisa diterima oleh akal manusia. Yang bisa mendorong manusia berperilaku baik atau berbudi pekerti yang baik karena dorongan keimanan yang diajarkan agama, bukan dorongan manfaat dan untung rugi kemanusiaan ataupun hawa nafsu manusia semata.  Sebut saja kata jujur atau toleran juga kata-kata yang memiliki nilai positif lainnya.

Adalah sangat wajar, jika hari ini sangat sulit untuk mengidentifikasi akar permasalahan timbulnya masalah-masalah yang dikatakan oleh sebagian kalangan merupakan akibat dari pelajaran agama yang diajarkan disekolah, yang dilabeli dengan istilah intoleransi yang bisa merusak nilai toleransi dan kebinekaan, ataupun masalah terkait dengan manusia-manusia yang tidak berbudi pekerti luhur, sehingga banyak terjadi kasus-kasus yang merugikan masyarakat dan negara. Sebut saja kasus korupsi, pergaulan bebas, miras dan narkoba misalkan atau yang sejenisnya.

Jika ditelusuri dengan teliti, sebetulnya, masalah-masalah tersebut diatas ditimbulkan akibat diterapkannya sistem hidup sekuler-kapitalis dinegeri ini. Utamanya disektor pendidikan, yaitu akibat proses sekulerisasi pendidikan yang cukup lama, dimana puncaknya adalah kehendak dihapuskannya pelajaran agama seratus persen disekolah-sekolah setelah sebelumnya mengalami proses pengurangan jam mata pelajaran agama sedikit demi sedikit disekolah-sekolah dan perguruan tinggi.

Jadi, masalahnya bukan pada agama, akan tetapi bercokolnya ideologi sekulerisme kapitalisme yang digunakan dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak terkecuali dalam sektor pendidikan. Sehingga output sekularisasi pendidikan yang telah memakan waktu yang sangat lama kita rasakan hari ini, berupa banyaknya masalah dalam seluruh aspek kehidupan.

Sekuler menegasikan hukum agama, jadilah manusia mencari solusi atas seluruh permasalahan hidupnya dengan mengandalkan akalnya yang sangat terbatas pengetahuannya. Karena keterbatasan jangkauan akal ini, maka akhirnya manusia "meng-akal-akal-i" solusi dari setiap masalah yang timbul. Akhirnya hadirlah hawa nafsunya yang mengambil alih untuk mencari solusi atas permasalahan hidup dan kehidupan, akibat proses akal-akalan manusia yang tidak dibimbing oleh wahyu dan tidak mau mengambil bimbingan dari wahyu (petunjuk agama). 

Akibatnya, banyak timbul permasalahan baru bagi manusia. Masalah demi masalah selalu lahir tanpa solusi. Inilah sisi buruk penerapan sekulerisme dalam menata kehidupan. Manusia akan dibuat tidak mengenal jati dirinya sebagai makhluk Tuhan, Allah SWT.

Adapun kapitalisme adalah faham yang menjadikan para pemodal, pemilik uang banyak atau para kapital menjadi penentu pembuat aturan yang mengatur hidup dan kehidupan masyarakat. Asas aturannya adalah untung dan rugi. Selama suatu aturan mampu memberikan keuntungan bagi para kapital, maka aturan itu yang akan diberlakukan. Sebagai contoh timbulnya kapitalisasi pendidikan yang bisa dilihat dari satu indikator berupa berkurangnya atau bahkan dihilangkannya subsidi disektor pendidikan.

Hasilnya adalah banyak timbul kedzaliman dan kesengsaraan bagi mayoritas warga masyarakat, berupa kesengsaraan dan kesempitan hidup yang dirasakan masyarakat. Sehingga kezaliman inilah yang mendorong masyarakat untuk berbuat, menuntut terpenuhinya hak-haknya sebagai warga masyarakat, misalnya hak pendidikan, kesehatan dan hak hidup lainnya, yang penampakannya bisa dalam bentuk aktivitas yang dianggap sebagai bentuk radikalis-intoleransi oleh para kapitalis yang kepentingan kapitalisasinya terganggu oleh aktivitas tuntutan hak oleh publik atau masyarakat.

Maka jelaslah sudah, bahwa berbagai soal dan masalah yang hari ini terjadi dimasyarakat, bukanlah karena diajarkannya pelajaran agama disekolah-sekolah. Namun timbulnya soal dan masalah hari ini dimasyarakat adalah karena adanya proses "radikalisasi" sekularisasi dan kapitalisasinya berbagai sektor kehidupan, tidak terkecuali sektor pendidikan, yang banyak merampas hak hidup masyarakat.

Maka solusi untuk berbagai soal dan masalah hari ini bukanlah dengan meniadakan pelajaran agama dalam kurikulum pendidikan sekolah. Namun wajib dihilangkannya sekularisasi dan kapitalisasi seluruh sektor kehidupan. Dan diterapkannya aturan yang terbukti mampu merawat keragaman, penuh toleransi dan jauh dari aktivitas radikalisme, yang sudah dibuktikan dalam pentas sejarah peradaban mulia manusia, yang disebut dengan hukum syariat Islam kaffah.

Sehingga dengan dihilangkannya sekularisasi dan kapitalisasi seluruh sektor kehidupan, dan dengan diterapkannya hukum syariat Islam kaffah, maka kehidupan masyarakat akan dipenuhi dengan toleransi, jauh dari aktivitas radikalis dan tercipta harmonisasi kehidupan dalam keberagaman.

Jikapun kita kagum dengan kemajuan teknologi yang diraih oleh Barat akibat sekularisasi pendidikan. Namun patutlah juga direnungkan akibat tragis bagi moralitas bangsa-bangsa di Barat yang hari ini terancam oleh musnahnya generasi muda mereka akibat rendahnya tingkat kelahiran yang disebabkan maraknya pergaulan bebas, alkohol dan yang sejenisnya, karena tidak dipakainya aturan agama dalam mengatur kehidupan masyarakatnya.

Maka saatnya kita bertanya, sudahkah kita kenal baik dengan ajaran agama kita sendiri, sebelum kita berani menghilangkan ajaran agama ini dari pentas kehidupan ?

Karena konsekuensi hilangnya agama dalam kehidupan dan tidak diindahkannya peringatan-peringatan yang bersumber dari agama adalah manusia akan hidup seperti binatang yang tidak memiliki "budi pekerti" dan hilangnya keselamatan juga kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat.
Wallahualam.[MO/sg]





Posting Komentar