Oleh: Syifa Putri
(Ibu Rumah Tangga, Kab. Bandung)



x
Mediaoposisi.com-Kejujuran adalah modal utama seorang manusia. Kejujujuran juga adalah bagian integral dari agama Islam, bukan sekedar moral. Kejujuran dan keimanan merupakan dua hal yang berdampingan. Kejujuran ini akan mengantarkan pada kebaikan dan selanjutnya akan membawa pelakunya ke syurga. Nabi saw. bersabda : 
"sungguh kejujuran akan membimbing menuju kebaikan dan kebaikan akan membimbing menuju surga. Sungguh seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk jujur sampai akhirnya ia menjadi orang yang benar-benar jujur."  (HR al-Bukhari).
Aktivitas  muamalah, salah satunya perdagangan dan jual beli harus menjadi perhatian negara.  Peluang adanya penyimpangan dan pelanggaran bisa saja terjadi. Terlebih lagi saat ini dengan sekularisme dan kapitalisme yang melekat dibenak umat. Bagaimana mendapatkan untung sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya.
Berbagai upaya dilakukan demi tercapai maksud dan tujuan, dalam  timbangan misalnya. Takaran akan di utak-atik, diganjal, ditambal dan lain-lain, agar penjual untung, konsumen buntung. Perilaku ini harus diwaspadai, karena merugikan pembeli. 
Seperti yang dilansir oleh InilahKoran.com, bahwa Dinas Perdagangan dan Industri Kabupaten Bandung menghimbau agar para pedagang rutin melakukan kalibrasi atau tera timbangan. Minimal, setiap enam bulan sekali. 
Dengan rutin melakukan kalibrasi ulang timbangan, maka semua pihak tidak akan dirugikan. "Dengan kalibrasi, maka timbangan menjadi lebih akurat. Jadi pedagang dan konsumen akan sama-sama diuntungkan," kata Sekretaris Dinas Perdagangan dan Industri Kabupaten Bandung, Uwais Qorni, di Soreang, Kamis (18/7/2019).
Uwais menjelaskan,  pedagang yang ingin melakukan kalibrasi, bisa menghubungi UPT Metrologi Cinunuk supaya layanan kalibrasi atau tera ulang bisa dilakukan secara kolektif di tempat terdekat dengan pedagang.
Para pedagang pasar bisa menghubungi pengelola pasar untuk memfasilitasi UPT Metrologi melakukan kalibrasi secara massal di pasar. Namun memang, sejauh ini masih banyak pedagang di Kabupaten Bandung yang tidak rutin melakukan kalibrasi timbangannya.
Islam dengan seperangkat aturannya mempunyai solusi untuk permasalan ini, baik dari sisi pembinaan masyarakatnya ataupun sanksi tegas kepada pelanggarnya. Seperti kebijakan yang terjadi pada masa Islam memimpin.
Rasulullah Saw telah mencontohkan praktik hisbah saat beliau berjalan-jalan di pasar. Kebijakannya  kemudian diikuti para khalifah. Umar bin Khattab contohnya, beliau mendirikan lembaga yang disebut hisbah (peradilan hisbah).
Tujuan utama berdirinya lembaga hisbah adalah penghapusan segala tindakan kemungkaran sekaligus menggantinya dengan kebajikan dan kemaslahatan sehingga tercipta rasa aman dan tentram serta keadilan dalam komunitas masyarakat. Amar ma’ruf nahi munkar merupakan prinsip utama lembaga hisbah untuk mewujudkan masyarakat yang senantiasa saling mengingatkan dalam kebajikan.
Lembaga hisbah bertugas membuat ketentuan hukum yang jelas agar tidak terjadi penyelewengan dalam pemanfaatan sumber daya yang dimiliki. Hukum yang jelas dan aparat negara yang tegas akan menghalangi oknum-oknum yang ingin keluar dari jalur dalam pemanfaatan sumber daya alam yang ada.
Tidak sedikit penjual yang menginginkan untung yang besar dengan modal minimal sehingga banyak pedagang yang melakukan berbagai macam cara untuk memaksimalkan keuntungan, salah satunya dengan mengurangi takaran. Lembaga hisbah hadir untuk mengontrol kesempurnaan alat takaran dan timbangan para penjual.
Dengan melihat wewenang muhtasib (qadhi hisbah) dalam statusnya sebagai wakil kepala negara (khalifah) dalam penanganan urusan umat sebagai hak umum tidak akan dijumpai saat ini, di negara manapun meski penduduknya mayoritas muslim.
Definisi  hisbah diambil dari hadits "shubrah ath-tha'am" (onggokan makanan), ketika Rasulullah saw menemukan bagian makanan basah dibawah onggokan makanan tersebut. Rasulullah Saw kemudian memerintahkan agar yang basah tersebut diletakan di bagian atas sehingga dilihat orang. Keputusan yang diambil Rasulullah ini sebagai upaya menghindari tindakan penipuan. Kejadian ini membuktikan secara tegas tentang luar biasanya Islam mengurusi urusan masyarakat dalam segala hal.
Begitulah ketika sistem Islam diterapkan,  kemaksiatan akan diminimalisir, karena akidah umat dijaga oleh tiga pilar, yaitu individu yang bertakwa, masyarakat yang bertakwa dan negara yang bertakwa.
Negara yang bertakwa tersebut adalah negara yang menerapkan sistem Islam secara sempurna, dalam naungan sistem Islam yang diwariskan oleh Rasulullah saw yakni Daulah Khilafah Rasyidah. Kalibrasi hanya merupakan upaya manusia yang bersifat semu.
Persoalan akan terus muncul tanpa mampu teratasi. Pasalnya, kalibrasi hanya persoalan cabang, sementara akarnya tidak disentuh ataupun dicabut. Itulah sistem Kapitalis-Sekular.
Wallahu a'lam bi ash-shawab[MO/sg]

Posting Komentar