oleh: Dania Puti Rendi
Mediaoposisi.com-Ibarat drama korea, negeri ini dipenuhi drama politik yang tak henti-henti membuat rakyat tercengang. Mengapa tidak, dimulai dari pesta demokrasi yakni Pemilu 17 April silam yang terbukti sangat banyak sekali kecurangan yang terjadi. Lalu, kita dikejutkan dengan fenomena politik yang memakan korban 500 orang meninggal dunia dan ribuan lainnya jatuh sakit yang dialami oleh petugas KPPS . Dan inilah Pemilu terburuk dalam sejarah demokrasi Indonesia. Hal yang lebih disayangkan lagi, setelah pengumuman pemenang Pemilu oleh Bawaslu membuat rakyat kecewa dan berakhir dengan terjadinya kerusuhan di depan kantor Pusat Bawaslu pada 22 Mei 2019. 
.
Perselisihan Pemilu dilanjutkan dengan dilayangkan gugatan kepada MK dugaan kecurangan yang terjadi selama proses Pemilu oleh kubu Prabowo-Sandi. Seakan rakyat berharap ada cahaya keadilan yang diberikan MK. Karena, MK seolah-olah adalah pengadil yang seadil-adilnya dan putusannya betul-betul mempertimbangkan keadilan.

Ditambah lagi pernyataan ketua MK, yang hanya takut kepada Allah. Alih-alih harapan itu terwujud secara nyata. Malahan rakyat menerima kekecewaan. Pasalnya MK menolak eksepsi termohon dan pihak terkait untuk seluruhnya.  Sembilan hakim MK dalam permusyawaratannya menyatakan semua dalil hukum yang diajukan tim hukum Prabowo dan Sandi tidak beralasan (dilansir dari Koran Media Umat, edisi 245: hal 4-5).
.
Skenario baru pun dibuat dengan adanya rekonsiliasi dilakukan oleh Jokowi selaku pihak yang menang kepada Prabowo pihak yang kalah. Yang diinginkan dari adanya rekonsiliasi ini ialah tidak adanya perdebatan yang terjadi diantara kedua kubu. Dan pengakuan kubu 02 atas terpilih kembali Jokowi sebagai Presiden terpilih.
.
Ternyata, ini menambah luka sayatan dihati rakyat, mengapa tidak setelah rakyat berkali-kali berharap ada keadilan atas kecurangan yang terjadi, kini malahan perjuangan yang selama ini yang diperjuangkan oleh kubu 02 seakan sia-sia saja. Mengapa tidak? Dengan mudahnya Prabowo memberikan selamat, seolah kecurangan-kecurangan dan ratusan korban meninggal serta putusan MK yang tidak adil itu dibayar kontan dengan perudingan yang singkat. Seakan, selama ini tidak ada masalah dan tidak perlu dituntaskan. Rakyat kehilangan martabat dan harga diri.
.
Inilah bukti bahwasanya jika kita masih berharap pada sistem buatan manusia, pasti kita akan mengalami kekecewaan. Seolah nyawa rakyat tidak ada harganya, dan mengamini semua tragedi mengerikan itu. Gambaran nyata demokrasi yang semakin horor dan tak menampakkan cahaya keadilan. Toh, keadilan secara universal saja tidak terwujud apalagi hukum Islam secara utuh diterapkan. Omong kosong semata.
.
Sistem politik hari ini, mengisyaratkan tidak ada lawan dan kawan sejati namun yang ada ialah kepentingan sejati. Setelah rekonsiliasi ini banyak parpol dan politisi secara individu berlomba-lomba menawarkan diri untuk duduk di bangku kekuasaan. Ini membuktikan mereka ternyata tidak benar-benar memperhatikan rakyat dan memang itu watak sistem liberal-sekuler yang berwajah demokrasi yang hari ini diagung-agungkan oleh banyak orang. 
.
Sedemikian, kekecewaan akibat politik di alam demokrasi, pertanyaannya, masih mau kecewa??? Karena, ini bukan sekedar orang nya yang rusak namun, sistemnya yang melahirkan hukum-hukum yang rusak lagi menyengsarakan. Apakah masih mau tersakiti lagi dan lagi??
Maka apa solusinya??
Hanya satu, yakni sistem Islam yang menawarkan aturan yang memanusiakan manusia. Politik nya tidak dilandasi oleh adu kekuasaan namun, menunmbuhkan kepedulian pada rakyat dengan mengutamakan segala kepentingan nya. Sistem Islam ini hanya punya satu wadah yakni Khilafah. Sebagaimana yang kita tahu, sejarah mencatat pernah dilakukan pada masa Rasulullah.
.
Percekcokan terus-menerua terjadi antara Bani Auz dan Khazraj di Madinah, namun setelah Rasulullah mengutus Mus'ab bin Umair ke Madinah untuk mendakwahkan Islam dan terima oleh masyarakatnya. Barulah kedua bani yang telah bertahun-tahun saling memerangi ini melakukan rekonsiliasi atau perdamaian demi mewujudkan kehidupan Islam yang utuh di negerinya. Sehingga, pada akhirnya masyarakat Madinah membai'at Rasulullah sebagai pemimpin mereka.
.
Rekonsiliasi itu tergantung wadah yang menaunginya. Jika halnya wadah nya rusak maka berakhirnya rekonsiliasi muncul kerusakan yang makin parah . Sebaliknya, jika halnya rekonsiliasi dilandasi oleh Aqidah Islam yang tujuan untuk menerapkan Sistem Islam dalam bentuk negara Khilafah maka akan mengundang rahmat Allah. [MO/sg]

Posting Komentar