oleh: Mila Sari, S. Th. I
(Penulis, Pegiat Opini dan Pendidik Generasi)

Mediaoposisi.com- Berdasarkan berita yang dilansir oleh media cnbcindonesia.com pada Senin (22/7/2019), nilai rupiah benar-benar melemah di hadapan mata uang Amerika Serikat dan mata uang utama Asia. Rupiah melemah 0, 23 % dibanding posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Masih menurut sumber yang sama, rupiah melemah disebabkan oleh dua faktor. Yaitu,  aksi ambil untung (profit taking). Meski sempat menguat dan menjadi terbaik di Asia, perkembangan ini rentan membuat rupiah mengalami koreksi teknikal. Karena investor yang merasa penguatan rupiah sudah lumayan tinggi mulai mencairkan Yuan. 

Dan faktor yang kedua ialah harga minyak dunia yang melambung. Kebaikan harga minyak merupakan sentimen negatif bagi rupiah, karena Indonesia adalah negara net importir minyak yang harus mengimpor demi memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Saat harga minyak naik, tentu komoditas ini menjadi mahal yang mengakibatkan neraca perdagangan dan transaksi perdagangan akan semakin meningkat. Dan tentu semua hal itu menjadi pemicu meningkatnya hutang luar negeri.

Berdasarkan hal di atas dapat kita analisa bahwa upaya mengambil untung tidak dapat meningkatkan faktor pemasukan. Sebab ambil untung yang dimaksud tentu tidak terlepas dari sistem bunga atau riba yang membebani pihak lain. Dan tentu hal itu tidak akan bisa bertahan lama sebab negara lain juga akan berusaha untuk mempertahankan nilai mata uangnya.

Faktor kedua pelemahan rupiah sungguh sangat tidak relevan dengan kondisi alam Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, termasuk minyak bumi. Sebab Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak di dunia.
Secara kuantitas tentu Indonesia dapat memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri sendiri tanpa harus memasok dari luar. Namun, pada kenyataannya hal ini tidak terlaksana, sebab ada hal lain yang mempengaruhi. Yakni, penguasaan dan pengelolaan SDM oleh pihak asing sehingga pemerintah tak lagi mampu memenuhi kebutuhan rakyat akan minyak.

Adanya tindakan dan kebijakan yang keliru yang ditetapkan dan yang diberlakukan oleh pemerintah, membuat rakyat harus bersusah-susah untuk mendapatkan hajat hidupnya. Negara yang seharusnya berperan sebagai penjamin terpenuhinya hak-hak rakyat dan menjaga agar kebutuhan itu terjamin, sekarang telah mengalami lost kontrol.
Dan tak ubahnya laksana menggunting dalam lipatan, fungsi menjaga tersebut telah berbuah lara. Bagaimana tidak, penguasa lebih berpihak kepada asing dan penguasa untuk mendapatkan kepentingan pribadi meski rakyat pada akhirnya dijadikan tumbal.

Meningkatkan pemasukan, tentu upaya yang wajar dalam menjamin keberlangsungan perekonomian suatu bangsa. Namun apabila hal itu tidak berpijak pada suatu landasan yang benar, tentu hal itu menjadi keliru pula.
Allah Swt dalam firman-Nya nan mulia, hanya menghalalkan jual beli sedang riba dalam bentuk apapun dan berapa pun jumlahnya merupakan sesuatu yang diharamkan. Namun secara fakta, dalam urusan bisnis dan ekonomi, semua itu tak terlepas dari praktek riba.

Saat negara sudah tak mampu lagi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sendiri, saat itu pula lah hutang luar negeri akan terlaksana. Mencari pinjaman lewat word bank dan IMF atau lembaga keuangan lainnya dinilai menjadi sebuah solusi yang tepat tanpa menyadari bahwa itu merupakan sebuah celah menuju kehancuran ekonomi.
Sistem riba yang digunakan dalam transaksi tersebut, cukup efektif menjerat negara yang diberi utang untuk masuk dalam kehancuran ekonomi. Makin lama akan semakin banyak jumlah bunga hutang, bahkan bisa melebihi jauh di atas hutang pokoknya.

Alhasil, jadilah negara pengutang terikat oleh segala kebijakan dan sikap politik yang ditetapkan si pemberi utang. Hingga akhirnya menuruti segala pinta yang mesti dilaksanakan, mesti membawa kehancuran bagi rakyat dan bangsa sendiri.
Semua terjadi akibat jeratan kapitalis yang hanya mementingkan materi, dengan modal sekecil-kecilnya demi meraup untung yang sebesar-besarnya. Dan kepentingan untuk terus langgengnya sistem ini dalam kancah kehidupan.

Islam telah memberikan panduan yang jelas dalam membangun ekonomi suatu bangsa, terbukti hampir 14 abad lamanya Islam pernah berjaya di muka bumi.
Berawal dari didirikannya negara Islam di Madinah al-munawwarah oleh Rasul Saw beserta para sahabat hingga runtuhnya kekhilafahan Turki  Utsmani pada tahun 1924 H. Selama itu, umat merasakan ketenangan dalam hidup. Bahkan sejarah mencatat, pada masa kekhilafahan Umar Bin Abdul Aziz, tak ada satu diantara masyarakatpun yang berhak menerima zakat. 

Semua terjadi saat sistem riba, penipuan, kecurangan dan kelicikan tidak terjadi dan mata uang yang berlaku saat itu bukan mata uang kertas yang mudah basah, koyak dan rusak. Namun emas dan perak yang kualitasnya tidak diragukan lagi. Yang tidak akan pernah jatuh nilainya dan tahan lama.
Sehingga tak pernah ditemui pada masa Islam, nilai dinar dan dirham anjlok sebab keduanya memiliki kekuatan tersendiri dalam membangun perekonomian negara.

Sudah saatnya kita kembali pada aturan yang mampu memuliakan manusia, menyejahterakan kehidupan dan membawa ketentraman dalam jiwa.
Itulah sistem Islam dengan Khilafah sebagai sistem pemerintahannya yang akan dijalankan oleh seorang khalifah, untuk memastikan terlaksananya seluruh hukum Allah Swt di dalam negeri dan mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia hingga rahmatan lil 'aalamin benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh manusia, tak hanya di bumi pertiwi namun walau dimana berada.[MO/sg]

Posting Komentar