Oleh : Jalila Syarif
(The Voice of Muslimah Papua Barat)

Mediaoposisi.com-Sobatfillah, siapa nih diantara kamu yang masih labil? Ayo deh ngaku..hehehe. Sobatfillah, kalau ngomongin soal remaja ternyata bisa buat kepala pusing tujuh keliling. What? Koq bisa? Yaa..karena mereka sering nggak jelas. Salah satu yang sering menimpa mereka yaitu penyakit labil alias tidak konsisten dengan sesuatu.

Kondisi hati, pikiran dan tingkah laku mereka suka berubah. Kadang suka tebar senyuman, tiba-tiba tensi, galau bahkan marah-marah nggak jelas. Yahhh itulah kondisi remaja-remaja kita saat ini. Nah, ngomongin soal labil, ternyata aqidah juga bisa labil sob. Loh, koq bisa? Yaa untuk itu kudu nyimak terus tulisan ini. Hehehehe....

Sobatfillah, beberapa waktu ini sedang jadi perbincangan di media sosial maupun media televisi tentang seorang artis sekaligus seorang anak dari pengacara kondang. Siapa dia? Ya..dia adalah Salmafina Sunan Kalijaga atau yang biasa disapa alma. Nah, kalau dengar namanya pasti dah tau semua dia anaknya siapa kan ya?? Hehehe..

Nah sobatfillah, salmafina merupakan artis yang pernah hijrah dan berhijab. Dia juga pernah menikah dengan seorang Hafidz Al-Qur’an yang bernama Taqy Malik. Tapi pernikahan mereka kemudian kandas ditengah jalan alias berakhir dengan perceraian.  Hal ini lalu menjadi  ramai diperbincangkan karena usia pernikahan mereka yang hanya bertahan sekitar 3 bulanan saja.

Wahh, padahal sebenarnya beruntung banget tuh bisa dapet suami penghafal qur’an. Tipe idaman banget tuh, dan nggak gampang dapatnya, ehh..koq malah curhat gini yak..hehehe. Nggak boleh baper sob. Ok next...

Sesuai yang didengar dipemberitaan bahwa Salmafina jadi galau usai perceraian itu. Akun sosmednya pun diserbu para netizen dengan komentar-komentar negatif sehingga membuat Salmafina marah dan geram dengan berbagai hujatan dan cacian yang ditujukan kepadanya.

Dan seperti pada umumnya, karena Salmafina merupakan artis maka kehidupan sehari-harinya pun dikepoin media-media dan diperbincangkan hingga menjadi konsumsi publik. Akibatnya Salmafina pun galau dan akhirnya lepas hijab alias membuka aurat. Yang sebelumnya ia telah hijrah dan berhijab, maka saat ini ia telah melepaskan hijabnya.

Dari salah satu acara televisi salmafina menyampaikan kekesalannya pada komentar-komentar netizen yang sehingga membuatnya berubah. Dan pada akhirnya ia pun diberitakan telah berpindah agama alias Murtad. Hal ini Salmafina sampaikan melalui tayangan live di instagramnya. Dalam salah satu acara televisi pun nampak Salmafina sedang memakai kalung salib. Astaghfirullah, na’udzubillahi min dzalik.

Kudu punya Aqidah Islam yang Kuat

Sobatfillah, Kejadian yang terjadi pada Salmafina merupakan gambaran aqidah yang labil. Bagaimana nggak labil sob, dulunya dia pernah hijrah, lalu kembali lagi ke kehidupan jahiliyah bahkan pindah agama. Na'udzubillahi min dzalik.

Sobatfillah, Aqidah Islam merupakan landasan berfikir kita alias menjadi sandaran kita dalam meniti jalan hidup, agar tidak mudah labil dan terombang ambing. Aqidah kita kudu kuat, nggak boleh lemah atau labil.

Saat aqidah kita nggk kuat maka kita akan mudah terpengaruh bahkan terjerumus dalam hal yang buruk. Aqidah merupakan kunci kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Rasulullah SAW selama di Mekkah juga menguatkan aqidah hingga menghasilkan kualitas keimanan yang sempurna. Maka bisa kita lihat, bagaimana gambaran aqidah nya para sahabat yang begitu kuat layaknya akar pohon yang nggak mudah tumbang tertiup angin. Maa shaa Allah.

Sobatfillah, selain itu perhatian dan pendidikan dari orang tua pun penting dalam membina dan menjaga aqidah generasinya menjadi generasi Islam yang tangguh yang tidak mudah terpengaruh dengan kondisi zaman yang penuh dengan kebebasan ini. Kehidupan liberal saat ini membuat remaja mudah terpengaruh, untuk itu peran orang tua sangat penting dalam kehidupan remaja.

Pendidikan aqidah yang baik pada dasarnya menjadi hak dasar bagi seorang Muslim. Ketika pendidikan aqidah ditanamkan pada anak sejak kecil maka insyaa Allah akan menjadi bekal ia dimasa remaja hingga dewasa selama ia hidup di dunia ini. Orang tua mempunyai tanggung jawab yang besar agar anak-anaknya tumbuh  diatas fitrah dan aqidah Islam yang lurus (benar).

Disisi lain, lingkungan juga punya pengaruh. Hidup dan tinggal dilingkungan yang baik dan islami maka pasti akan memudahkan kita melakukan hal-hal yang baik (sesuai dengan Islam). Kita kudu mencari teman yang sholih, yang bisa saling menguatkan aqidah dan saling  mengingatkan dalam kebaikan.

Bersama dengan mereka insyaa Allah akan menjaga aqidah kita. Sebaliknya jika kita bergaul dengan lingkungan yang rusak maka kehidupannya kita pun akan menjadi rusak. Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda : “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.

Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau mendapatkan bau asapnya yang tak sedap”. (H.R Bukhari dan Muslim).

Simak...
Sobatfillah, mari sejenak kita perhatikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berikut ini, “Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia”. (HR Muslim)

Hadits di atas menceritakan bagaimana kondisi akhir zaman yang penuh fitnah. Salah satunya adalah adanya orang yang di waktu pagi beriman tapi sore harinya kafir.

Sebaliknya, saat sore masih beriman entah apa yang terjadi di malam hari hingga membuat paginya menjadi kafir. Pagi masih menutup aurat dengan jilbab lalu sorenya berganti pakaian ala barat yang menyingkap aurat. Saat pagi masih baca al-Quran lalu sore hari melakukan kebaktian di gereja. Naudzubillahi min dzalik!.

Begitu mudahnya iman seseorang berubah. Dia meninggalkan Islam. Ragu dengan kebenaran Islam. Hanya karena silau terhadap dunia dan mengedepankan kepentingan pribadi.

Kasus Salmafina menjadi contoh dan pelajaran bagi kita. Pernah hijrah namun kembali melepas hijab bahkan murtad. Begitulah yang terjadi jika hijrahnya gagal. Hati manusia lemah, apalagi ketika sendiri. Perlu dukungan, saling menasihati antar sesama.

Mereka yang “gagal hijrah” bisa jadi disebabkan karena masih sering berkumpul dan bersahabat dekat dengan teman-teman yang banyak melanggar larangan Allah. Nggak istiqamah di atas jalan Islam. Justru kembali lagi ke dunia kelamnya yang dulu.

Semoga masih ada kesempatan bagi Salmafina dan yang lainnya untuk mendapatkan hidayah-Nya dan kembali kepada Islam. Insya Allah.

Sobatfillah, proses hijrah memang berat. Pasti ada ujiannya. Itu sebabnya butuh teman dan ilmu. Carilah teman yang bisa saling menasehati dan menjaga proses hijrah kita. Dan dengan ilmu kita bisa memahami mana yang benar dan salah.

Apa yang akan kita lakukan semuanya kudu punya ilmu sebagai petunjuk jalan kita dalam beramal shalih.  Untk itu kita kudu ngaji Islam agar menambah khasanah ilmu kita sambil merealisasikan ilmu itu dalam kehidupan kita dan sampaikan atau dakwahkan kepada yang lain agar kelak menjadi bekal kita menuju Syurga Allah SWT. Semoga kita tetap istiqomah dalam ketaatan.  Aamiin Yaa Rabbal 'alamin. Wallahu 'alam bishowab. [MO/vp]

Posting Komentar