Oleh: Ummu Azka 

Mediaoposisi.com-Bulan Juli menjadi saksi bisu, bersatunya dua kubu. Jagoan yang digadang-gadang akan menang, kini sukarela masuk kandang lawan. Tidak ada lagi harapan. begitu banyak orang bilang. Namun benarkah demikian?
Prabowo dan rivalnya pada Pilpres 2019, Jokowi akhirnya bertemu. Pertemuan keduanya terjadi di stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (13/7/2019).
Mereka berpelukan dan bersalaman ketika bertemu. Prabowo pun memberikan hormat kepada Jokowi, yang diumumkan menjadi pemenang pilpres oleh KPU. Keduanya kompak mengenakan kemeja berwarna putih, berbincang sebentar dan tertawa. Setelah itu, Prabowo dan Jokowi  menggunakan MRT menuju stasiun FX Senayan. Kemudian, keduanya makan siang bersama di Restoran Sate Senayan. ( Kompas.com)
Rekonsiliasi pun dimulai. Menurut KBBI Rekonsiliasi berarti perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula, atau bisa juga diartikan perbuatan menyelesaikan perbedaan.
Reaksi berdatangan dari banyak kalangan. Sejumlah aktivis hak asasi manusia menilai pertemuan Joko Widodo (Jokowi) dengan rival politiknya Prabowo Subianto bukan rekonsiliasi, melainkan negosiasi. (tempo.co.id 13/7/19).
Sementara Itu, persaudaraan alumni 212 memilih berpisah jalan dengan Prabowo Subianto, setelah Ketua Gerindra itu bertemu dengan Jokowi.
Bukannya tak rela mereka berbaikan, namun di sisinya ada ummat yang telah menaruh harap. Publik tak mungkin lupa dengan rentetan kejadian yang memilukan menyertai pemilu Pilpres sekarang. 
Dari awal dicalonkan, perasaan ummat seolah dimainkan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ulama yang datang bertandang, sampai mendoakan dengan penuh kesungguhan. 
Ditengah banyaknya pergolakan politik akhir-akhir ini, hadirnya kepercayaan ulama meniupkan angin segar perubahan. Hingga pagelaran pemilu dilangsungkan, sang jagoan tetap menjadi idaman. Masyarakat rela berkorban tak hanya tenaga dan pikiran. 
Nyawa pun banyak melayang. Tercatat sebanyak 700 jiwa meninggal dalam proses pemilu kali ini. Jumlah yang luar biasa sepanjang sejarah politik negeri.
Apa yang diharapkan tak jua datang. Banyaknya nyawa melayang seolah diabaikan. Pemilu tetap dimenangkan oleh rakusnya kekuasaan. 
Ummat tak tinggal diam. Aksi dilakukan dengan harapan kedzaliman bisa ditumbangkan, namun sekali lagi 21 nyawa jadi taruhan. 
Ummat Islam Ummat Terbaik
Pengalaman adalah pelajaran hidup yang paling berharga. Rekonsiliasi menjadi bukti yang nyata, untuk kesekian kalinya ummat "hanya" dimainkan dalam sebuah dagelan untuk meraih kekuasaan.
Ini adalah langkah praktis bagi para kompromis di tengah kondisi yang menurut mereka sudah makin kritis. Pola pikir  pragmatis di tengah kehidupan kapitalistik, membuat banyak orang yang terlibat di dalamnya hanya berpikir untuk meraih kekuasaan demi kepentingan pribadi dan kelompok semata, dan ini sah sah saja dalam demokrasi. Semangat kebebasan berpolitik di dalamnya memungkinkan semua ini terjadi.
Raihan suara ummat yang menginginkan perubahan, rupanya dengan mudah dilangkahi . Bahkan banyak nya nyawa melayang pun tak pernah jadi beban.
Sejatinya, sebagai ummat Islam, tak layak bagi kita bersedih ataupun menyimpan perih. Kita adalah ummat terbaik. Yang telah dijanjikan Allah akan memenangkan semua pertarungan di muka bumi. 
Allah berfirman dalam QS An Nur ayat 55 yang artinya:
"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bahwa dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah keadaan mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku dengan tidak mempersekutukanKu dengan sesuatu apapun. Tetapi barang siapa tetap kafir setelah janji itu maka mereka itulah orang-orang fasik."

Dalam ayat tersebut Allah selalu memuji dan memuliakan kaum Muslimin. Kita akan mulia dan kembali berjaya jika kita mengikuti jalan yang telah Allah tetapkan.

Rasulullah Saw sebagai Nabi dan juga sosok ideal memberi tauladan, betapa sikap kompromis dengan kemaksiatan merupakan hal yang diharamkan. Diceritakan bahwa pada suatu masa Rasulullah diminta para pemuka Quraisy untuk meninggalkan dakwah nya karena dianggap mengganggu eksistensi para bangsawan dan juga pengikutnya. 
Hingga keluar hadits berikut : 
Yang berarti: “Wahai Paman, Demi Allah, kalau pun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini (penyampaian risalah), sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa, pastilah tidak akan aku meninggalkannya.” Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq dalam al-Maghazi (Sirah Ibnu Hisyam) ”

Tingginya kepercayaan ummat pada sosok lain selain Jokowi menjadi sebuah isyarat, bahwasanya ummat membutuhkan perbaikan sistem bersama pemimpin idaman. Oleh karenanya, aktivitas amar makruf nahi mungkar (dakwah) adalah kebutuhan yang sulit ditawar.
Semangat Ummat untuk taat pun kini banyak nampak. Tinggal bagaimana agar potensi besar ini menemukan kanal yang tepat. Sehingga kebangkitan Islam yang di impikan segera terwujud menjadi kenyataan. 

Seruan yang Dinantikan
 Kaum muslimin membutuhkan kanalisasi yang pasti. Karenanya tak mungkin bermuara pada demokrasi. Meski saat ini geliat ummat seperti tak beraturan, namun kejadian demi kejadian hampir pasti menggiring mereka pada satu kalimat : Laaa ilaaha Illa llah, Muhammadurrasuulullah... 
Tidak ada lagi yang wajib diusung, diemban dan ditinggikan selain kalimat tersebut. Secara sunnatullah, dakwah  khilafah akan menjadi primadona yang tak ada duanya. Kaum muslimin pasti mencari tahu dan berusaha membangun kembali " rumah aslinya" .
Konsep persatuan ummat yang diusung kini bukan lagi hal yang utopis. Penerimaan tentang opini Islam makin tak mampu disumbat. Bahkan oleh tangan penguasa.
Ikon Bendera Rasulullah, opini hijab, keharaman riba, dan terlebih kata Khilafah yang berhasil menjadi "momok" bagi para kapitalis dan liberalis , adalah beberapa bukti bahwa dakwah ini sudah memberikan arti yang begitu besar bagi masyarakat. Bahkan negara.
Allah berfirman dalam QS Ali Imran ayat 104 yang artinya 
" Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan umat yang menyeru kebajikan,  mereka menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung" 
Ayat diatas senantiasa menjadi pemantik bagi kita agar makin giat berlomba dalam taat. Sehingga kebangkitan Islam dan kaum Muslimin bukan lagi sekadar isyarat.
Wallahu a'lam bishshowab.[MO/sg]

Posting Komentar