Oleh: Mahrita Julia Hapsari, M.Pd*
(Praktisi Pendidikan)
Mediaoposisi.com-workshop dengan tema “Menangkal Radikalisme Melalui Penguatan Kapasitas Dakwah Damai di Masyarakat”. diselenggarakan kerjasama Lembaga Visi Indonesia bersama pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia di Sumedang pada 7-8 Juli 2019 (republika.co.id, 09/07/2019).

Data hasil  Riset MataAir Foundation  menunjukkan paham radikalisme tidak saja menyentuh kalangan masyarakat umum tapi juga sudah menyentuh pada kalangan terdidik.

Menurut ketua panitia, paham radikal tidak saja mengancam persatuan dan kesatuan bangsa tapi juga merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Delegasi NU Care, menawarkan solusi yaitu penguatan dakwah damai di masyarakat serta penguatan ekonomi.

Tak dibahas tentang apa itu paham radikal, indikatornya dan asal usulnya. Seolah paham radikal ini seperti benda yang jatuh dari langit dan kita hanya bisa menyikapinya.

Tulisan ini mengajak anda untuk menelusuri terminologi radikalisme. Agar anda mengerti, betapa latahnya para pemimpin muslim dalam menderaskan deradikalisme hingga memecah belah rakyat Muslimnya sendiri.

Terminolgi radikalisme seirama dengan misi War on Terorism dari negara adi daya pengusung ideologi kapitalisme, Amerika Serikat. Siapapun presidennya, program WoT ini diwariskan dengan sempurna. Sebagai negara nomor satu dunia, sekaligus polisi dunia, Amerika mampu mengatur, mengikat, hingga memaksa semua negara di dunia untuk ikut berperan.

Stick and carrot telah disediakan oleh Amerika sebagai punishment and reward atas respon setiap negeri. Pemerintah Amerika Serikat akan menyediakan dana sebesar 5 milyar dollar untuk mendikte negara-negara lain memerangi ekstremisme radikal (bbc.com, 28/05/2014). Amerika bahkan telah membentuk, mendanai, melatih dan mempersenjatai ISIS (cnnindonesia.com, 09/07/2015). ISIS adalah potret buruk yang ingin disuguhkan oleh Amerika tentang Khilafah.

Bukti keseriusan Amerika adalah dengan mendanai sebuah lembaga riset RAND Corporation, yang disebut lembaga think tank Amerika. Garis besar dokumen Rand berisi kebijakan AS dan sekutu terhadap dunia Islam. Berisi peta kekuatan (mapping), sekaligus program pecah belah dan desain konflik internal di kalangan umat Islam melalui berbagai (kemasan) pola, program bantuan, termasuk berkedok capacity building dan lainnya.

RAND Corporation memprediksi situasi pada tahun 2020. Ada 4 prediksi, yaitu: (1) Davod World: Kebangkitan ekonomi Asia, dengan China dan India bakal menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia; (2) Pax Americana: Dunia tetap dipimpin dan dikontrol oleh AS; (3) A New Chaliphate

Bangkitnya kembali Khilafah Islamiyah, yakni Pemerintahan Global Islam yang bakal mampu melawan dan menjadi tantangan nilai-nilai Barat; dan (4) Cycle of Fear: Muncul lingkaran ketakutan (phobia), yaitu ancaman terorisme dihadapi dengan cara kekerasan dan akan terjadi kekacauan di dunia.

Dan yang menjadi fokus Amerika adalah prediksi ketiga. Amerika sadar sepenuhnya ketika Khilafah hadir, maka ideologi Islam akan menggantikan ideologi kapitalis yang diusung Amerika. 

Syariat Islam yang diterapkan oleh Khilafah takkan membiarkan swasta individu ataupun korporasi menguasai kepemilikan umum seperti SDA. Saat ini, ketika SDA dikelola oleh swasta, manfaatnya hanya dirasakan oleh pengusaha dan penguasa. Rakyat hanya dapat kerusakan lingkungan dan sosial, longsor serta banjir. 

Khilafah juga takkan mengijinkan swasta mengelola pelayanan publik seperti kesehatan, pendidikan, infrastruktur, transportasi, dan energi. Karena ketika swasta mengelola sesuatu, maka prinsip mencari keuntungan telah menjadi brand dalam setiap pelayanannya. Penerapan syariat Islam dalam Khilafah akan memelihara akal manusia, semua jualan Amerika yang merusak akal pun takkan laku.

Demokrasi, pluralisme, sinkritisme, game online, narkoba, seks bebas, feminisme, LGBT, HAM, takkan laku. 3F, Food, Fun, Fashion, yang selama ini menjadi pintu masuk Amerika dalam menyedot uang rakyat sekaligus menghancurkan generasi, takkan dilirik lagi. Maka, akan tumbanglah Amerika beserta ideologi kapitalisnya.

Demi menjegal tegaknya Khilafah, yang merupakan simbol kebangkitan Islam, Amerika telah menyiapkan strategi. Strateginya adalah dengan devide et impera, memecah belah kaum muslimim. Di dalam dokumen RAND Corporation tersebut telah dikotak-kotakkan umat muslim ke dalam empat kelompok lengkap dengan ciri dan saran penanganannya.

Pertama, fundamentalis; menolak demokrasi dan mendukung penerapan syariat Islam dan Khilafah. Hadapi dan lawan adalah saran untuk memperlakukan kelompok pertama. 

Terhadap kelompok pertama ini, Barat telah membungkam media untuk tidak menyuarakan ide ataupun kontribusi positif dari kelompok ini, bahkan membayar media untuk memelintir serta memfitnah kelompok pertama dengan fitnah yang sangat keji.

Kedua, tradisionalis. Kelompok ini bersifat konservatif dan curiga terhadap modernitas, inovasi, dan perubahan. Barat menggunakan kelompok kedua ini untuk melawan kelompok pertama. Ketiga, modernis; Barat sangat mendukungnya karena kelompok ini ingin dunia Islam jadi bagian dari modernitas global (Barat). 

Untuk kelompok ketiga ini, Barat telah mengucurkan dana yang tak sedikit untuk membiayai penelitian, kegiatan dan media dalam rangka menampilkan wajah Islam yang moderat, yaitu Islam yang sesuai dengan keinginan Barat. Di Indonesia kita mengenalnya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL), yang mulai tak laku dan berganti baju dengan Islam Nusantara.

Keempat, sekularis. Kelompok ini menginginkan dunia Islam memisahkan agama dari negara, namun masih ada syu’ur Islamnya. Terhadap kelompok ini, Barat akan mendukungnya dengan hati-hati.
Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar mendapat perhatian dari Amerika. Ide khilafah telah diframing dengan jahat sebagai paham radikalisme yang anti Pancasila, mengancam NKRI dan intoleran

Banyak daftar yang telah dikeluarkan oleh BNPT dan berbagai narasi persuasif sebagai upaya deradikalisasi telah dilakukan. Mulai dari 17 masjid di lingkungan pemerintah (bbc.com, 19/11/2019), 39% mahasiswa (cnnindonesia.com, 29/04/2018), 7 PTN (cnnindonesia.com, 25/05/2018), PNS (cnnindonesia.com, 31/05/2018), hingga 3% TNI terpapar radikalisme (cnnindonesia.com, 19/06/2019). 

Dan HTI sebagai kelompok yang konsen mendakwahkan Khilafah dan membangkitkan kesadaran umat tentang kerusakan sistem kapitalisme dan pentingnya penerapan syariah Islam telah dicabut BHP-nya.

Namun ide khilafah terus menjadi buah bibir dan bersemayam di hati umat muslim. Hasil survei setara institut menyebutkan ada 10 PTN terpapar paham radikalisme (detik.com, 01/07/2019). Artinya, bertambah 3 dari daftar BNPT tahun 2018.

Khilafah adalah janji Allah (QS.An-Nuur: 55), bisyarah Rasulullah (HR. Ahmad). Takkan ada yang mampu membendung kedatangannya. Dakwah khilafah yang mudah diterima umat muslim disebabkan oleh dua faktor: kerusakan sistem demokrasi kapitalisme yang semakin nyata dan kesesuaian Islam dengan akal dan fitrah manusia. 

Karenanya, semakin kuat dihembuskan isu radikalisme, semakin berpeluang besar bagi dakwah Khilafah untuk dijelaskan kepada umat muslim. Terlebih jika kita ingat kembali bahwa terminologi radikalisme adalah upaya Amerika untuk menjegal kebangkitan Islam. Wallahu a'lam [MO/vp]

Posting Komentar