Oleh: Desi Wulan Sari
Mediaoposisi.com-Siapa yang tidak ingin hidup di Negara yang makmur. Bak surga dunia, segala macam kebutuhan dapat terpenuhi. Itulah Indonesia yang katanya "Gemah ripah loh jinawi", dalam ungkapan bahasa jawa yang artinya kekayaan alam yang berlimpah.

Namun pada kenyataannya, tidak seindah yang dibayangkan. Khususnya saat ini negeri kita sedang dilanda krisis ekonomi, jatuhnya berbagai roda perekonomian rakyat. Seperti halnya biaya transportasi umum yang melambung tinggi. Jatuhnya harga-harga bahan pokok dan  perindustrian rakyat. Bahkan kebutuhan pokok yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak seperti listrik, air, sekolah berada dalam kondisi yang tidak kondusif terhadap rakyat saat ini.

Tak dapat terelakkan, nyatanya para petani sedang mendapat giliran dalam menghadapi masa sulit ini. Mereka kesulitan mengolah sawahnya karena musim kemarau yang melanda. Saat musim kemarau tiba, terjadi kekeringan di sejumlah daerah. Karena kondisi tersebut Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong petani memanfaatkan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sebelum mulai menanam padi.

Dengan membayar premi Rp36.000 per hektare per musim, petani yang sawahnya terkena bencana banjir dan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) mendapat klaim (ganti) Rp6.000.000 per hektare, bila mengalami gagal panen akibat kekeringan.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, harga premi AUTP ini relatif sangat murah. Manfaatnya sangat besar bagi petani, terutama di musim kemarau seperti saat ini. "Sebelum mulai menanam sebaiknya didaftarkan asuransi dulu. Bayarnya tidak mahal, karena disubsidi Pemerintah. Petani yang sawahnya kekeringan dapat ganti Rp6 juta per hektare," ujarnya, Jakarta, Sabtu 28/6/2019 (Suara.com, 2/7/2019).

Program asuransi sawah ini hanyalah upaya cuci tangan pemerintah dari keharusan mengurusi rakyatnya. Alih-alih diberi subsidi rakyat malah diminta membayar untuk permasalahan yang dihadapi dalam usaha pertanian mereka.

Jika Kita melihat arah tujuan dari program ini maka akan tertuju pada satu titik, yaitu kepentingan para kaum kapitalis. Dimana asuransi dijadikan cara dagangan yang ditawarkan penguasa pada petani, yang notabene rakyat yang masih perlu mendapat perhatian khusus karena kondisi perekonomian nya yang masih belum bisa dikatakan mampu apalagi makmur sejahtera.

Mungkin hanya sebagian kecil saja petani yang berada dalam kondisi baik, namun masih banyak petani yang hanya mengandalkan modal sawahnya dari menanam padi saja, yang entah modalnyapun ia dapatkan dari mana.

Ketidakberpihakan penguasa saat ini, membuat mereka merasakan kerinduan yang sangat, akan pemimpin amanah yang nemikirkan nasib rakyatnya. 

Seorang pemimpin yang mampu memberikan solusi, bantuan tanpa pamrih bagi keberlangsungan hidup petani dan sawah garapannya yang saat ini belum mereka dapatkan. Kemanakah para petani ini ingin mengadukan nasibnya? Kepada siapa derita ini nereka keluhkan? 

Tentunya tidaklah mungkin saat ini nereka dapat mengandalkan bantuan hidup nereka pada penguasa, tidak dalam sistem kapitalis yang ada saat ini, sistem yang menghalangi para petani mendapatkan haknya sebagai warga negara dalam mewujudkan kemakmuran.

Pertanian Masa Daulah Islam
Bidang pertanian mendapat perhatian yang besar dalam Islam. Islam memberikan dorongan ruhiah yang besar untuk bertani atau berladang atau lebih umum menanam bebijian atau pepohonan. Rasulullah saw. pun bersabda:

Tidaklah seorang Muslim menanam sebatang pohon (berkebun) atau menanam sebutir biji (bertani), lalu sebagian hasilnya dimakan oleh burung, manusia atau binatang, melainkan baginya ada pahala sedekah (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmizi dan Ahmad).

Kemajuan besar di sektor pertanian itu menunjukkan besarnya peran kebijakan pertanian Khilafah ketika itu. Kebijakan itu dimaksudkan untuk meningkatkan produksi pertanian dan menjamin kelangsungannya. Kebijakan itu mencakup kebijakan intensifikasi, ekstensifikasi, pembangunan infrastruktur pertanian, litbang dan dukungan kepada petani.

Intensifikasi dilakukan untuk meningkatkan produktivitas. Di antaranya dalam bentuk penggunaan sarana produksi pertanian yang lebih balk seperti bibit unggul, penggunaan pupuk, obat-obatan dan saprotan, dan sebagainya. Intensifikasi juga dilakukan dengan jalan penciptaan, penyebarluasan serta penggunaan teknik budidaya dan produksi modern yang lebih efisien di kalangan petani.

Kemajuan pertanian tidak bisa diraih tanpa dukungan infrastruktur yang baik dan memadai. Ini disadari betul oleh para khalifah. Infrastruktur penting adalah irigasi. Khilafah Umayyah membangun jaringan irigasi yang canggih di seluruh wilayah dan yang terkenal di wilayah Irak. 

Sistem jaringan irigasi ini lalu diintroduksi ke Spanyol pada masa pemerintahan Islam di sana. Pompa-pompa juga dikembangkan untuk mendukung irigasi itu. Awalnya digunakan pompa ungkit. Berikutnya dikembangkan pompa Saqiya yang digerakkan dengan tenaga hewan. 

Yang fenomenal adalah dikembangkan kincir air sejak abad ke-3H (9M) untuk mengangkat air sungai dan diintegrasikan dengan penggilingan. Ada ratusan di sepanjang sungai Eufrat dan Tigris. 

Infrastruktur lainnya adalah jalan. Jalan terus dibangun dan ditingkatkan kualitasnya sejak masa Khalifah Umar bin al-Khaththab.

Khilafah juga membiayai pemeliharaan kanal kanal besar untuk pertanian. Air dari Sungai Eufrat dialirkan hampir ke seluruh wilayah Mesopotamia atau Irak sekarang, sedangkan air dari Tigris dialirkan ke Persia. Negara juga membangun sebuah kanal besar yang menghubungkan dua sungai di Baghdad. Kekhalifahan Abbasiyah memelopori pengeringan rawa-rawa agar digunakan untuk pertanian.

Khilafah juga merehabilitasi desa-desa yang rusak dan memperbaiki ladang yang mengering. Pada abad ke-10, di bawah kepemimpinan sultan dari Bani Samanid, daerah antara Bukhara dan Samarkand, Uzbekistan berkembang pesat dan menjadi satu dari empat surga dunia. Tiga lainnya adalah wilayah Persia Selatan, Irak Selatan dan di sekitar Damaskus, Suriah.

Khilafah juga memberikan dukungan kepada para petani. Di antaranya dukungan permodalan baik dalam bentuk pemberian seperti yang diberikan pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab kepada para petani di Irak, atau dalam bentuk pinjaman tanpa bunga seperti pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan utang itu baru dikembalikan dua tahun setelahnya.

Maka dari itu, wajar dengan kebijakan itu dan kebijakan lainnya, tercapai kegemilangan pertanian pada masa Khilafah. Berdasarkan catatan sejarah dan komentar para ilmuwan termasuk dari Barat, sistem pertanian pada era Spanyol Muslim merupakan sistem pertanian yang paling kompleks dan paling ilmiah, yang pernah disusun oleh kecerdikan manusia.

Joseph McCabe, cendekiawan berkebangsaan Inggris, mengungkapkan, di bawah kendali Muslim Arab (pada masa Khilafah), perkebunan di Andalusia jarang dikerjakan oleh budak. Perkebunan dikerjakan oleh para petani sendiri. Saat yang sama, bangsa Eropa masih dikukung oleh sistem feodal, saat tanah pertanian dikuasai oleh para tuan tanah dari kalangan bangsawan, sedangkan petaninya hanya sebagai buruh tani yang miskin. 

Hal ini terjadi karena digunakannya sistem kapitalis saat itu. Maka dapat Kita bandingkan bagaimana baik dan buruknya sistem yang berlaku. Antara sistem kufur kapitalis yang hanya mementingkan keuntungan para penguasa semata ataukah sistem yang paling baik yang pernah ada, yang selalu berpihak pada kemaslahatan umatnya.

Sejatinya Kita kembalikan kerinduan para petani saat ini. Kerinduan akan pemimpin yang menyanyomi, melindungi, dan neri'ayah rakyatnya dengan penuh kecintaan, semata-mata karena para penguasa ingin menjalankan amanah yang dititipkan Allah atas dirinya. Dialah seorang khalifah yang hadir dalam Negara Daulah sebagai perisai umatnya. [MO/vp]
Wallahu a'lam bishawab.

Posting Komentar