Oleh : Binti Adib
 (Alumni sebuah pesantren di Jawa Timur)

Mediaoposisi.com-Dunia pesantren banyak menyimpan  sisi menarik untuk dikritisi. Pesantren adalah tempat generasi muda menimba ilmu. Tempat para santri digembleng akhlak dan kepribadiannnya. 

Tempat para orang tua menaruh  harapan bagi masa depan putra-putrinya. Harapan menjadi insan yang sholih, sukses dunia dan akhirat. Insan yang berguna bagi agama dan bangsanya.

Menyadari harapan orang tua dan masyarakat terhadap out put pesantren, pihak pesantren berupaya menyajikan kurikulum dan program yang dianggap dibutuhkan para santri dan masyarakat. 

Namun yang disayangkan, masih seiring dengan ukuran kebahagiaan dan kesuksesan di mata masyarakat, yaitu terkumpulnya sejumlah harta pada diri seseorang, alumni pesantren dipandang sukses jika sukses secara materi. 

Belakangan berkaitan dengan kemandirian santri, juga dalam rangka menghadapi MEA, revolusi industri 4.0 di beberapa pesantren dikembangkan pelatihan entrepreneur. Dikembangkannya  entrepeneur  di pesantren, antara lain berawal dari pandangan bahwa  pesantren, tidak hanya menjadi tempat untuk menuntut ilmu keagamaan. 

Pesantren juga menjadi tempat untuk menggembleng para santri, untuk menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang tangguh dan kreatif. Harapannya, setelah lulus dari pesantren, para santri tidak hanya kuat dari sisi religiusnya, tapi juga lebih matang dalam hal berwirausaha. Sehingga, kemandirian ekonomi akan terwujud.

 Bahkan ada pendapat bahwa  kemampuan entrepreneur ini, bisa menghasilkan santri-santri yang mandiri secara ekonomi yang dapat mencegah orang bergabung dengan kelompok radikal.  Menurut pandangan ini, kemampuan entrepeneur  bisa memutus salah satu rantai penyebaran paham radikalisme di masyarakat di satu sisi dan  menciptakan santri-santri yang bermental wirausaha.

Memang benar,  berdagang, berniaga merupakan salah satu profesi yang sangat mulia dan utama selagi dijalankan dengan jujur dan sesuai dengan aturan serta tidak melanggar batas-batas syari’at yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah. 

Dalam Islam sebuah konsep kewirausahaan merupakan suatu hal yang penting bagi umat Islam. Karena Islam mengajarkan umatnya agar bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Bekerja di sini bisa juga dilakukan dengan cara berwirausaha, bisa berupa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri ataupun bekerja pada orang lain.

Hanya saja jika para santri  dan pesantren gagal fokus terhadap program utama pesantren khawatirnya misi pesantren berbelok arah. Santri giat  belatih wirausaha, tugas santri menimba ilmu terabaikan. 

Tugas para ustadz, ulama- menyiapkan mereka menjadi mu’alim, dai yang  akan menyampaikan  ilmu ke tengah  masyarakat, membimbing umat menuju kebangkitan terabaikan. Cita-cita menjadi ulama digeser menjadi pengusaha. 

Kesalahan memaknai kebangkitan  akan mengalihkan tugas pesantren menyiapkan calon-calon ulama.  Kita bisa mengambil pelajaran dari Aaq Syamsudin membekali Muhammad al Fatih dengan tsaqofah Islam  hingga dia siap menjadi pemimpin.

Kebangkitan (an Nahdloh) memiliki makna kemajuan, yaitu sebuah pergerakan yang berawal dari suatu kondisi menuju kondisi yang lebih baik. Kebangkitan yang paling mendasar adalah perubahan cara berfikir. 

Syaikh Taqiyyuddin An Nabhani dalam buku beliau Nidzam ul-Islam , menyatakan bahwa kebangkitan manusia tidak bisa tidak diawali oleh cara pandang manusia kepada alam sekitarnya (manusia, kehidupan dan alam semesta) dikaitkan dengan apa yang ada sebelum kehidupan ini dan apa yang ada sesudahnya. 

Syaikh Sayyid Qutub menggambarkan bahwa kebangkitan yang sesuangguhnya adalah kebangkitan yang mencetak generasi seperti generasi sahabat ra.

 Perilaku seseorang akan selalu didasarkan pada pemikiran dan pemahamannya. Semakin meningkat taraf pemikiran seseorang, akan semakin tinggi pulalah nilai perilaku seseorang tersebut, ia pun tidak hanya mengekor saja tanpa mengetahui sesuatu yang akan dilakukannya. 

Maka, hakikat kebangkitan adalah meningkatnya taraf berfikir yang dilandasi aqidah, dimana satu-satunya aqidah yang benar adalah aqidah Islamiyyahturan Islam.

Sebenarnya jalan untuk menjadikan umat untuk bangkit  hanyalah satu, yaitu dengan cara meningkatkan taraf berfikirnya, bukan dalam hal peningkatan taraf ekonomi, bukan kemajuan iptek, atau pula akhlak mulia. Akan tetapi satu-satunya jalan menuju kebangkitan umat hanyalah dengan meningkatkan taraf berfikir tadi. 

Kondisi saat ini mengharuskan kita bangkit kembali dan merebut kembali gelar yang Allah berikan kepada umat Nabi Muhammad yaitu Khairru Ummah. Dan, meningkatakan taraf berfikir kita –selaku bagian dari umat islam- merupakan wasilahnya. 

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan ke tengah-tengah manusia agar kalian memerintahkan kebajikan dan mencegah kemunkaran sementara kalian beriman kepada Allah.” (Firman Allah Surat Ali Imran ayat 110).

Ulama dan santri memiliki peran yang sangat strategis dalam kebangkitan umat. Dimasa penjajahan, masyarakat Indonesia terpuruk. Rakyat berhasil bangkit dan meraih hidup yang lebih bermartabat atas peran ulama. 

Sebut saja, pangeran Diponegoro ulama di tanah Jawa, pangeran Pattimura di Maluku, Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat menunjukkan peran besar ulama membangkitkan umat melawan penjajah dan meraih kemerdekaan.

Saat ini, umat masih dalam kondisi yang terpuruk dalam seluruh aspek kehidupan akibat kubangan sistem sekuler kapitalis. Kapitalisme sekuler ini menjauhkan umat dari prinsip-prinsip beragama yang merupakan kunci kebangkitan umat islam.

Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna sebenarnya mampu menjawab semua persoalan yang dihadapi umat. Keterpurukan ini karena umat gagal memahami Islam yang sempurna dan belum ada semangat mengamalkannya. Dari para santri dengan bimbingan para ulama, umat akan belajar memahami Islam dan mengamalkannya.

Kebangkitan umat hanya akan dapat diraih dengan kebangkitan pemikiran bukan teknologi, ilmu pengetahuan atau aspek spiritual semata. Pemikiran yang dimaksud adalah  pemikiran Islam kaffah atau komprehensif. Bahkan Islam tidak boleh disampaikan dan diamalkan secara sebagian-sebagian. Allah SWT mencela perbuatan demikian dalam surah Al-Baqarah (2): 85.

Ulama dan santri  harus bangkit dan mengambil perannya sebagai penyampai risalah para nabi. Sedangkan masyarakat menyambut dengan antusias. Dengan begitu gelombang kebangkitan akan muncul. 

Umat yang dibimbing para ulama menegakkan kalimatul haq, menghapus penjajahan kapitalis sekuler, dan mengokohkan persaudaraan diantara muslim yang saat ini tercerai berai dengan tali agama Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran (3): 103. Wallahu 'alam bishowab.

Posting Komentar