oleh: Trisnawaty Amatullah 
Mediaoposisi.com-Tepat hari Sabtu (13/07)  pukul 10 pagi di Stasiun MRT Lebak bulus. Dengan pakaian putih keduanya bertemu. Tercatat dalam sejarah.  Ini bukan tentang dua sejoli yang sedang memadu cinta. Bukan sepasang kekasih yang melangsungkan ikatan suci (mitsaqan ghalizan).
Ini tentang pertemuan dua kubu yang bertarung dalam pesta demokrasi 17 April yang lalu. pertemuan pertama antara kedua capres sejak pilpres berakhir. "pertemuan seorang sahabat, kawan, saudara" yang sudah direncanakan sejak lama. Ungkap Jokowi. Prabowo mengucapkan selamat atas kemenangan Jokowi ( bbc.com).
Harapan Umat Pupus
Pesta dengan dana fantastik sekitar 25 T. Dengan berbagai kecurangan . Kematian anggota KPPS 700 jiwa masih membekas. Bak tinta diatas kain putih. Wajar menyisakan respon negatif dari umat atas pertemuan keduanya. Asep Syarifudin selaku Pelaksana Tugas Ketua PA 212  menilai, pertemuan tersebut merupakan bentuk pengkhianatan Prabowo.
Prabowo dianggap mengabaikan aspirasi umat, termasuk PA 212. Ia menjelaskan, PA 212 dan sejumlah ulama pada Pilpres 2019 mendukung Prabowo – Sandiaga Uno dinilai bisa membela dan mengakomodasi kepentingan mereka. Sementara Jokowi, diidentifikasi oleh PA 212 dan kelompok semacamnya sebagai sosok yang anti-Ulama.
Tak hanya itu, Prabowo dan Jokowi bersepakat meminta para pendukungnya masing-masing berhenti berseteru (suara.com). Pertemuan itu sekaligus menjadikan harapan umat pupus. Bagaimana tidak, masih terngiang-ngiang di telinga ketika ustadz Abdul Shomad (UAS) dan Ustadz Adi Hidayat (UAH) mendoakan Prabowo.
Hal yang sama dari ijtima ulama, menaruh harapan yang sama terhadap Prabowo.  Nasi sudah menjadi bubur. Inilah wajah demokrasi yang sesungguhnya. Tidak ada lawan dan kawan abadi. Yang ada adalah kepentingan sejati.
Khilafah Tumpuan Umat 
Meski demokrasi menyisakan luka dan kesedihan. Umat tidak boleh larut. Sebaliknya umat harus bangkit. Harapan itu masih ada. Tentu  bukan mengulang demokrasi yang penuh kezaliman. Sebaliknya harapan itu ada pada sistem islam (khilafah).
Hal ini seperti diungkapkan  PA 212, ‘kami berharap khilafah ada di Indonesia tahun 2024’. Khilafah ini menjadi buah bibir di seantero nusantara hingga dunia. Tak ayal menjadikan para pembencinya kepanasan. Berbagai upaya dilakukan untuk membendungnya. Menghadapi itu  ulama bersama umat harus menjadi garda terdepan dalam memperjuangkannya.
Tak boleh surut ke belakang. Tentunya bukan dengan mengendarai mobil demokrasi. Islam menetapkan metode untuk mewujudkan khilafah. Dengan mengikuti dakwah Rasulullah saw di Mekkah sebagai darul kufur saat itu. Pertama, marhalah tatsqif.
Membina sahabat yang telah masuk islam di Darul Arqam dengan islam. Tujuan pembinaan ini untuk menjadikan kaum muslim kuat dari segi aqidah, bersyakhsiyyah islamiyyah dan menjadi bagian kutlah. Kedua, marhalah tafaaul ummah.
Sahabat yang tergabung dalam kutlah Rasulullah saw berinteraksi ditengah-tengah masyarakat untuk membangun opini islam. Ketiga, marhalah tathbiq ahkamu islam. Tahapan penerapan islam yang didahului dengan thalobun nushrah.
Rasulullah saw mendatangi kabilah dengan menawarkan mereka untuk masuk islam dan agar mereka memberikan kekuasaan kepada Rasulullah saw. Tanpa kompromi. Hingga pertolongan datang dari suku Aus dan Khazraj. Tumpuan umat satu-satunya hanya dengan khilafah.
Tidak berlebihan PA 212 mengungkapkan, ‘kami berharap khilafah ada di Indonesia tahun 2024’. Rasulullah saw bersabda, ‘Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti metode kenabian’ (HR. Ahmad). Wallahu’allam[MO/sg]

Posting Komentar