Oleh : Lia Ummi'y Ayubi
( Muslimah Sholihah Tamansari Bogor )

Mediaoposisi.com-Beberapa hari belakangan topik bahasan mengenai RUU P-KS kembali menghangat. Semua tak lepas dari pro kontra yang terjadi terkait RUU ini. Seperti yang dikutip dari m.republika.com, para aktivis yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Peduli Perempuan melakukan aksi menolak Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) di Car Free Day (CFD) Dago, Kota Bandung, Ahad (21/7). 

Menurut mereka jika RUU PKS disahkan akan berpotensi meningkatnya perilaku seksual yang bertentangan dengan agama, budaya dan norma sosial di masyarakat Indonesia. (21/07/2019).

Bila dilihat dari namanya RUU ini memang terkesan baik karena prihatin terhadap maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi di negeri ini. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bila dibaca secara teliti, akan tampak jika muatan nilai barat yang memuja sekularisasi dan liberalisasi turut disusupkan dalam materi RUU ini. 

Contohnya mengenai definisi Kekerasan seksual yang digunakan, terfokus pada klausul “secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang, yang menyebabkan seseorang itu tidak mampu memberikan persetujuan dalam keadaan bebas”. 

Ini memberkani kesan bahwa sebuah perbuatan seksual yang dilakukan tanpa paksaan, dikehendaki oleh satu sama lain sekalipun bukan sebagai suami istri maka tidak akan dikategorikan sebagai perbuatan yang patut disanksi. 

Di sinilah peran agama apalagi Islam dinafikan. Jika ini diterapkan maka bukannya menyelesaikan masalah tapi justru nantinya akan semakin banyak perzinahan atas dasar rasa suka sama suka yang dilegalkan di negeri ini.

Kalau memang berniat untuk menghapus kekerasan seksual maka tidak bisa dan tidak akan pernah bisa hanya dengan mengesahkan RUU P-KS ini. Penyelesaian ini harus diselesaikan dengan mencari akar permasalahan dari adanya kekerasan seksual. Menurut sebagian kalangan penyebab kekerasan seksual adalah dampak dari ketimpangan gender. 

Oleh sebab itu maka mereka menggiatkan ide Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG). Ide ini sejatinya adalah upaya yang dilakukan kaum feminis untuk merusak tatanan agama. Doktrin sentral yang dibawa oleh kaum feminis adalah equality (persamaan). Elemen ini merupakan salah satu unsur pandangan Barat. Doktrin equality tersebut lah yang mewarnai ide KKG ini.

Ide KKG menyatakan perlu adanya kesamaan posisi, kondisi dan partisipasi pria-wanita dalam setiap aspek kehidupan. Doktrin equality semacam ini bukan keadilan, sebab dalam fitrah dan kodratnya pria dan wanita berbeda. Maka akan nanpak dengan jelas bahwa ide KKG ini sengaja diaruskan ke dunia Islqm sebagai bentuj serangan pemikiran yang mendiakreditkan Islam. 

Padahal dalam Islam perempuan memiliki posisi yang dimuliakan bukan untuk disetqrqkan. Mereka memandang Islam diskriminatif terhadap perempuan. 

Aturan syariah seperti terkait pakaian, larangan perempuan menjadi pemimpin negara/penguasa, tanggung jawab keibuan, relasi suami istri, perkawinan, perwalian, nusyuz, ketentuan waris dan lainnya dianggap diskriminasi dan tak adil atas perempuan. Islam dilekatkan bias patriarkhis, bahkan banyak ayat dan hadits dituduh bermuatan misogynist (membenci wanita). Spirit ide ini pada hakikatnya menjadi gugatan terhadap Islam.

Maka ketika kita kembali membahas urgensitas pengesahan RUU P-KS disebabkan pemahaman mengenai dampak ketimpangan gender maka akan kita dapati ketidak sesuaian antara kedua hal ini. Karena penyebab kekerasan seksual terhadap perempuan bukanlah karena ketidak setaraan gender antara pria-wanita. 

Justru semua ini  adalah dampak dari penerapan sistem sekuler demokrasi kapitalis neoliberal yang menjauhkan peran agama dalan kehidupan. Inilah ciri masyarakat sekuler yang meniadakan peran Pencipta dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menangani kekerasan seksual yang terjadi.

Sekulerisme memang menerima adanya peran Pencipta, namun dibatasi hanya dalam ruang privat, yaitu ibadah saja. Sekulerisme menyerahkan pembuatan aturan dalam kehidupan umum kepada manusia.  Aturan buatan manusia itu bahkan sering menimbulkan pro dan kontra antara berbagai pihak yang memiliki pandangan dan kepentingan berbeda. 

Akibatnya penegakan aturan pun tidak dapat optimal dan efektif menyelesaikan akar masalah. Maka akan menjadi percuma jika RUU disahkan namun miras dilegalkan atau bahkan tontonan video porno masih mudah diakses.

Seharusnya penanganan kejahatan seksual dilakukan secara preventif dan kuratif. Tanpa upaya preventif, apapun langkah kuratif yang dilakukan, seperti menjatuhkan sanksi hukum yang berat, tidak akan pernah efektif. 

Diperlukan tiga pilar yang mendukung yakni ketakwaan individu, kontrol sosial dan penegakan hukum oleh negara, insya Allah semua penyakit dan kejahatan sosial akan dapat dikurangi atau bahkan dilenyapkan dari muka bumi dengan seizin Allah.

Ketakwaan individu menjadikan setiap individu muslim mampu menjaga dirinya dari perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan Islam. Keimanan dan ketaqwaan setiap individu menjadikannya faham akan batasan aurat, batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. 

Kontrol masyarakat pun harus dibangun untuk mencegah tindakan kekerasan seksual ini. Seperti budaya saling mengingatkan atau amar ma'ruf nahi Munkar yang dalam Islam memang diwajibkan. Setiap muslim akan menjadi pengawas tindakan muslim lainnya disekitarnya, apakah tindakan tersebut sesuai dengan syariat atau justru melanggar syariat. Ini akan menjadikan kontrol dalam kehidupan bermasyarakat. 

Secara kuratif, Islam pun memberikan sanksi yang tegas bagi para pelaku. Yakni ancaman hukuman cambuk, rajam sampai mati, hingga hukuman berlapis jika kejahatannya beragam. Tiga pilar tersebut hanya bisa kita temui dalam negara yang menerapkan Islam dengan sempurna yang melindungi rakyatnya dan menjaga kehormatan para perempuan.

Sedikit gambaran bagaimana Islam menjaga kehormatan perempuan adalah kisah yang terjadi pada masa Kholifah Mu'tashim billah. Kholifah berhasil mengalahkan dan memukul mundur orang-orang kafir dalam satu kota. Pemicunya hanya karena masalah yang mungkin kita anggap saat ini adalah masalah sepele. Yaitu, ada seorang wanita muslimah diganggu dan dilecehkan kehormatannya oleh orang kafir. 

Kainnya dikaitkan ke paku, sehingga ketika berdiri terlihatlah sebagian auratnya. Wanita itu berteriak memanggil nama khalifah Al-Mu’tashim billah dengan lafadz yang cukup terkenal “waa mu’tashimaah!” maka Khalifah Al-Mu’tashim pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Amoria dan menghancurkan orang kafir yang ada di kota tersebut.

Kehidupan seperti ini hanya terjadi ketika Islam diterapkan dalam sebuah institusi negara bukan hanya sekedar jadi agama ritual yang hanya dipakai ketika beribadah saja. Tapi Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan manusia dalam bingkai daulah Khilafah Islamiyyah. Maka dengan penerapan Islam yang sempurna ini maka keberkahan hidup akan diraih dan segala masalah dapat diselesaikan termasuk persoalan kekerasan seksual terhadap perempuan ini.

فقال عمر :
إنا قوم أعزنا الله بالإسلام ، فلن نبتغي العزة بغيره
( المستدرك على الصحيحين , كتاب الإيمان ص. ٢٠٨ )
Maka berkata 'Umar, "Sesungguhnya kami adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam, maka tidaklah kami mencari kemuliaan dengan yang selainnya".Wallahu'alam [MO/vp]

Posting Komentar