Oleh : Rahmah Khairani, S.Pd
(Aktivis The Great Muslimah Community Medan)
Mediaoposisi.com- Tindak Perdagangan Orang (TPO) kembali terjadi. Kali ini seperti yang dilansir oleh media detiknews, Minggu 23/6 kemarin, sedikitnya ada 29 Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban pengantin pesanan dari China.  LBH melihat bahwa pengantin pesanan adalah modus dari Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) karena ada proses yang mengarah ke perdagangan yang terencana. Sekjen SBMI Bobi Anwar Maarif menyebut bahwa korban dijanjikan akan menikah dengan orang kaya asal China dan iming-iming dijamin seluruh kebutuhan hidup korban dan keluarganya. Namun, sesampainya di China korban malah dipekerjakan dengan durasi waktu yang lama. Diketahuinya kisah TPO ini dari ditangkapnya seorang sindikat atas nama Cece Vivi yang telah ditangani Polda Jawa Barat.
Dari sumber yang didapat di atas, tertipunya sang korban dikarenakan masalah ekonomi. Tuntutan kebutuhan yang kian hari meninggi, membuat para perempuan tersebut berpikir pendek dan akhirnya terjebak dalam permainan. Kasus serupa sudah banyak terjadi baik di dalam maupun luar negeri. Modusnya pun bermacam-macam. Namun umumnya jebakan tersebut memanfaatkan kelemahan ekonomi korban dan sikap mudah percaya kaum hawa. Pekerja wanita memang lebih unggul dibanding pria dalam hal ketelatenan. Wanita juga sanggup diupah rendah. Latar belakang ini menjadi ladang basah sistem kapitalis untuk meraup keuntungan sesuai dengan motto mereka: “Dengan modal sekecil-kecilnya dapat keuntungan sebesar-besarnya.”
Mirisnya, hampir seluruh negara dunia, menjadikan sistem kapitalis sebagai pijakan mereka dalam bentuk kebijakan dan aturan. Selama itu terjadi maka selama itu pula bahaya dan was-was akan terus mengancam remaja putri kita untuk masuk ke lubang yang sama. 
Dari fakta-fakta yang memosisikan perempuan sebagai manusia kelas dua, lahirlah berbagai gerakan wanita dengan visi kesetaraan gender. Mereka menganggap dengan memperjuangkan hak-hak wanita agar sama dengan kaum pria, maka akan menjadikan wanita sebagai makhluk terhormat, mulia, dan tidak mudah dijadikan korban. Diantara misi-misi kaum feminis yang pernah ada adalah, bebas melakukan pekerjaan apapun, bebas untuk tidak menikah, bebas dalam hal berpakaian, dan sebagainya. Sayangnya jauh panggang dari api. Bukannya malah menjadi wanita yang dipandang mulia, peran kaum feminis malah sukses semakin menjadikan wanita sebagai objek dan komoditas dalam kapitalisme.
Contohnya sangat banyak dan tampak jelas di kehidupan sehari-hari. Sales Promotion Girl  (SPG) sering dimanfaatkan auratnya untuk menarik calon customer. Iklan sabun, iklan, shampoo, sampai iklan make up juga kerap memperlihatkan bagian tubuh mereka yang seharusnya bernilai dan mulia. Industri hiburan juga paling banyak menarik sumber daya wanita sebagai pelakunya. Suara yang merdu, tubuh yang elok, dan jago acting dijadikan cover lampu hijau sembari dibalut konsep profesioanalisme. Lalu, dimanakah letak kemuliaan wanita yang mereka perjuangkan?
Artinya solusi atas TPO dan kasus-kasus kekerasan terhadap wanita bukanlah kesetaraan gender. Karena wanita diciptakan bukan untuk menyaingi laki-laki namun untuk saling melengkapi. Secara fitrah laki-laki memiliki kelebihan egosentris dan jiwa kepemimpinan yang lebih besar ketimbang wanita. Sedangkan wanita secara fitrahnya berjiwa keibuan dan memiliki kemampuan manajerial yang sangat baik. Semua akan baik-baik saja bila kembali kepada fitrahnya masing-masing.
Namun semua problem ini telah mengakar dan menyebar hingga ke ranting kehidupan. Berawal dari adanya konsep memisahkan agama dari kehidupan. Sistem kapitalis yang tidak mengakui peran agama sebagai pengatur kehidupan manusia selalu berorientasi pada materi dan kekayaan semata. Bahkan sistem ini telah mengaburkan pandangan manusia tentang fitrah hidupnya. Maka lahirlah manusia yang miskin ruh spiritual sembari menuhankan uang. Kebahagiaan dunia diukur dengan banyak harta, tinggal di rumah mewah dan hidup serba berkecukupan. Begitupun dengan penampilan yang harus mengikuti tren zaman agar turut merasakan kebahagiaan. Bertanyalah kepada orang-orang yang sudah mendapatkan ukuran tersebut, apakah mereka bahagia? Ya mungkin, tapi sesaat.
Maka tidak ada solusi lain selain Islam. Islamlah satu-satunya ideologi yang meletakkan wanita di tempat kemuliaan. Mensyari’atkan pakaian taqwa kepada mereka dan pandangan yang ditahan dari keburukan syahwat. Prestasi wanita Islam bukanlah yang mampu berkarir tinggi dan membuat iri orang dengan eksistensi yang ia punyai. Namun prestasi tertinggi mereka adalah sebagai hamba Allah yang diridhoi karena mampun menjadi ummu wa robbatul bait dan menerima keridhoan dari suami-suami mereka. 
Sudah saat nya masyarakat dunia sadar dan mengalihkan pandangan hidup mereka kepada Islam. Karena Islam adalah problem solving yang selama ini dicari-cari. Islam mampu memecahkan segala problematika kehidupan melaui penerimaan akal dan fitrah manusia. Sehingga bukan hanya masalah TPO yang mampu Islam selesaikan, namun kemiskinan, pengangguran, lilitan hutang, dan sebagainya akan mampu dihilangkan. Allahu ‘alam bish showab. [MO/ra]

Posting Komentar