Oleh : Nur Azizah
(Aktivis Muslimah Jakarta Utara)

Mediaoposisi.com-Dewan Pendidikan Kota Kediri mencurigai banyaknya kartu keluarga (KK) titipan pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) jenjang SMA/SMK di Kota Kediri.
Akibatnya, anak warga asli Kota Kediri gagal masuk zona sekolah dekat rumah mereka.

"Kuat dugaan warga yang punya anak masih SMP, setahun atau dua tahun sebelum masuk SMA/SMK titip KK pada keluarga kerabat yang domisilinya dekat dengan sekolah," ungkap Heri Nurdianto, Ketua Dewan Pendidikan Kota Kediri, Jumat (21/6/2019).

Dijelaskan Heri, akibat banyaknya KK titipan, warga Kota Kediri yang berada dalam zona yaitu kelurahan yang jaraknya 1 -2 km dari sekolah, gagal msuk SMA yang dituju. Masalah beruntun terus terjadi ketika sistem zonasi diterapkan dalam pendidikan di Indonesia. Sistem yang dianggap mampu untuk mengatasi semua permasalahan dalam bidang pendidikan ternyata bukanlah solusi yang tepat.

Sistem zonasi telah diimplementasikan secara bertahap sejak tahun 2016 yang diawali dengan penggunaan zonasi untuk penyelenggaraan Ujian Nasional. Lalu pada tahun 2017 sistem zonasi untuk pertama kalinya diterapkan dalam PPDB, dan disempurnakan tahun 2018 melalui Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018. Dikutip dari KEMENDIKBUD.

Akibatnya kecurangan yang terjadi dengan adanya sistem zonasi ini membuat beberapa orang kecewa karena adanya penitipan jasa KK yang padahal anaknya masih menduduki bangku sekolah menengah pertama. Dan diantara mereka yang harus melanjutkan ke pendidikan menengah atas harus terlempar karena penuhnya data PPDB di sekolah satu daerah tersebut.

Pendidikan dalam sistem kapitalisme tidak ditujukan membentuk kepribadian. Pendidikan ini justru dijadikan penopang mesin kapitalisme dengan diarahkan untuk menyediakan tenaga kerja yang memiliki pengetahuan dan keahlian. 

Akibatnya kurikulum disusun lebih menekankan pada pengetahuan dan keahlian tapi kosong dari nilai-nilai agama dan moral. Pendidikan akhirnya hanya melahirkan manusia robotik, pintar dan terampil tapi tidak religius dan tak jarang culas.

Bahkan di dalam sistem pendidikan yang dibuat oleh kapitalisme bertujuan antara untung dan rugi. Jika tidak menguntungkan bagi penguasa, sekalipun itu tentang masa depan generasi bangsa, yang pada akhirnya susah untuk terealisasikan. 

Bahkan negara abai dalam masalah warganya di sektor pendidikan kali ini. Karena itu, tidak akan pernah ada pendidikan yang bisa menghasilkan generasi emas untuk peradaban bangsa yang tanpa terkecuali, jika dunia pendidikan masih menerapkan sistem kapitalisme.

Tetapi, jelas berbeda halnya pendidikan dalam sistem Khilafah, di mana pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang asasi bagi seluruh manusia. Islam mengatur segalanya termasuk tentang pendidikan. Islam dalam pendidikan merupakan landasan untuk membentuk kesadaran manusia secara tersusun pola hidupnya, terencana dan teratur.

Hal ini pula bertujuan untuk membentuk sebuah kepribadian islami. Sehingga dapat menguasai segala aspek sesuai dengan peraturan dalam islam, serta menguasai ilmu terapan dan mempunyai keahlian yang khusus. Yang pada akhirnya terwujud penerus bangsa yang berdaya guna, dapat menciptakan karya dan kreatifitas.

Carut marut dunia pendidikan saat ini hanya bisa dituntaskan dengan cara mencampakkan semua peraturan kapitalisme. Meninggalkan sistem pendidikan sekuler, yang itu berarti harus membuang jauh-jauh sistem politik demokrasi. Islam juga menentukan penyediaan pendidikan bermutu untuk semua rakyatnya sebagai kebutuhan dasar masyarakat yang wajib disediakan oleh negara secara gratis. 

Seperti yang dicontohkan Rasulullah saw, yang menetapkan tebusan tawanan perang dari orang kafir adalah mengajari sepuluh orang dari anak-anak kaum muslim. Tebusan tawanan ini merupakan ghanimah yang menjadi hak seluruh kaum muslim. Diperuntukkannya ghanimah ini untuk menyediakan pendidikan bagi rakyat secara gratis itu menunjukkan bahwa penyediaan pendidikan oleh negara untuk rakyat adalah wajib. Ijma sahabat atas pemberian gaji kepada para pengajar atau guru dari harta baitul mal lebih menegaskan hal itu.

“Seorang Imam ( khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Catatan dalam sejarah, menunjukkan Madrasah Al-Muntashiriah yang didirikan oleh khalifah Al Muntashir Billah di Kota Bagdad. Fasilitas yang tersedia berupa perpustakaan beserta isinya, rumah sakit dan pemandian. Madrasah An-Nuriah di Damaskus yang didirikan pada abad 6 H oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky. Fasilitas yang disediakan seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan, para pelayan, serta ruangan besar untuk ceramah dan diskusi.

Bahkan Guru memiliki kewajiban mencetak generasi berkepribadian Islam yang unggul, karena dengan demikian itu akan sangat mudah bila disokong oleh peran Negara. Dalam hal ini, Negara mesti membangun sistem pendidikan yang tepat dan bergerak dari orientasi Ideologi yang shahih, yakni Islam. Dengan kata lain, Negara mesti menata sistem pendidikan yang benar benar islami. Mulai dari tujuan, hingga pelaksanaan di lapangan.

Sehingga pada akhirnya, output dari sistem pendidikan tak hanya melahirkan Guru yang sekadar siap untuk terjun mencetak anak anak didik yang menghamba pada dunia industri. Lebih dari itu, mencetak pribadi yang siap untuk terjun dalam gelanggang kehidupan dengan menghamba pada Rabb semesta alam, Allah SWT dan memberi maslahat bagi umat manusia.

Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imran ayat 110 yang artinya, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan berimanlah kepada Allah…”

Jika sudah sedemikian rupa pendidikan dibalut dengan sistem islam, maka tidak akan ada lagi cerita orang tua yang sulit untuk menyekolahkan anaknya karena adanya pemalsuan KK. Dan tidak perlu lagi sistem zonasi di berlakukan dalam dunia Pendidikan jika sudah Islam yang menjadi standar dari segala ideologi. Karena dengan pendidikan islamlah, akan mencetak generasi paripurna untuk sebuah negara. 
Wallahu’alam Bishshawab. [MO.IP]

Posting Komentar