Oleh : Abd. Rifai S.Hum
(Analisis Politik Sekolah Peradaban)

Mediaoposisi.com-Polarisasi rakyat pada pemilu 2019 terasa begitu kuat sebab hanya menampilkan 2 petarung, walaupun petarung pemilu masih sama dengan tahun 2014 lima tahun yang lalu, namun pemilu ditahun ini begitu “semarak”. 

Waktu Kampanya yang biberikan cukup lama, serta keterlibatan seluruh elemen rakyat terkhusus para tokoh agama/Ulama, semakin membuat antusias rakyat memuncak untuk ikut serta menyemarakkan pemilu di tahun ini.


Data yang dikeluarkan oleh KPU yang dilansir oleh Kompas menyebutkan bahwa keterlibatan rakyat pada pemilu ditahun ini mencapai 81%, jauh diatas dari pemilu 2014 hanya berkisar 70%.

Komisioner Komisi Pemilihan Umum ( KPU) Viryan Azis menyebutkan, partisipasi pemilih pada Pemilu 2019 meningkat dibandingkan pemilu sebelumnya. Jika dibandingkan 2014, peningkatan angka partisipasi hampir 10 persen. "Ada peningkatan, partisipasi masyarakat di (Pemilu) 2019 ini 81 persen, meningkat dari Pilpres 2014 yang 70 persen, pileg 2014 yang 75 persen," kata Viryan di Kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/5/2019 Kompas.com).

Angka ini menunjukkan kepada kita bahwa, pada pemilu tahun ini ada harapan besar rakyat terkhusus umat islam akan sebuah kemenangan dan kebangkitan yang telah lama dirindukan. Dasarnya apa? 
jelas kita melihat, adanya keterlibatan para Alim Ulama yang terus mengawal dan mengarahkan pilihan umat, bahkan jauh hari sebelum pemilu terselenggara, hal yang tidak kita lihat pada pemilu-pemilu sebelumnya.

Kesadaran pada diri umat termasuk para alim ulama untuk terlibat dalam pemilu tahun ini, tidaklah lahir begitu saja, ada banyak rangkaian peristiwa yang terjadi yang telah mengusik hati dan fikiran umat terkhusus alim ulama. 

Kasus penistaan al-qura’an yang seakan didiamkan, yang kasusnya baru diproses setelah jutaan umat turun kejalan, Kasus penghinaa terhadap ajaran islam seperti hijab dan suara adzan yang pelakunya dibiarkan begitu saja, kasus kriminalisasi ulama dan monsterisasi ajaran Islam yang tumbuh subur dan “dipelihara” oleh rezim ini. Itulah segelintir rangkaian peristiwa yang mengusik dan memaksa ulama untuk aktif berpartisipasi pada pemilu tahun ini.

Pemilu tahun ini, Ulama berkumpul dan menggelar Ijtima’ untuk menentukan siapa capres dan cawapres yang akan mereka usung. Singkatnya, terpilihlah pasangan Prabowo Sandi dengan segala kesepakatan yang dihasilkan pada Ijtima’ 1 dan 2 yang kemudian disebut fakta integritas, sebuah kesepakatan yang menjadi jaminan bagi Ulama agar segala kepentingan mereka diakomodir oleh Paslon 02.

Harapan umat memuncak, ketika para panutan mereka sekelas Ust. Abdul Somad, Ust. Adi Hidayat, Ust. Aa Gym, dan sekelas Syaikh Ali Jaber dan yang lainnya secara terang-terangan berpihak dan mendukung paslon 02. Bagaimana tidak, ulama yang selama ini berada diluar arus kepentingan politik, pas diujung akhir masa kampanye memberikan kepercayaan mereka kepada kubu 02, sungguh aroma kemenangan semakin terasa di depan mata.

Sementara di kubu 01, diujung masa kampanye justru tersandung berbagai macam kasus, mulai dari money politic yang dilakukan Bowo Sidik anggota DPR Fraksi Golkar yang menyeret nama Nusron Wahid, sebagaimana kita ketahui bahwa mereka adalah pendukung dan orang yang dekat dengan Jokowi. Tidak cukup sampai disitu, kasus jual beli jabatan yang dilakukan Ketua Umum PPP Romohurmurzi, menjadi pukulan telak bagi kubu 01. 

Romi yang begitu dekat dengan Jokowi ternyata pribadi yang rusak, dan menghancurkan opini partai islam dengan lambang Ka’bah pada logonya. Ternyata belum berhenti di Romi, KPK juga memanggil Menteri Agama, Lukman Hakim yang diduga menerima uang suap sebesar 70 juta. Hal ini cukup untuk merontokkan elektabilitas kubu 01.

17 April 2019, hari yang begitu dinantikan. Umat sudah tidak sabar memenggal kekuasaan tiran yang lima tahun mengengkang meraka, dengan berbagai macam bentuk kebohongan dan kedzomilan yang diproduksi dari balik istana. Eforia pemilu begitu terasa, rakyat berbondong-bondong menuju bilik suara, harapan dan cita-cita mereka untuk negeri lima tahun kedepan ditentukan hari ini.

Ternyata di TPS umat merasakan banyak kejanggalan dan kecurangan, mulai dari surat suara yang sudah tercoblos untuk paslon 01, hak pilih mereka yang dirampas, dan kurangnya surat suara hingga banyak orang yang tidak bisa menggunakan hak pilihnya.

Disore hari saat hasil quick count muncul dilayar TV dengan kemenangan kubu 01 sontak membuat umat kaget dan tak habis fikir, muncul perolehan kemengan sementara bagi kubu 01. Hasil quick qount tidak jauh berbeda dengan yang muncul di situng, website KPU yang menunjukkan perolehan dari data yang masuk di tiap-tiap TPS. 

Walaupun kahirnya data itu digugat, sebab terdapat kesalahan input bahkan terindikasi kecurangan yang juga dilakukan oleh KPU degang memasukkan hasil C1 yang sudah di edit, namun ternyata tak mampu membalikkan persentase kemenangan dari paslon 01 ke paslon 02.

Hingga waktu pengumuman resmi tiba 22 April 2019 yang ternyata KPU percepat menjadi 21 April 2019, tepat pukul 01.46 WIB disaat rakyat lagi tertidur, ternyata kemengan untuk kubu 01 tidak berubah, dengan selisih suara 16.957.123 dari kubu 02. Rakyat yang tidak terima dan melakukan aksi di depan Bawaslu untuk menganulir hasil yang di keluarkan KPU, ternyata mendapat tindakan bringas dari aparat, hingga jatuh korban jiwa.

Pemilu 2019 membawa pelajaran penting bagi rakyat, terkhusus umat Islam, bahwa pemilu dalam sistem Demokrasi tidak memberikan peluang untuk meraih kemengana yang diharapkan. Demokrasi sedari awal lahir hanya untuk memberikan harapan yang tak akan pernah terwujud nyata. Inilah Ilusi kemenangan yang senantiasa mengalihkan umat dari perjuangan yang hakiki.

Kita butuh pelajaran seperti apalagi untuk menyadari kebusukan Demokrasi dan Ilusi kemenangan yang dihadirkan untuk kita? Coba kita tengok sejarah pembubaran partai Masyumi yang berhasil memenangkan pemilu pertama di negeri ini, kita tengok sejarah kelam lengsernya Mursi di Mesir setelah berhasil memenangkan pemilu demokrasi, kita tengok partai Islam FIS di Aljazair yang berhasil menang pemilu dua kali yang akhirnya dianulir oleh militer piaraan barat.

Kita tidak akan pernah meraih kemenangan yang sejati, jika kita masih menggunakan Demokrasi sebagai jalan untuk meraihnya. Tidak akan mungkin kita bisa berharap kebaikan dari sesuatu yang telah membunuh Ibu kandung kita, yakni Daulah Khilafah Islamiyah. Berhenti berharap pada Demokrasi, mari kita campakkan sebab memang Demokrasi telah usang dan tak layak lagi diterapkan.

Jalan kemenangan telah diwariskan oleh Rasulullah Muhammad SAW, selain jalan beliau, yakinlah pasti akan gagal. Sudah saatnya umat bahu membahu memperjuangkan kembalinya kejayaan Islam, dengan bersama-sama ikut dalam barisan dakwah perjuangan Syariah dan Khilafah. 

Khilafah janji Allah dan Bisyarah Rasul, musuh-musuh Islam pun telah memprediksi kembalinya Khilafah, yang akan mengkhiri kejayaan mereka dan mengembalikan kemuliaan Islan dan kaum Muslimin. Wallahualam Bi Sawab.[MO/vp]

Posting Komentar