Oleh : Merli Ummu Khila
Jarum jarum setan menghujam urat nadi
Wajahmu memucat darah membeku lagi
Kini kuterpaksa namun kutak kuasa
Dirimu terancam dalam bahaya

Jarum jarum setan bisa mencabut nyawa
Bila kau coba berhenti memakainya
Tanpa kau sadari tanpa engkau rasakan
kau bunuh dirimu secara perlahan

Tak seorangpun yang bisa bikin engkau berhenti
Bila kau mau yang bisa hanya dirimu
Dirimu sendiri
- Nicky Astria

Mediaoposisi.com-Jerat narkoba di negeri ini semakin memprihatinkan. Dari berbagai usia, kalangan dan profesi. Masuknya narkoba dari berbagai negara seperti tanpa filter. Banyaknya temuan kasus berton-ton narkoba yang digagalkan bea cukai semakin menguatkan bahwa Indonesia memang darurat narkoba.
Peredaran narkoba memang bisa menyasar siapa saja terlebih kalangan yang mempunyai gaya hidup hedonis seperti kalangan artis. Tekanan pekerjaan yang mengharuskan pekerja seni ini selalu tampil prima. Jam syuting yang kejar tayang pada akhirnya membuat mereka kelelahan.
Seolah memanfaatkannya situasi, para pengedar narkoba menawarkan doping agar selalu tampil bugar dengan cara yang instan. Belum lagi pergaulan mereka yang sering party atau kongkow-kongkow  memang identik dengan narkoba.
Seperti yang baru-baru ini terjadi
Komedian Tri Retno Prayudati alias Nunung menjadi tersangka terkait kasus narkotika jenis sabu. 
Seperti dilansir detikNews, 22 Juli 2019.Nunung ditangkap bersama suaminya July Jan Sembiran alias Iyan Sambiran di kediamannya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (19/7) siang. Rupanya, Nunung mengonsumsi narkoba sejak 20 tahun lalu. Sedangkan Iyan Sambiran 4 tahun lebih lama dari Nunung.
"Pengakuan tersangka NN (Nunung) dan suaminya JJ (Iyan), dan sudah dituangkan juga dalam berita acara pemeriksaan, ya diakui awal penggunaan 20 tahun yang lalu. Dan JJ bahkan lebih, sekitar 24 tahun yang lalu," ujar Kasubdit I Ditresnarkoba Polda Metro Jaya AKBP Jean Calvin Simanjuntak di Polda Metro Jaya, Jalan Sudirman, Jakarta, Minggu (21/7).
Suatu kenyataan yang mencengangkan, dibalik sosok Nunung yang enerjik dan selalu tampil ceria ternyata justru pecandu yang bertahun-tahun tak mampu lepas dari candu narkoba jenis sabu. 
Semua tentu sepakat untuk melawan narkoba, berbagai cara sudah dilakukan. Dari mengkampanyekan  anti narkotika sampai dengan menangkap para bandar nya. Namun pada faktanya 
Menangkapi para pengedar dan pengguna narkoba bukanlah solusi pemberantasan. Hal ini tidak akan memberi efek jera. Buktinya justru narkoba banyak dikendalikan dari balik penjara.
Tidak cukup hanya mengedukasi masyarakat tentang bahaya narkoba karena memang bukan hal yang asing lagi bahaya narkoba bagi penggunanya.
Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN) Ali Djohardi menyebut 80 persen masyarakat Indonesia mengetahui jenis dan bahaya narkoba. Namun, anehnya, tingkat penyalahgunaan narkoba di Indonesia masih tinggi.( detikNews,18/02/2017)
Akar permasalahannya ini semua tidak lain karena sistem kapitalisme-sekularisme yang standarnya asas manfaat. Faham sekularisme atau memisahkan agama dari kehidupan yang sudah terdoktrin pada masyarakat sehingga lahirlah generasi yang hedonis dan pemuja kenikmatan dunia.
Menjadikan dunia sebagai tujuan hidup. Perekonomian dibangun hanya demi materi. Hal ini dimanfaatkan para kapital mengeruk keuntungan tanpa memperdulikan nasib generasi muda yang rusak karena narkoba.
Memberantas narkoba haruslah dari akarnya. Karena jika hanya bandar dan pengguna yang ditangkap tidak akan menghentikan peredaran narkoba. Harus produsennya yang dihentikan. Dan ini butuh sebuah perangkat negara yang kuat karena jaringan narkoba sudah antar benua bukan lagi antar negara.
Mungkinkah bisa dituntaskan?
Dalam Islam para ulama sepakat haramnya mengkonsumsi narkoba ketika bukan dalam keadaan darurat. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Narkoba sama halnya dengan zat yang memabukkan diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama. Bahkan setiap zat yang dapat menghilangkan akal, haram untuk dikonsumsi walau tidak memabukkan” (Majmu’ Al Fatawa, 34: 204).
Pencegahan sejak dini
Islam mempunyai solusi terbaik untuk  memberantas narkoba hingga ke akarnya. Karena asas pertama sebuah negara Islam adalah individu yang bertakwa, maka tentu saja negara akan membuat sistem pendidikan yang bisa membentuk dan menjaga  ketakwaan generasi dari pendidikan dasar. Inilah salah satu pencegahan bagi pengguna atau pecandu narkoba.
Hukuman bagi pelanggar 
Dalam Islam ada sanksi bagi pengguna dan pengedar bahkan produsen, tentunya sesuai hukum syara yang bersumber dari dzat yang maha pengatur . Sanksi  bagi mereka yang menggunakan narkoba adalah ta’zir, yaitu sanksi yang jenis dan kadarnya ditentukan oleh Qadhi, misalnya dipenjara, dicambuk, dan sebagainya.  
Beda pula dengan pengedar narkoba, dan beda pula dengan pemilik pabrik narkoba. Ta’zir dapat sampai pada tingkatan hukuman mati. Terbukti pidana islam mampu mengurangi tingkat kriminal pada masa diterapkannya dulu karena sangat efektif menimbulkan rasa jera pada pelakunya. 
Jadi dalam sistem Islam, permasalahan yang menyangkut sesuatu yang diharamkan maka akan diatur sesuai syariah. Kejahatan narkoba hanyalah masalah cabang, ketika akar permasalahannya yaitu sistemnya diganti dengan sistem Islam.
Sistem yang berhukum kepada apa yang sudah Allah Swt turunkan yaitu Alquran maka secara otomatis permasalahan kejahatan mudah terselesaikan, karena dalam sistem Islam berdiri atas tiga asas yaitu individu yang bertakwa, masyarakat sebagai pengontrol dan negara sebagai pelaksana hukum syara.[MO/sg]

Posting Komentar