Oleh: Monicha Octaviani
Mediaoposisi.com-Baru-baru ini viral di media sosial foto siswa MAN (Madrasah Aliyah Negeri) 1 Sukabumi mengibarkan bendera tauhid di sekolah. Salah satu netizen pemilik akun @Karolina_bee11 mengupload foto tersebut langsung mention kementerian agama (DetikNews, 21/07/2019).
Foto disertai caption bernada curiga siswa atau bahkan sekolah tersebut berafiliasi dengan organisasi yang konon katanya terlarang. Wakil Ketua Komisi VII DPR, Ace Hasan Syadzily pun ikut kelabakan.
Sorotannya menyiratkan bendera tauhid sebagai bendera organisasi terlarang yang harusnya tidak boleh muncul di sekolah di bawah Kemenag RI. Lantas dengan tanggap pak menteri agama berkata bahwa hal tersebut sedang diinvestigasi. Sekolah bahkan siswa terkait diusut dengan serius seolah itu kasus pidana sejenis korupsi.
Paniknya kementerian agama Republik Indonesia dan pihak lainnya itu kekonyolan tingkat tinggi. Pasalnya bendera tauhid yang dikibarkan tersebut adalah salah satu simbol ajaran agama Islam. Bagian dari kaum muslimin.
Maka wajar saja jika siswa di sekolah Islam ingin menggunakannya untuk mengekspresikan rasa cinta pada agamanya sendiri. Terlebih lagi Indonesia adalah negara dengan umat Islam terbanyak di dunia.
Kepanikan tersebut berdalih rasa khawatir jika siswa dan sekolah terkait berafiliasi dengan HTI. Ormas Islam yang dicabut paksa badan hukumnya dengan dasar yang tidak jelas. Lalu kini difitnah sebagai ormas terlarang padahal tidak ada satu pun hukum yang mendasari.
Sungguh kekonyolan hakiki jika seorang muslim merasa seperti kebakaran jenggot ketika ada saudara muslim lain kibarkan bendera kebanggaan kaum muslimin. Lantas grusa-grusu investigasi. Padahal itu adalah langkah yang sia-sia. Juga menunjukkan bahwa kepala urusan agama di negeri mayoritas muslim takut dan menakut-nakuti generasi penerusnya akan ajaran agamanya sendiri.
Ironisnya investigasi itu bahkan tidak berdasar sebab tidak ada satu pun produk hukum di negeri ini yang melarang adanya pengibaran bendera tauhid.
Perkara bahwa bendera bertuliskan kalimat tauhid merupakan bendera umat Islam jelas didukung banyak dalil yang sahih. Salah satunya, Abu Syaikh al-Ashbahani meriwayatkan hadits yang berbunyi:
Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam dan Liwa’-nya berwarna putih. Tertulis di situ Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh(HR Abu Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlâq an-Nabiy saw).
Kalimat yang tertulis di kedua bendera tauhid itu baik al Liwa dan ar Rayah adalah kalimat yang agung. Kalimat yang menjadi inti dari keislaman seorang muslim. Kalimat sumpah abadi seorang muslim untuk taat pada Tuhannya di atas segala kondisi.
Untuk senantiasa meninggikan Islam lebih dari kepentingan pribadi. Sedangkan benderanya adalah bentuk kebanggaan umat Islam. Berfungsi sebagai panji perang juga simbol kepemimpinan umum. Serta pemersatu kaum muslimin. Kibarannya dulu diperjuangkan dengan darah para mujahidin. Kini bagaimana bisa pengibarnya dipersekusi?
Seharusnya kementerian agama melindungi dan memfasilitasi umat Islam di negeri ini. Agar bisa dengan tenang mengekspresikan identitasnya sebagai kaum muslimin. Bukan dengan tindakan sembrono begini. Langkah panik ini justru bisa menimbulkan efek negatif.
Masyarakat yang tidak paham malah jadi fobia dengan simbol Islam. Itu namanya pembodohan publik. Bisa juga timbul ketakutan pada generasi bangsa untuk berani menunjukkan kecintaan pada agamanya. Menampakkan ketaatannya pada Islam yang harusnya merupakan hal baik.
Mengingat banyak sekali generasi negeri hari ini yang terpuruk dalam berbagai macam hal tidak baik. Mulai dari seks bebas, narkoba, tawuran antar geng, dan masih banyak lagi. Fokus utama harusnya pada penyelesaian masalah generasi tersebut. Bukan malah mencari perkara dengan ajaran Islam yang sudah pasti. Sekali lagi, itu bentuk kekonyolan yang hakiki.[MO/sg]

Posting Komentar