Oleh : Nasrudin Joha
Mediaoposisi.com-Saya, sebenarnya tidak sampai hati mengulang penjelasan ini. Karena saya, sangat dekat dengan Anda, dan melihat langsung perjuangan dan pengorbanan Anda untuk merubah kondisi bangsa.

Bahkan, Anda begitu heroik berjibaku mempertahankan baliho ucapan kemenangan, untuk capres yang Anda harapkan dapat merubah keadaan, dengan menanggung semua Resiko. Berhadapan dengan aparat, potensi kriminalisasi, mengeluarkan biaya, waktu, tenaga dan pikiran, semua untuk capres yang Anda tidak meminta apapun kecuali amanat untuk perubahan.

Anda, saat itu juga membuat dikotomi, membelah preferensi politik umat. Tak boleh memilih partai pendukung penista agama, dan merekomendasikan partai yang pro ulama.

Anda, telah meletakan PDIP di deret partai pro penista agama, Anda juga telah merekomendasikan Gerindra sebagai salah satu partai alternatif pilihan. Saat itu, Anda melihat perubahan ada didepan mata, Anda menambatkan perubahan pada peran partai dan melabuhkan harapan pada capres.

Namun kemarin, Anda saksikan. Nasi goreng telah merubah semuanya. Partai Gerindra yang Anda sebut tidak pro penista agama, sekarang merapat ke PDIP. Capres yang dahulu Anda jadikan simbol perlawanan pada rezim anti ulama, telah menebar senyum kepada umat, bercengkerama dengan pimpinan PDIP.

Dan Anda pun, masih menyimpan harapan, berharap dengan dalih strategi. Padahal, jika Strategi itu jitu tentu pilihannya adalah strategi menang Pilpres dan memaksa lawan yang datang merunduk. Bukan merapat dan mengemis ikan asin, ya kucing tetap kucing, mau dijuluki macan tetap saja kucing.

Tapi sekali lagi, Anda saya bela, Anda tidak salah. Karena Anda berjuang untuk kebajikan Anda, hanya politisi dan partai lah yang mengkhianati Anda. Anda tidak salah, tidak sia-sia dengan seluruh perjuangan dan pengorbanan, sepanjang itu diniatkan karena Allah SWT.

Namun, jika perjuangan itu karena capres, karena partai, karena tokoh tertentu, jelas Anda harus memperbaiki niat, meluruskan niat. Berjuanglah hanya karena Allah SWT, itu yang wajib Anda lakukan.

Karena itu, Kedepan Anda tidak boleh terikat dengan tokoh, melabuhkan harapan perubahan pada tokoh. Semua tokoh, yang berkecimpung dalam demokrasi pasti terpenjara oleh demokrasi dan partai.

Coba saja, jika Anda memiliki tokoh yang lurus, tak akan mungkin bisa ke tampuk kekuasaan untuk memimpin jika tidak didukung partai dan uang. Salah satu alasan, kenapa ulama Anda pada Pilpres 2019 tidak didukung, yang diambil sandiaga, itu juga karena uang, karena modal.

Sudahlah, ikuti nasehat dan saran saya, berjuanglah hanya untuk Islam. Berjuang untuk menegakan syariat Islam. InsyaAllah, kelak Anda akan dipertemukan dengan tokoh dan pemimpin yang amanah dan dapat menjalankan visi perubahan yang Anda inginkan. Bukan bertransaksi menjual darah dan kehormatan Anda.

Jika akan ada ijtima ulama, sampaikan dalam forum itu, untuk fokus memperjuangkan syariat Islam, tinggalkan demokrasi. Jangan lagi tertipu, hiruk pikuk pemilu dan Pilpres, InsyaAllah jika umat ini konsisten dengan perjuangan Islam, hanya mengharap pertolongan Allah, tidak perlu menunggu tahun 2024 perubahan itu akan terwujud.

Tentu perubahan yang kita inginkan bukan sekedar ganti rezim, ganti pemimpin, ganti orang yang menindas dan menzalimi, ganti orang yang berkhianat pada umat ini. Tetapi ganti sistem, ganti aturan, ganti ketaatan dari taat kepada makhluk menuju taat kepada Allan SWT.

Perubahan yang akan mengantarkan kita, dari kesempitan hidup menuju kelapangan hidup, dengan karunia dan ridlo Allah SWT, dengan menerapkan syariat Islam. Perubahan yang akan mengubah negeri ini dari menerapkan hukum kufur menuju menerapkan hukum Allah SWT.

Tidak kah Anda rindu perubahan itu ? Rindu masa kekhilafahan 'ala minhajin Nubuwah yang dijanjikan ? Rindu, menjadi bagian dari pasukan kaum muslimin yang dikirim Khalifah untuk membebaskan Al Quds ?  [Mo/vp].

Posting Komentar