Oleh: Mochamad Efendi
Mediaoposisi.com-Ngeri, baca berita tentang zina yang tidak hanya dilakukan orang dewasa bahkan anak-anak sudah melakukannya. Berita perzinaan hampir setiap hari kita baca di sosial media.
Bahkan tidak sedikit adegan zina sengaja divideokan dan hasilnya viral ditonton banyak orang. Sungguh, zina sudah dianggap biasa, bahkan dalam film remaja banyak menceritakan hubungan terlarang ini.
Anak SD yang seharusnya masa bermain tetapi sudah berzina layaknya suami istri. Apakah ini sebuah prestasi dari pendidikan sex yang diperkenalkan pada mereka sejak usia dini?  Ini adalah bencana bagi generasi kita karena anak-anak sudah melakukan zina, dosa besar yang biasanya dilakukan oleh orang dewasa.
Mereka matang sebelum waktunya karena tontonan porno mudah diakses dan ditonton oleh siapa saja termasuk mereka yang masih dibawah umur. 
Dan masih banyak lagi cinta terlarang yang menghiasi portal berita di sosmed. Karena tidak bisa menahan nafsu birahi yang menggelora, pasangan, kakak beradik di sulsel melakukan zina dan hasil dari hubungan terlarang itu lahirlah dua anak yang tidak berdosa.
Ada juga orang tua mencabuli anaknya, dosen melakukan pelecehan sexual pada mahasiswinya. Bahkan pramugari harus mau melayani nafsu bejat bosnya jika ingin dapat kesempatan terbang.
Zina bagaikan virus menular dan mewabah di masyarakat karena lemahnya benteng keimanan dan juga sistem yang banyak mempertontonkan adegan porno yang merangsang birahi. Sistem yang rusak menghasilkan masyarakat yang rusak pula. 
Bahkan ratusan anak mampu membuat video porno (Radar Bromo, 23 Juli 2019). Jelas ini bukan prestasi yang membanggakan tapi keprihatinan dengan nasib anak bangsa yang pemikirannya sudah dirusak oleh pornography dan porno aksi yang sering viral di sosial media.
Mereka terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Sayangnya yang dicontoh bukan kebaikan tapi adegan sex bebas yang akan mengantar pelakunya pada perbuatan keji dan mungkar. 
Sementara, RUU-PKS malah menyuburkan praktek Zina yang merusak tatanan kehidupan di masyarakat. Tidak ada larangan bagi pezina selama dilakukan suka-sama suka. Sungguh, sistem yang memperbolehkan perzinaan akan mendatangkan adzab Allah berupa bencana yang mengerikan.
Sebenarnya bencana itu sudah terjadi seantero negeri. Tapi, para pemimpin negeri ini nampaknya tidak peduli dengan peringatan itu atau bisa jadi hukuman dari Allah. Bagaimana menghentikan maraknya perzinaan di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini?
Pertama, harus ada perangkat hukum yang diperlukan untuk melarang dan mengharamkan perzinaan. Hukuman berat perlu diberlakukan bagi orang yang melakukan zina, meskipun itu dilakukan suka sama suka.
Hukuman berat bagi pezina akan memberikan efek jera bagi yang lain agar menjauhi zina yang merupakan dosa besar. Syariat Islam perlu diberlakukan bagi para pezina jika ingin menghentikan penyebaran virus zina di tengah masyarakat.
Kedua, keluarga punya peran penting dalam mendidik anaknya agar tidak mendekati zina. Membekali mereka dengan nilai-nilai agama untuk diterapkan dalam kehidupan diharapkan mampu membentengi mereka dari pergaulan bebas yang bisa menjerumuskan mereka pada perbuatan zina.
Anak-anak kita harus memiliki kepribadian Islam dengan selalu mengkaitkan perbuatan dan pemikirannya dengan ajaran Islam sehingga mereka tahu bahwa zina adalah dosa besar yang harus dijauhi dengan meninggalkan pergaulan bebas dan rela dalam hidupnya diatur dengan Islam. 
Ketiga, harus ada itikad baik dan kesungguhan dari pemerintah untuk menghilangkan tontonan yang bisa merangsang birahi. Situs yang menyediakan tontonan porno harus diblokir dan juga tayangan  TV atau film yang menginspirasi pergaulan bebas harus disensor.
Tontonan yang merangsang birahi dan mengotori pemikiran harus hilang dari peredaran. Ini adalah masalah serius yang harus mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh dari penguasa. Jangan sampai mereka matang sebelum waktunya karena banyaknya tayangan porno yang mudah diakses oleh remaja bahkan anak-anak sekalipun  
Keempat, masyarakat harus peka dan tanggap dengan perilaku sex yang menyimpang yang ada disekitarnya. Budaya pacaran harus dihentikan karena gaya hidup bebas ini akan mengantarkan pada perzinaan.
Sungguh, perbuatan dosa besar ini akan dilaknat oleh Allah. Tidak hanya yang melakukan zina terkena adzab tapi juga masyarakat yang diam dan membiarkan kekejian itu berlangsung di sekitarnya. Masyarakat tidak boleh menutup mata, meskipun itu tidak terjadi pada dirinya dan keluarganya. 
Apakah kita bisa berharap dari sistem demokrasi yang mengagungkan kebebasan bertingkah laku. Gaya hidup bebas sangat didukung, bahkan perbuatan zina dihalalkan  oleh sistem demokrasi. Perbuatan Zina adalah bagian dari demokrasi.
Sudah saatnya penyebab dari mewabahnya virus zina harus dihilangkan. Demokrasi harus diganti dengan sistem khilafah jika ingin penyebaran virus zina bisa dihentikan. Dan masyarakat sehat dan bermartabat karena terbebas dari zina akan membuka pintu rezeki dan keberkahan dari langit maupun bumi. [MO/sg]


Posting Komentar