Oleh Chusnatul Jannah

Mediaoposisi.com-Nikmatnya menyantap nasi goreng di Teuku Umar membuat publik penasaran perubahan yang terjadi pada Sang Jenderal. Reunian yang digelar di kediaman Megawati kembali mengenang pasangan Mega-Pro di pilpres 2009 silam. 

Saking nikmatnya, Sang Jenderal sangat memuji masakan nasi goreng Megawati. Hajat reunian ini merupakan tindak lanjut setelah rekonsiliasi. Aroma koalisi makin gurih setelah santapan nasi goreng ala Megawati. Publik makin yakin Gerindra bakal masuk di jajaran kabinet pemerintahan Jokowi-Makruf nanti.

Sajian nasi goreng di Teuku Umar bukanlah sekadar jamuan. Nasi goreng ala politik Mega sangat ampuh luluhkan Prabowo yang telah dua kali kalah.  Mungkin saja itu menjadi obat kesembuhan bagi Gerindra. Mereka dijamu dengan keramahan. 

Mengisyaratkan bahwa Gerindra lebih direstui masuk koalisi pemerintahan dibanding oposisi lainnya. Pertemuan itu akhirnya membuat was-was partai koalisi. Rupanya hadirnya Prabowo di tengah sukacita kemenangan tak diingini oleh parpol koalisi lainnya.  

Lain nasi goreng Mega, lain pula Nasi Kebuli ala Surya. Di saat yang bersamaan, justru Surya Paloh menjamu Anies Baswedan di Gondangdia. Tetiba bersikap manis pada Pak Anies. Rival Ahok di Pilkada DKI 2017 lalu. 

Bahkan ia memberi isyarat Anies berpotensi menjadi kandidat kuat calon Presiden 2024. Dan Nasdem siap mengusungnya jika memang kondisi memungkinkan. Ada apa dengan koalisi? Bagaimana pula nasib oposisi?

Partai Koalisi Jokowi-Makruf merasa 'terancam' dengan kehadiran Prabowo. Mereka khawatir jatah kursi mereka berkurang bila Gerindra ikut bergabung. Isu polarisasi di internal koalisi santer terdengar. Sebab, saat Mega-Pro bertemu, tak ada partai koalisi lainnya disana. 

Malahan, Surya Paloh justru mengajak Anies bertemu di Gondangdia. Drama manuver politik telah dimulai. Masing-masing partai sibuk amankan posisi dan jatahnya.

Lantas, bagaimana nasib oposisi? Praktis, hanya PKS yang istiqomah dengan pilihannya. Mereka konsisten memilih oposisi. Ketika TKN dan BPN bubar jalan, dan partai politik lebih mementingkan kepentingannya, saat itulah rakyat seharusnya mulai sadar. Perubahan dalam demokrasi hanyalah ilusi. Rakyat terkecoh lagi oleh pidato berapi-api Sang Jenderal. 

Rakyat kecewa lagi karena tingkah polah parpol yang berebut kue kekuasaan. Rakyat dikibuli lagi oleh pencitraan. Suara mereka hanya dijadikan 'sapi perah' elite parpol. Saat butuh mendekat. Ketika tak lagi dibutuhkan, umat ditinggal. Petuah ulama dilupakan. Dukungan emak-emak diabaikan.

Beginilah akhir drama politik ala demokrasi. Saat bertanding, 'hajar' lawan tanpa pilih kasih. Setelah pesta berakhir, jabat tangan dan berpelukan lagi atas nama rekonsiliasi. Tinggal bagi-bagi kursi. Demokrasi hanya memberikan kemenangan semu.

Menghalalkan segala cara meski salah. Kepentingan partai lebih utama dibanding ketulusan hati rakyat yang menaruh harapan adanya perubahan. Suara rakyat hanya dimanfaatkan untuk meraup kemenangan. Dan siap-siap rakyat gigit jari. Janji kosong tanpa amali akan terjadi lagi.

Disinilah kita harus menyadari. Perjuangan sejati hanya bisa ditempuh dengan jalan Nabi. Bukan demokrasi. Kebangkitan umat hanya bisa diraih manakala kita samakan visi dan misi. Memperjuangkan Islam agar terterapkan di muka bumi. 

Bukan memelas pamrih pada para politisi. Mereka hanya bergerak karena kepentingan. Sementara umat seharusnya bergerak dan berjuang karena kesadaran. Karena tuntutan iman dan Islam. Umat memiliki agenda sendiri. Yakni, melanjutkan kehidupan Islam dengan penerapan sistem Islam. [MO/vp]

Posting Komentar