Oleh: Susi Firdausa
Anggota Komunitas Penulis Muslimah Peduli Umat

Mediaoposisi.com-Tanah air kembali dihebohkan oleh penangkapan komedian Tri Retno Prayudati yang lebih dikenal dengan Nunung Srimulat bersama suaminya, July Jan Sembiran, karena diduga  mengonsumsi sabu, menyusul sederet artis lainnya yang telah terlebih dulu ditangkap. Sepanjang tahun 2019 sebut saja pencipta lagu Yanto Sari, selebgram Reva Alexa, pesinetron Jupiter Fortissimo, musisi Zul ‘Zivilia’, artis FTV Agung Saga, penyanyi Caca Duo Molek, Steve Emmanuel karena kasus penggunaan, kepemilikan, bahkan pengedaran narkoba dengan berbagai jenisnya.

Nama-nama di atas baru segelintir saja. Masih banyak lagi selebritis yang pernah menjadi pesakitan karena kasus narkoba di tahun-tahun sebelumnya. Sebut saja Tio Pakusadewo, Ridlo Roma, Exel Matthew, Pretty Asmara, Ammar Zoni, Iwa K, Ello, Andika The Titans, Jennifer Dunn, Fachri Albar, Roro Fitria dan sebagainya. Sebagiannya baru pertama kali tersandung kasus  tersebut, namun sebagian lainnya pernah sampai dua kali atau lebih tertangkap dengan kasus yang sama.

Ini hanya sebagian dari fakta konsumsi barang haram itu di negeri ini. Masih banyak kasus-kasus serupa yang dilakukan para selebritis, rakyat biasa hingga pejabat negara. Pertanyaannya, mengapa sejak dulu kasus-kasus seperti ini tidak kunjung berakhir selesai? Ditangkap satu bermunculan lagi seribu.

Dalam UU No. 35 Tahun 2009 tentang narkotika, dijelaskan bahwa narkotika digolongkan menjadi 3 jenis. Pertama, jenis narkotika yang secara umum dikenal masyarakat dengan ganja, sabu-sabu, kokain, opium, heroin dan sebagainya. Kedua, jenis narkotika yang dikenal dengan morfin, pertidin dan sebagainya. Ketiga, jenis narkotika yang dikenal dengan kodein dan sebagainya. Sanksi yang diberikan kepada pengedar/penjual, pemakai, penyalah guna, pemilik dan pecandu bisa berupa penjara, denda, rehabilitasi, hingga hukuman mati. Satu hal yang lebih penting dari semua itu, UU ini tidak menyentuh produsen/pengusaha yang memproduksi barang haram ini beserta gembong dan bandar besarnya. 

Penjara-penjara atau pusat rehabilitasi hanya dipenuhi oleh penyalah guna dan pecandu. Di dalamnya juga terdapat pasal (127) yang dapat dijadikan ruang “transaksional” dari oknum penegak hukum yang sering dikenakan pada artis atau pejabat yang tertangkap. 

Seperti inilah gambaran kehidupan dalam masyarakat yang menerapkan sistem kapitalisme. Di dalamnya selalu ada pembelaan terhadap para pemilik kekayaan. Hukum tumpul bila berhadapan dengan kalangan ini. Ditambah lagi kehidupan sekuleristik sebagai anak kandung kapitalisme,  yang memisahkan agama dari kehidupan telah nyata terjadi. Masyarakat semakin kacau dan terjerumus dalam kubangan hedonistik yang tak berkesudahan.

Tindak pidana narkoba sekarang ini telah bersifat trans-nasional, yang dilakukan dengan modus operandi yang tinggi, teknologi canggih, didukung jaringan yang kuat dengan jumlah nilai uang yang fantastis. Diperlukan seperangkat aturan yang terintegral dalam sebuah sistem negara yang mampu menangani semua itu. Saatnya sistem Islam diterapkan. Karena hanya Islamlah yang memiliki solusi atas seluruh persoalan kehidupan manusia. Sebagai sebuah ideology yang diturunkan langsung oleh Sang Pencipta, Islam dengan tegas dan jelas memiliki jawaban atas persoalan narkoba yang seakan tidak kunjung selesai ini.

Abdurrahman al-Maliki dalam buku berjudul Nidhomul Uqubat merinci sanksi bagi penjual, pengedar, dan pembeli narkoba sebagai berikut: 

• Setiap orang yang memperdagangkan narkotika, seperti ganja (hashis), heroin, dan sejenisnya, dianggap sebagai tindak kejahatan. Pelakunya akan dikenakan sanksi jilid dan penjara sampai 15 tahun, ditambah denda yang akan ditetapkan oleh qadhi.

• Setiap orang yang membeli, menjual, meracik, mengedarkan, menyimpan narkotika, maka ia akan dikenakan sanksi jilid dan dipenjara sampai 5 tahun, ditambah dengan denda lainnya yang lebih ringan.

• Setiap orang yang membuka tempat tersembunyi (terselubung), atau terang-terangan untuk memperdagangkan narkotika (obat-obat bius), maka ia akan dikenakan sanksi jilid dan penjara hingga 15 tahun.

Para ulama menyatakan bahwa hukuman bagi produsen dan pengedar narkoba yang menyebabkan kerusakan besar bagi agama dan masyarakat adalah hukuman mati, berdasarkan firman Allah SWT:

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 33)

Memproduksi dan mengedarkan narkoba serta menyelundupkannya di suatu negeri akan menyebabkan kerusakan sangat besar terhadap generasi negeri tersebut. Perbuatan seperti ini termasuk memerangi ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya, oleh karena itu hukumannya adalah dengan dibunuh berdasarkan ayat di atas. Terlebih lagi, Islam memerintahkan kepada umatnya untuk menjaga lima hal pokok dalam kehidupan manusia, yaitu agama, jiwa, akal, kehormatan dan harta, dengan seperangkat aturan yang saling terkait satu sama lain. Produsen dan gembong narkoba sesungguhnya dalam perbuatannya telah menghancurkan lima sendi tersebut. 

Menjadi sesuatu yang dapat diterima nalar yang sehat ketika seruan penerapan syariat Islam secara kaffah bergema di seluruh pelosok negeri. Karena hanya dengan Islam saja umat manusia akan mulia dan merasakan keadilan dan ketentraman dalam hidupnya. Wallahu A’lam bi Ashowwab.[MO/sg]


Posting Komentar