Gambar: Ilustrasi
Reza

Mediaoposisi.com-Narkoba kian akrab dengan kehidupan manusia. Termasuk, dalam kehidupan para pesohor yang menginginkan popularitas. Mereka harus melakukan segala hal untuk bisa membuat para penggemarnya terhibur dengan perform yang maksimal. Mereka bisa bernyanyi, bermain film, sinetron, tampil di panggung, bahkan melawak sekalipun.

Kasus tersebut, baru-baru ini dialami oleh beberapa artis. Diantaranya, Nunung alias Tri Retno Prayudati dan Jefri Nichol. Nunung diketahui mengonsumsi sabu-sabu dan ekstasi sejak 20 tahun lalu. Bahkan, polisi mendapati barang haram tersebut di bawah kloset. Saat ditemukan, polisi langsung mengamankan barang bukti tersebut berupa satu klip sabu seberat 0,36 gram, dua klip kecil bekas bungkus sabu, tiga batang sedotan plastik untuk menggunakan sabu (kompas.com).

Nunung dikenal sebagai seorang pelawak wanita di Grup Srimulat. Ia yang kelahiran Solo, 5 April 1964 ini, sudah bergabung di grup itu sejak 1986. ia juga membintangi beberapa film dan acara reality show seperti Si Doel Anak Sekolahan, Opera Van Java, dan Ini Talkshow. Ia selalu dikenal dengan lawakannya yang segar dan selalu memancing gelak tawa.

Nunung sempat dilarang oleh suaminya, Jan Sambiran, untuk menggunakan obat-obatan tersebut. Namun, tuntutan pekerjaan yang sangat berat dan penuh dengan jam tayang yang banyak membuat dirinya tidak lepas dari obat-obatan tersebut. Ia sempat menjalani rehabilitasi dan sempat berhenti karena beberapa temannya di Srimulat pernah mengonsumsi narkoba. Sebut saja Polo dan Almarhum Jojon. Kini, ia menyesali telah mengonsumsi narkoba setelah ditangkap oleh polisi.

Selain Nunung, baru-baru ini telah tertangkap kasus narkoba, Jefri Nichol. Ia dikenal sebagai artis muda pendatang baru. Nichol lahir di Jakarta, 15 Januari 1999 ini, pernah membintangi beberapa film seperti Dear Nathan, A: Aku, Benci, dan Cinta, dan yang terbaru dan segera rilis Habibie Ainun 3.

Jefri Nichol ditangkap di tempat tinggalnya di kawasan A Residence. Saat ditangkap, polisi menemukan ganja sebarat 6,01 gram. Saat ini, ia masih menjalani dalam pemeriksaan kepolisian Jakarta Selatan. Kasus ini dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Polisi Argo Yuwono. Saat dilakukan pemeriksaan, terdakwa terbukti positif menggunakan barang haram tersebut.

Sungguh miris adanya kasus narkoba tersebut. Artis yang harusnya dituntut untuk menghasilkan karya yang bisa dinikmati ternyata tersimpan sisi negatif di dalamnya. Narkoba, seakan menjadi teman hidup yang bisa memberi motivasi dan semangat hidup. Padahal, terdapat zat berbahaya yang dibalut dengan efek kecanduan. Ditambah, obat tersebut hanya bisa memberi efek kesenangan sesaat yang efek buruknya sampai pada overdosis.

Memang, usaha rehabilitasi belum sepenuhnya ampuh karena masih ada saja yang kecanduan setelah itu. Harus ada upaya maksimal dari pihak manapun untuk mencegah pengaruh buruk obat haram itu. Tidak hanya dari keluarga, guru, bahkan kepolisian. Namun, kesadaran rohani mereka harus terbangun agar bisa sepenuhnya menyadari efek buruk dari obat haram tersebut.

Asalnya, narkoba berasal dari tumbuh-tumbuhan yang difungsikan sebagai kesehatan. Obat ini dipakai para dokter untuk mengobati pasien contohnya penggunaan morfin yang sering digunakan dalam obat bius. Namun, peracikan itu dilakukan dengan pengawasan ketat supaya terhindar dari penyalahgunaan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.

Menurut doktersehat.com, terdapat beberapa efek buruk yang ditimbulkan oleh narkoba. Beberapa di antaranya menimbulkan kecanduan, menurunkan kesadaran, dehidrasi, kerusakan sel otak, meningkatkan resiko penyakit, merusak kehidupan sosial, meningkatkan toleransi obat, hingga berdampak pada kematian akibat overdosis. Berdasarkan definisinya, narkoba dibagi menjadi 3 macam diantaranya narkotika, psikotropika, dan zat adiktif.

Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif. Efek tersebut berdampak melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat. Akibatnya,terjadi perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Para dokter sering menggunakan obat ini untuk mengobati gangguan jiwa.

Menurut Islam, narkoba masuk dalam mufattirat (pembuat lemah) dan mukhaddirat (pembuat mati rasa). Tentu saja, dampak yang ditimbulkan menurut kesepakatan ulama itu bisa menimbulkan kerusakan saraf dan berbahaya bila digunakan dalam jumlah banyak. Narkoba juga dapat menimbulkan rusaknya kelima hal yang Islam benar-benar menjaganya seperti merusak agama, jiwa, akal, kehormatan, dan harta.

Para ulama sepakat haramnya mengkonsumsi narkoba ketika bukan dalam keadaan darurat. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Narkoba sama halnya dengan zat yang memabukkan, diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama. Bahkan setiap zat yang dapat menghilangkan akal, haram untuk dikonsumsi walau tidak memabukkan.” (Majmu’ Al Fatawa, 34: 204)

Tentu, harus ada tindakan pencegahan dari berbagai pihak termasuk peran pemerintah dalam membendung pengaruh buruk narkoba. Pemerintah harus mampu mencegah persebaran narkoba, baik oleh pengguna, penjual, kurir, peracik, maupun pengedar. Hal ini dilakukan agar jangan sampai ada lagi orang yang menjadi korban dimana beberapa diantaranya adalah sebagian besar generasi muda dan beberapa orang tua yang masih produktif. [MO/ms]

Posting Komentar