Oleh : Triana Nur Fausi
(Founder Komunitas Penulis Muslimah Peduli Umat Kota Malang)

Mediaoposisi.com-Saat ini demokrasi dianggap oleh sebagian besar masyarakat dunia sebagai model pemerintahan yang paling ideal untuk diterapkan. Menurut World Forum on Democracy, jumlah negara demokrasi elektoral mencapai 120 dari 192 negara di dunia dan mencakup 58,2% penduduk dunia. (www.wikipedia.com)

Demokrasi dipercaya oleh sebagian orang sebagai tatanan pemerintahan yang dapat mengantarkan masyarakat pada suatu keadilan dan kesejahteraan, maka tidak heran jika model pemerintahan demokrasi dianggap paling pas untuk masyarakat dunia, tidak ketinggalan juga masyarakat di negeri-negeri muslim juga mengadopsi demokrasi, termasuk juga Indonesia. Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia juga digadang-gadang sebagai negeri muslim yang paling demokratis. Namun benarkah demokrasi benar-benar mampu mengantarkan kepada keadilan dan kesejahteraan? Karena pasalnya di Indonesia sebagai penganut demokrasi nyatanya belum mampu menjadikan rakyatnya berada pada kondisi adil dan sejahtera. Sehingga pada akhirmya demokrasi menghasilkan ilusi keadilan dan juga kesejahteraan untuk rakyat. Beberapa ilusi dalam pemerintahan demokrasi diantaranya:

1. Ilusi terkait "Hukum Kehendak Rakyat"
Slogan demokrasi bahwa demokrasi daei rakyat - oleh rakyat - untuk rakyat seolah nampak indah namun pada perjalanannya justru menuai masalah. Yang menjadi pertanyaan mungkinkah seluruh rakyat terlibat dalam pembuatan hukum, sehingga hukum teesebut berasal sepenuhnya dari kehendak isi hati rakyat ?
Nyatanya yang terjadi adalah rakyat memilih partai, atas sebagian kecil rakyat mengusulkan sesuatu untuk dibuat undang-undang. Demikian juga di parlemen tidak semua terlibat dalam pembahasan suatu RUU. Sehingga pada akhirnya yang merumuskan RUU adalah orang-orang ahli hukum yang saat sudah menjadi rahasia umum kalau ahli hukum dilobi pihak-pigak tertentu yang mempunyai kepentingan.

Klaim bahwa demokrasi adalah hukun kehendak rakyat ternyata hanya ilusi yang melenakan rakyat. Andaikan memang benar demokrasi merupakan cerminan kehendak rakyat, maka muncul pertanyaan baru, apakah jika benar sesuai kehendak rakyat maka hukum dari demokrasi akan menyejahterakan?
Sebagai permisalan adalah bila disebuah negeri, seluruh rakyatnya menginginkan bahwa narkoba, miras, prostitusi di legalkan maka apakah kesejahteraan masih bisa dirasakan oleh seluruh lapisan rakyat? Tentu jawabannya adalah tidak, karena demokrasi sejati sudah cacat sejak kelahirannya.

2. Ilusi terkait "Pemimpin Pilihan Rakyat"
Banyak yang mengatakan jika demokrasi melahirkan pemimpin pilihan rakyat, namun pada perjalanannya klaim ini patut untuk dicermati.

Setidaknya ada 4 hal yang perlu dicermati diantaranya :
- Proses meraih kemenangan suara terbanyak
Bila disuatu negeri ketika suara rakyat jelata yang taraf pendidikannya tergolong biasa sama kuatnya dengan suara lawannya yang di dominasi politikus maka akan sangat mudah terjadi kecurangan..Hal ini dikarenakan dana dan stateginya tidak sekuat lawan politiknya.

- Pihak yang menang dan mendapat suara terbanyak tidak otomatis di dukung, apalagi jika pemenangnya adalah partai yang mengusung Syariah Islam dengan jalan demokrasi. Hal ini terjadi pada partai-partai Islam diantaranya FIS di Aljazair, partai Refah di Turki,lalu Ikhwanul Muslim yang setahun pemeruntahan Muhammad Mursi di gulingkankan oleh Jendral Al-Sisi.

- Ketiga, pemegang kekuasaan yang sejati adalah siapa yang mampu mengendalikan militer. Terkait pengendali ini bisa jadi bukan orang-orang yang duduk di kekuasaan namun bisa jadi adalah pihak asing yang hakikatnya mereka mempunyai kepentingan dan bisa membekukan konstitusi.

- Keempat, hambatan konstitusi. Di sebagian negara penganut demokrasi, sekelurisne adalah harga final yang tidak bisa ditawar dalam konstitusi. Maka segala upaya menggoyang sekulerisme adalah melanggar konstitusi. Tidakheran jika presiden bisa di makzulkan oleh Mahkamah Konstitusi jika mencoba menggoyang asas ini. Sehingga omong kosong jika presiden dalam demokrasi adalah pemimpin pilihan rakyat.

3. Ilusi Terkait "Demokrasi Berpihak untuk Rakyat"
Ketika seseorang telah duduk di kursi penguasa demokrasi maka segala persoalan akan muncul. Ketika prnguasa tersebut hendak menentulan undang-undang maka jelas akan di monitoring oleh lembaga-lembaga internasional. Misal penguasa tersebut hendak membuat undang-undang yang membela rakyat seperti menolak riba pada bank-bank konvensional dan juga menolak membayar bunga kepada IMF karena termasuk riba, maka bisa jadi undang-undang seperti ini akan di sentil oleh bank-bank atau IMF.

Demikian juga mengenai undang-undang SDA, nyatanya undang-undang SDA kita malah memberikan ruang bagi investor asing untuk menguasainya sedangkan rakyat harus terlunta-lunta dan hanya menjadi buruh kasarnya. Sehingga klaim keberpihakan kepada rakyat adalah ilusi semata. Sungguh telah terlihat bahwa demokrasi penuh ilusi dan tidak bisa menyejahterakan masyarakat karena dalam demokrasi kesejahteraan hanya ada di orang-prang yang punya kendali yaitu para kapitalis.

Masyarakat Adil Sejahtera Dengan Islam
Sungguh kesejahteraan dan keadilan pernah dirasakan umat manusia ketika umat tersebut mengadopsi hukum Islam semata. Sejarah mencatat bahwa ketika syariah Islam diterapkan oleh sebuah negara (Khilafah) maka kesejhateraan bukan ilusi semata. Melansir dari media umat, bahwa kesejahteraan di era khilafah diantaranya :

- Pendidikan
Dalam bidang pendidikan, khilafah Islam sangat memperhatikan agar rakyatnya cerdas. Anak-anak dari semua kelas sosial mengunjungi pendidikan dasar yang terjangkau semua orang. Negaralah membayar para gurunya. Selain 80 sekolah umum Cordoba yang didirikan Khalifah Al-Hakam II pada 965 M, masih ada 27 sekolah khusus anak-anak miskin. Di Kairo, Al-Mansur Qalawun mendirikan sekolah anak yatim. Dia juga menganggarkan setiap hari ransum makanan yang cukup serta satu stel baju untuk musim dingin dan satu stel baju untuk musim panas.Bahkan untuk orang-orang badui yang berpindah-pindah, dikirim guru yang juga siap berpindah-pindah mengikuti tempat tinggal muridnya.

- Kesehatan
Dalam bidang kesehatan, pada kurun abad 9-10 M, Qusta ibn Luqa, ar-Razi, Ibn al-Jazzar dan al-Masihi membangun sistem pengelolaan sampah perkotaan, yang sebelumnya hanya diserahkan pada kesadaran masing-masing orang, yang di perkotaan padat penduduk akan menciptakan kota yang kumuh. Kebersihan kota menjadi salah satu modal sehat selain kesadaran sehat karena pendidikan. Tenaga kesehatan secara teratur diuji kompetensinya. Dokter Kekhalifahan menguji setiap tabib agar mereka hanya mengobati sesuai dengan pendidikan atau keahliannya. Mereka harus diperankan sebagai konsultan kesehatan dan bukan orang yang sok mampu mengatasi segala penyakit. Ini adalah sisi hulu untuk mencegah penyakit sehingga beban sisi hilir dalam pengobatan jauh lebih ringan.

- Pertanian
   Dalam bidang pertanian, dikenal dengan ‘revolusi pertanian Muslim’ yang menyinergikan semua teknologi baik cuaca, peralatan untuk mempersiapkan lahan, teknologi irigasi, pemupukan, pengendalian hama, teknologi pengolahan pasca panen hingga manajemen perusahaan pertanian.

- Industri
Dalam bidang industri, khilafah ternyata memiliki spektrum yang sangat luas. Donald R. Hill dalam bukunya, Islamic Technology: an Illustrated History (Unesco & The Press Syndicate of the University of Cambridge, 1986), membuat sebuah daftar yang lumayan panjang dari industri yang pernah ada dalam sejarah Islam; mulai dari industri mesin, bahan bangunan, persenjataan, perkapalan, kimia, tekstil, kertas, kulit, pangan hingga pertambangan dan metalurgi. Dan masih banyak kesejahteraan yang dirasakan umat pada masa Khilafah Islamiyah.

Sungguh jika cermati kesejahteraan ini sesungguhnya adalah karena aturan/undang-unsang yamg dibuat dalam Khilafah adalah undang-undang dari Allah Swt yangmngetahui baij buruknya untuk mamusia. Sehingga aturan dalam Khilafah mampu menyejahterakan dan mampu memberi keadilan. Sungguh jika kita ingin mulia dan sejahtera tidak ada cara lain kecuali dengan menerapkan Syariat Islam dalam institusi Khilafah, serta membuang demokrasi yang penuh dengan Ilusi. Mari kita bersama-sama untuk berjuang menegakkan Islam sehingga rahmatan lil alamin segera terwujud.[MO/sg]




Posting Komentar