Oleh: Anisa Rahmi Tania 
(Aktivis Muslimah)

Mediaoposisi.com-Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menilai internet di Indonesia belum layak anak karena masih ada iklan rokok yang mudah diakses dan dilihat anak-anak.

"Sebagai contoh, salah satu indikator Kabupaten/Kota Layak Anak adalah tidak ada iklan, promosi, dan sponsor rokok. Bila masih ada iklan rokok, berarti internet di Indonesia belum layak anak," kata Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lenny N.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyatakan keseriusan pemerintah memblokir iklan rokok di kanal-kanal media sosial guna mencegah peningkatan jumlah perokok pemula yang menyasar anak-anak. "Sudah 114 yang ditutup, tapi harus kerja sama dengan Kemenkes. Nanti kita akan lanjutkan," kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (18/6).

Menurut dia, saat ini belum ada regulasi mengenai pembatasan iklan rokok di media sosial. Tim dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Komunikasi dan Informatika sedang membahas terkait dengan regulasi tersebut.

Kekhawatiran dari KPPPA tersebut sangatlah wajar karena kondisi generasi muda saat ini, khususnya generasi usia sekolah dasar hingga menengah atas, memang sangat meresahkan. Namun, agaknya tidaklah cukup jika kekhawatiran itu hanya dilihat dari sisi konten iklan rokok di media internet yang kerap kali terlihat anak saat mengakses internet. Karena masih sangat banyak konten lainnya yang tak kalah berbahaya bagi kelangsungan generasi.

Sebutlah konten pornografi, free seks, narkoba, ide2 menyesatkan seperti sekulerisme, liberalisme, budaya2 barat yang dibawa oleh para selebriti baik lokal maupun mancanegara, dll. Sehingga tak cukup jika internet layak anak hanya distandarisasi dengan ada atau tidaknya konten iklan. Bukankah negeri ini pun telah banyak me-list kasus2 luar biasa dari permasalahan generasi muda.

Sebagaimana di tahun 2018 dilansir dari ANTARA News, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Sitti Hikmawatty sempat meminta setiap pihak terkait untuk memperketat akses internet bagi anak seiring temuan Kementerian Kesehatan mengenai tingkat keterpaparan siswa sekolah dasar terhadap pornografi sebesar 91,58 persen.

Data hasil penyaringan anak sekolah dasar Kemenkes pada akhir tahun 2017 dan dipublikasikan pada Maret 2018 itu menguji enam ribu sampel. Dari skrining itu 6,30 persen sudah mengalami adiksi pornografi ringan dan 0,07 persen mengalami adiksi berat.

Jelas, iklan rokok bukanlah satu-satunya hal yang cukup dijadikan standar untuk menjadikan internet layak anak. Karena konten2 lainnya memiliki keberbahayaan yang jauh lebih butuh penanganan.

Akan tetapi, penanganan terhadap berbagai kasus anak yang bersumber dari internet tidak akan mudah dilakukan jika negara ini masih menganut sistem sekulerisme-liberal. Sistem ini yang membangun paradigma memisahkan agama dalam kehidupan dan membebaskan siapapun dalam bertindak, berbicara. Bahkan negara penganutnya menjamin segala bentuk kebebasan tersebut sebagai bagian dari hak asasi manusia.

Maka wajar jika banyak generasi muda yang berperilaku seenaknya sendiri dengan motonya 'yang penting happy'. Begitupun cara pandang kehidupannya yang sempit dan hedonis. Lebih mendahulukan hura2, senang2, ketika menemui permasalahan tak bisa mengatasi akhirnya depresi, stress dan tak jarang yang bunuh diri. Padahal permasalahan yang dihadapi pun hanya masalah sepele.

Konten2 sipilis (sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme) inilah yang membentuk pola pikir dan pola sikap generasi muda saat ini menjadi generasi 'cemen' dan emosional. Bukankah hal seperti ini banyak bertebaran di dunia Maya dan sangat berbahaya bagi generasi? Lantas apa upaya negara untuk memberantasnya? Nothing.

Karena memang sistem inilah yang masih nyaman dimainkan penguasa. Tentulah internet mustahil akan bersih dari konten2 tersebut. Maka laksana mimpi di siang bolong, internet layak anak bahkan dewasa bisa terwujud selama sistem ini tetap diterapkan.

Hal ini jauh berbeda dengan penjagaan yang dilakukan dalam negara Khilafah yang menerapkan sistem Islam. Islam senantiasa menjadikan Al-Qur'an dan hadis sebagai landasan peraturan sekaligus penyelesai setiap permasalahan baik kecil maupun besar.

Nabi SAW mengajarkan, “Muru auladakum bi as-shalati wa hum abna’ sab’in.” [Ajarkanlah kepada anak-anakmu shalat, ketika mereka berusia tujuh tahun].

Dalam hadis tersebut tidaklah bermakna hanya cukup mengajarkan shalat pada anak. Shalat dalam Islam adalah miniatur kehidupan, mulai dari melatih kedisiplinan, kebersihan dan kesucian, kepemimpinan, hingga pergaulan.

Contohnya, dalam Islam tak bisa dikatakan shalat Dzuhur jika dilakukan pada waktu shubuh atau ashar, sehingga setiap muslim diwajibkan disiplin dalam ibadah. Sementara fokus hidupnya seorang muslim adalah untuk beribadah.

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).

Begitupun dalam pembelajaran untuk senantiasa menjaga kebersihan dan kesucian diri. Berawal dari pembelajaran tersebut, akan terlahir sosok generasi yang akan menjaga kehormatan dirinya yang akan senantiasa menjauhi perbuatan haram dan tercela serta selalu mengedepankan ketaqwaan kepada Allah. 

Begitupun dengan kepemimpinan yang hari ini minus pemahaman yang benar di kalangan generasi. Kepemimpinan menjadi pembelajaran utama yang diberikan kepada para generasi muda setelah akidah di dalam pendidikan negara khilafah.

Sementara pergaulan. Dalam hal ini Islam telah dengan tegas memisahkan kehidupan antara laki-laki dan perempuan. Sehingga permasalahan seperti free sex, pelecehan seksual, dll akan terhindarkan.

Untuk penggunaan internet sendiri Khilafah tidak akan 'galau' untuk menghapus atau memblokir konten2 yang tidak sesuai syariah. Karena Islam telah menegakkan aturan halal dan haram dengan tegas. Komitmennya tidak akan terganjal aliran pajak dari pabrik rokok atau perusahaan lain yang jelas mendatangkan mudhorot bagi umat.

Pusat perhatian Khilafah hanyalah menegakkan syariah Islam dengan adil, melahirkan generasi-generasi Rabbani yang siap menjadi pembela agamaNya. Khilafah juga senantiasa meriayah warga negaranya dengan penuh keikhlasan. Bukan untuk menimbang untung rugi materi atau harta kekayaan.

Demikian negara Khilafah dengan penerapan sistem Islam secara kaffah akan menjaga kelangsungan seluruh umat manusia bahkan alam dengan komprehensif. Karena Khilafah ditegakkan untuk mewujudkan keberkahan hidup dan menuai Rahmat dari sang pencipta.
Wallahu'alam bishawab[MO/vp]

Posting Komentar