Oleh : Al Azizy Revolusi

Mediaoposisi.com-Dua tahun lalu (19/07/2017), pemerintah Indonesia dengan resminya mencabut SK Badan Hukum Perkumpulan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sekaligus mengumumkan HTI sebagai sebuah ormas terlarang. HTI memang telah lama dijadikan sasaran oleh pemerintah Indonesia (untuk dibubarkan), khususnya setelah demonstrasi besar-besaran umat Islam tahun 2016 untuk menolak pemimpin kafir, Ahok, sebagai guberur DKI Jakarta.

HTI adalah ormas pertama yang dibubarkan setelah Presiden Indonesia, Joko Widodo pekan lalu menandatangani Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) yang memberi kuasa mutlak kepada pemerintah untuk membubarkan ormas-ormas yang dianggapnya bertentangan dengan Pancasila.

Beberapa hari lalu, pemerintah Indonesia akan mempidana eks anggota HTI yang mendakwahkan Khilafah melalui pernyataan yang dikeluarkan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanannya, Wiranto yang kembali mengundang perdebatan pro kontra di negeri umat Islam terbesar ini mengenai kedudukan eks anggota HTI.

Belum saja dilantik kabinet baru, rezim sekarang ini telah menunjukkan diri sebagai diktator atau lebih tepatnya, mereka telah mengeluarkan sifat kediktatoran yang selama ini disembunyikan. Dengan kata lain, rezim ini telah memperkenalkan dirinya yang sebenarnya kepada seluruh umat Islam, bukan saja di Indonesia.

Dengan mempidanakan HTI, rezim ini telah merusakkan diri mereka sendiri sebagai Muslim dan sebagai pemerintah. Padahal Keberadaan Hizbut Tahrir sebagai sebuah kelompok dakwah adalah karena mematuhi perintah Allah SWT di dalam al-Quran Surah Ali Imran ayat 104, dan semua aktivias yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir adalah aktivitas dakwah yang diwajibkan oleh Allah SWT. Dengan membubarkan Hizbut Tahrir dan mempidana segala aktivitasnya, maka sesungguhnya rezim ini telah menghalangi kewajiban dakwah tersebut dilaksanakan dan hal ini sudah pasti mengundang kemurkaan Allah SWT!

Apa yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir adalah untuk kebaikan Indonesia itu sendiri sebagai sebuah negeri Muslim. Baik Indonesia, Malaysia atau negeri Muslim mana pun, hanya akan baik apabila syariah Allah SWT ditegakkan secara kaffah di situ. Nah inilah yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir yakni berusaha menerapkan hukum Allah secara kaffah di bumi mana pun Hizbut Tahrir beraktivitas. Malah rezim semakin refresif, bahkan membubarkan sebuah ormas yang melakukan aktivitas untuk menegakkan syariah Allah!

Hizbut Tahrir sebagai sebuah kelompok dakwah, berusaha siang dan malam untuk menegakkan kembali Negara Khilafah al-Rasyidah ala minhaj nubuwwah dan mempersatukan kaum Muslimin di seluruh dunia di bawah satu negara dan satu bendera, sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat telah melakukannya. Jika ada yang menghalangi tugas yang wajib lagi mulia ini, mereka bukan saja sudah tidak punya malu kepada Allah dan kaum Mukminin, bahkan begitu berani melanggar perintah Allah yang mewajibkan kaum Muslimin bersatu di bawah satu kepimpinan dan satu negara.

Yang perlu diingat bahwa apa saja usaha yang anda lakukan untuk menghalangi dakwah Hizbut Tahrir tidak akan memperlambatkan penegakan syariah dan Khilafah walau sesaat pun. Sesungguhnya masa kekuasaan diktator sudah semakin tamat dan masa kembalinya Khilafah sudah semakin dekat. Maka apa yang rezim ini lakukan bukan saja sia-sia di dunia, malah menjadi pemberat azab di akhirat.

Berapa banyak diktator dan rezim di seluruh dunia yang jauh lebih zalim dan lebih kuat daripada rezim Jokowi, telah dihinakan dan dibinasakan oleh Allah SWT dengan kekuasaanNya, sebagaimana Allah SWT membinasakan Firaun dan pengikut-pengikutnya.

Sementara orang-orang beriman yang sabar, istiqamah dan meningkatkan lagi perjuangan mulia ini, tidak akan tergoyah sedikit pun. Bil khusus para aktivis HTI, kriminalisasi ini malah akan menguatkan lagi tekad dan usaha mereka ke arah penegakan syariah dan Khilafah. Sebab, semakin kuat ujian yang menimpa, justru akan menambahkan lagi keyakinan bahwa janji Allah itu semakin dekat. In syaa Allah.[MO/sg]

Posting Komentar