oleh: Dian Rauf
Aktivis Dakwah Kampus

Mediaoposisi.com-Kita tentu tidak asing dengan istilah kesetaraan gender yang beberapa kali disuarakan oleh kaum feminis yang merasa tidak adil dengan adanya perbedaan antara kaum pria dan wanita.
Faktor yang mendorong timbulnya gerakan Feminisme saat era pencerahan (enlightment) di Eropa adalah dimana mereka merasa ada pemasungan hak-hak mereka baik dalam bidang pekerjaan, sosial, politik, pendidikan, maupun ekonomi dan mempertanyakan kebebasan hak laki-laki yang cenderung menindas. Disamping itu juga adanya fundamentalisme dalam beragama yang lagi-lagi merugikan perempuan.
Secara umum yang menjadi momentum perjuangannya adalah: gender inequality, hak-hak perempuan, hak reproduksi, hak berpolitik, peran gender, identitas gender dan seksualitas. Gerakan feminisme adalah gerakan pembebasan perempuan dari: rasisme, stereotyping, seksisme, penindasan perempuan, dan phalogosentrisme. (LabibSyauqi.blogspot.com)
Tentu ide ini memiliki sejarah yang berakar dari gerakan perempuan barat yang didiskriminasi oleh doktrin gereja yang merendahkan kaum wanita di zaman pertengahan pada saat itu. Namun, yang menjadi perhatian adalah paradigma ini menjalar dan berkembang ke berbagai negara termasuk negara-negara muslim.
Dalam pertemuan Women’s Forum di New York pada tanggal 25 Juni 2019 yang diadakan oleh UN Women yang dikenal sebagai Entitas PBB Bagi Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan, merilis laporan tahunan “Kemajuan Perempuan Dunia 2019-2020: Keluarga di Dunia yang Berubah” (Progress of the World’s Women 2019-2020: Families in a Changing World).
Menurut laporan UN Women’s Executive Director (Direktur Eksekutif Wanita) PBB, Phumzile Mlambo-Ngcuka mengatakan steriotipe pandangan keluarga secara klasik tidak lagi cocok dengan kondisi dua pertiga keluarga di dunia ini. Keluarga yang menjadi tempat yang hangat, juga menjadi tempat kekerasan, dan pelecehan seksual bagi perempuan dan anak.

Sekarang ini, terdapat lebih dari 100 juta perempuan mandiri dimana 84 % diantaranya adalah orang tua tunggal atau single parent. Setiap harinya 137 wanita terbunuh oleh anggota keluarga di tahun 2017. Dan sekitar 1/3 istri dari negara-negara berkembang melaporkan sedikit atau tidak memiliki suara atas perawatan mereka.
Kondisi seperti ini sangat mengkhawatirkan bagi perempuan dan anak. Sehingga membuat wanita merasa tidak adil dan ikut dalam dominasi kesetaraan gender.
Faktanya, ketika paham kesetaraan gender ini diambil, malah menimbulkan permasalahan sosial baru. Perzinahan terjadi dimana-mana, penemuan alat kontrasepsi, dan dilegalkannya praktek aborsi, menjadikan perempuan barat terjerumus dalam pergaulan bebas tanpa takut resiko anak di luar pernikahan.
Tersibukkannya kaum wanita mengejar eksisrensi dalam karir, pada akhirnya menjauhkan fitrah atau naluri mereka dalam mengasuh keluarga sebagai istri dan ibu pencetak generasi gemilang.
Upaya barat untuk menghancurkan keluarga muslim dengan melibatkan mereka dalam  mewujudkan kesetaraan gender merupakan suatu stigma yang menjadi tujuan dalam perkembangan gerakan feminis yang berabad-abad telah digaungkan.

Padahal yang seharusnya menjadi fokus adalah bagaimana peran pemerintah dalam pengaturan tersebut, bukan malah merombak peran keluarga dengan ilusi kesetaraan gender.

Kekerasan dalam rumah tangga, perempuan, dan anak sebenarnya terjadi akibat kesalahan dalam mengambil pandangan hidup. Karena sistem sekuler kapitalis hari ini memandang kebahagiaan yaitu dari banyaknya materi dan kepuasan tubuh yang bisa diraih.

Maka wajar saja, ketika keluarga dalam kesulitan ekonomi perempuan dan anaklah yang menjadi korban. Perempuan dalam sistem kapitalistik tidak berharga ketika tidak menghasilkan keuntungan materi.

Sejak awal Islam telah mendudukkan posisi laki-laki dan perempuan dengan derajat yang sama. Mereka dibedakan berdasarkan fitrah yang telah diberikan oleh Allah SWT.
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا
“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. an-Nisa’:124)

Di dalam ranah publik pun Islam mewajibkan perempuan beramar ma’ruf nahi mungkar sama halnya dengan laki-laki. Islam tak pernah memberi pengekangan terhadap perempuan dalam perkara umum. Misalnya menuntut ilmu, mengajar, bekerja, dan sebagainya.

Islam membolehkan setiap muslimah bekerja dalam keahliannya, dengan syarat tidak melalaikan kewajiban sebagai istri yang taat kepada suami dan ibu sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, peran wanita baik dalam keluarga ataupun masyarakat merupakan peran yang sangat agung yang tidak sepantasnya untuk disepelekan.

Kesetaraan gender yang didengungkan oleh kaum barat, tidak lain adalah untuk menghancurkan pondasi keislaman seorang muslimah, sehingga ia meninggalkan kewajibannya sebagai seorang wanita sholeha. Inilah gambaran Khilafah Islam yang memuliakan dan melindungi perempuan melalui pelaksanaan syariat secara kaffah. Maka dari itu, untuk menyelesaikan segala problematika terkhusus bagi perempuan adalah dengan kembali pada hukum syariat Islam yang memposisikan kaum wanita dengan kemuliaan.[MO/sg]

Posting Komentar